Tidak semua luka dapat dilihat oleh mata. Ada luka yang terlihat secara fisik, tetapi ada pula luka yang muncul karena penolakan, kesepian, dan keterasingan. Seseorang dapat berada di tengah banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian. Seseorang dapat memiliki banyak teman, tetapi merasa tidak diterima. Kisah orang kusta dalam Matius 8:1–4 memperlihatkan seorang manusia yang bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga mengalami keterasingan. Kusta pada zaman Yesus membawa konsekuensi sosial dan keagamaan yang berat. Orang yang menderita penyakit tersebut harus hidup terpisah dan tidak dapat menikmati kehidupan normal bersama masyarakat.
Karena itu, ketika orang kusta tersebut datang kepada Yesus, sebenarnya ia sedang melakukan sesuatu yang berani. Ia menerobos batas sosial yang selama ini memisahkannya dari orang lain. Ia datang dan menyembah Yesus. Di sini kita melihat bahwa penderitaan tidak selalu membuat seseorang kehilangan iman. Justru penderitaan dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk mencari Tuhan lebih sungguh-sungguh. Orang kusta itu berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Ia tidak meminta sekadar pengobatan. Ia meminta pentahiran. Ia ingin dipulihkan secara utuh.
Yesus kemudian melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia mengulurkan tangan dan menjamahnya. Mengapa tindakan menjamah itu penting? Karena bagi orang yang selama ini hidup dalam keterasingan, sentuhan merupakan bahasa penerimaan. Yesus tidak hanya berkata bahwa Ia peduli. Ia menunjukkan kepedulian itu melalui tindakan. Bayangkan apa yang mungkin dirasakan orang tersebut ketika tangan Yesus menyentuh tubuhnya. Selama ini mungkin orang-orang menjauh ketika melihatnya. Mungkin ia terbiasa mendengar orang berkata, “Najis! Najis!” Namun, sekarang ada seseorang yang tidak menjauh darinya. Yesus menyentuhnya.
Kemudian Yesus berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Dalam seketika, orang itu mengalami pemulihan. Peristiwa ini memperlihatkan hati Kristus terhadap manusia yang tersingkir. Yesus tidak hanya datang kepada mereka yang dianggap berhasil, kuat, sehat, dan diterima masyarakat. Ia datang kepada mereka yang membutuhkan kasih karunia. Gereja sebagai tubuh Kristus perlu belajar dari sikap Yesus ini. Jangan sampai gereja menjadi tempat yang hanya nyaman bagi orang-orang yang “sudah baik”. Gereja seharusnya menjadi tempat di mana orang yang terluka dapat menemukan kasih, kebenaran, pemulihan, dan pengharapan. Namun, pemulihan Kristus bukan berarti membenarkan dosa. Sebaliknya, Ia memulihkan manusia supaya hidupnya dapat kembali berjalan dalam kehendak Allah.
Karena itu, kita juga perlu bertanya: siapakah orang-orang yang selama ini kita singkirkan? Mungkin ada seseorang yang pernah melakukan kesalahan. Mungkin ada anggota keluarga yang hubungannya dengan kita rusak. Mungkin ada teman yang kita hindari, orang di gereja yang kita anggap terlalu berbeda, atau seseorang yang kita nilai berdasarkan masa lalunya. Kristus memanggil kita untuk melihat manusia bukan hanya berdasarkan kegagalannya, tetapi berdasarkan kemungkinan pemulihan yang dapat dikerjakan oleh kasih karunia Allah. Ada orang yang tidak membutuhkan khotbah panjang terlebih dahulu. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, tidak menghakimi, dan mengatakan, “Saya tetap percaya bahwa Tuhan dapat memulihkan hidupmu.”
Kita tidak dapat menyembuhkan hati manusia dengan kekuatan sendiri, tetapi kita dapat menjadi alat kasih Kristus. Kisah ini menunjukkan bahwa kuasa Yesus bukan hanya kuasa untuk melakukan mukjizat. Kuasa-Nya adalah kuasa yang memulihkan martabat manusia. Kristus mampu menyentuh kehidupan yang dianggap tidak layak oleh dunia. Mungkin hari ini kita sendiri sedang merasa tersingkir. Jangan menyerah. Datanglah kepada Kristus. Dia tidak takut mendekati kehidupan yang rusak. Dia sanggup mengubah keadaan yang tampaknya tidak mungkin. Dan apabila kita sudah mengalami kasih karunia-Nya, janganlah kita kemudian menjadi orang yang menjauh dari mereka yang masih terluka. Biarlah hidup kita menjadi perpanjangan tangan Kristus bagi mereka.