Skip to content

Integritas Allah dan Tanggung Jawab Manusia

 

Dalam perjalanan iman, sering kali manusia mencari kambing hitam atas kegagalannya dalam menuruti firman Tuhan. Salah satu bentuk pelarian yang paling berbahaya adalah menuduh Allah sebagai penyebab atau biang kegagalan kita. Kita cenderung berpikir bahwa jika kita jatuh ke dalam dosa atau mengingini sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya, hal itu terjadi karena Allah membiarkannya atau bahkan merancangnya. Namun, teks Doa Bapa Kami yang menyebutkan “jauhkanlah kami dari yang jahat” dengan tegas memperingatkan kita agar tidak sekali-kali menuduh Allah sebagai penyebab munculnya keinginan sesat di dalam hati kita. Kita harus menyadari bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengarahkan keinginannya sendiri. Di sinilah letak ringkihnya hidup manusia: ketika Tuhan tidak mengendalikan kehendak kita secara paksa, hati kita menjadi begitu lentur dan mudah goyah. Oleh karena itu, tugas utama kita bukanlah menyalahkan keadaan, melainkan benar-benar menjinakkan dan mengarahkan hati dengan serius kepada kebenaran.

Rasul Yakobus menjelaskan dinamika pencobaan dengan sangat jernih dalam Yakobus 1:13. Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia tidak mencobai siapa pun dalam arti mengupayakan seseorang agar mengingini sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri karena ia diseret dan dipikat oleh hasrat-hasrat yang muncul dari dalam dirinya. Allah adalah Pribadi yang memiliki integritas sempurna; Ia tidak mungkin melanggar integritas-Nya sendiri dengan memaksa seseorang berbuat jahat atau membiarkan diri-Nya menjadi sumber dosa. Jika kita memahami bahwa kata “dosa” dalam bahasa aslinya adalah hamartia, yang berarti meleset dari sasaran, maka sasaran yang dimaksud adalah kehendak Allah. Tidak mungkin Allah memaksa seseorang untuk meleset dari sasaran yang telah Ia tetapkan sendiri.

Kesadaran akan integritas Allah ini membawa kita pada pengertian bahwa mengatakan “pencobaan ini datang dari Allah” adalah sebuah penghinaan terhadap karakter Sang Pencipta. Allah tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat baik, tetapi Ia juga tidak pernah memaksa atau membiarkan seseorang berbuat jahat melalui campur tangan aktif-Nya. Jika Allah memaksa kita, maka tanggung jawab moral manusia akan hilang. Sebaliknya, martabat manusia justru terletak pada kemampuan dan tanggung jawabnya untuk memilih tunduk pada kedaulatan Allah secara sukarela. Kita dipanggil untuk menjadi dewasa, menyadari bahwa setiap keinginan yang membuahkan dosa adalah hasil dari ego yang tidak dijinakkan, bukan karena skenario ilahi yang menjebak.

Oleh karena itu, marilah kita berhenti menyalahkan Allah atas kelemahan karakter atau kegagalan kita dalam menghadapi pencobaan. Sebaliknya, mari kita membangun kedekatan yang jujur dengan Bapa, memohon agar Roh Kudus membantu kita mendisiplinkan keinginan hati yang liar. Mengakui bahwa kesalahan ada pada kehendak kita sendiri adalah langkah pertama menuju pertobatan yang sejati dan pemulihan martabat. Jadikanlah setiap momen pencobaan sebagai kesempatan untuk melatih kehendak kita agar tetap lurus menuju sasaran, yaitu melakukan apa yang menyenangkan hati Bapa. Dengan menjaga integritas hati kita sebagaimana Allah menjaga integritas-Nya, kita sedang berjalan menuju kedewasaan rohani yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah yang setia dan bertanggung jawab sepenuhnya.