Skip to content

Memilih Dia di Tengah Pencobaan

 

Kalimat dalam Doa Bapa Kami yang tertuang dalam Matius 6:13, “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat,” sering kali menimbulkan kebingungan bagi banyak orang, terutama jika dibandingkan dengan peristiwa dalam Matius 4:1 yang menyatakan bahwa Yesus sendiri dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Mengapa kita meminta Allah untuk tidak membawa kita ke dalam pencobaan, sementara Sang Anak Allah sendiri mengalaminya atas tuntunan Roh? Jika kita meneliti bahasa aslinya, kata yang digunakan dalam kedua teks tersebut adalah sama, yaitu peirazo. Namun, melalui perbandingan ini, kita justru menemukan sebuah kebenaran fundamental yang harus dihayati oleh setiap anak Allah: pencobaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia di bumi, tetapi Allah tidak pernah memiliki tujuan untuk menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan.

Tuhan memang mengizinkan kita masuk ke dalam keadaan di mana kita dicobai, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita jatuh kepada keinginan-keinginan yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Dalam setiap pencobaan yang datang melanda, sebenarnya kita sedang berada di sebuah persimpangan ujian: apakah kita mau hanyut ke dalam kehendak pribadi yang didorong oleh ego, atau tetap teguh berdiri di dalam kedaulatan kehendak Allah? Melalui doa ini, kita sebenarnya sedang menerima panggilan untuk tidak menyeret diri kita sendiri kepada keinginan, keputusan, dan pilihan hidup yang berseberangan dengan pikiran Allah. Kita memohon perlindungan agar di tengah tarikan dunia yang begitu kuat, hati kita tetap terpaut pada instruksi-Nya.

Realitas kehidupan Kristen sejati adalah sebuah pergumulan harian yang tak kunjung usai untuk memilih antara dua otoritas: kehendak Allah atau kehendak diri sendiri. Kita harus menyadari dengan sangat jernih bahwa jika sesuatu itu murni merupakan “kehendak kita” yang didorong oleh ambisi daging dan pemuasan hawa nafsu, maka secara otomatis itu bukanlah kehendak Allah. Secara radikal, pengajaran ini mengingatkan kita bahwa tidak ada wilayah netral dalam peperangan rohani ini. Jika pikiran kita tidak diwarnai oleh pikiran Allah, maka pikiran tersebut sedang berada di bawah pengaruh si jahat. Di sinilah pentingnya kita senantiasa memohon pelepasan dari pengaruh jahat tersebut agar roh kita tetap murni.

Melalui Doa Bapa Kami, kita diingatkan bahwa tujuan hidup kita adalah melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, bukan apa yang menyenangkan diri kita sendiri. Selama kita masih bersikeras melakukan apa yang memuaskan ego tanpa memedulikan rencana Bapa, kita sebenarnya sedang melakukan pemberontakan yang halus, tetapi fatal. Pada saat itu, kita sedang mencoba menjadi “tuhan” atas hidup kita sendiri. Bahayanya, ketika seseorang sudah menjadi tuhan bagi dirinya sendiri, ia akan cenderung bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain yang lebih lemah. Inilah akar dari segala kejahatan yang merusak martabat manusia sebagai ciptaan ilahi.

Oleh karena itu, permohonan agar dilepaskan dari yang jahat adalah permohonan agar kita dimerdekakan dari belenggu kehendak diri yang liar. Kita meminta agar Allah menjaga seluruh lubuk hati dan pikiran kita supaya tetap tertuju pada kedaulatan-Nya yang kudus. Mari kita jalani hari ini dengan kesadaran penuh bahwa setiap ujian yang datang adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa Allah adalah satu-satunya Penguasa dalam hidup kita. Pilihlah kehendak-Nya di atas segala-galanya, maka Anda akan menemukan kemenangan serta damai sejahtera yang sejati, bahkan di tengah badai pencobaan dunia yang paling hebat sekalipun.