Skip to content

Di Antara Sahabat dan Musuh

 

Yakobus 4:4

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, barang siapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”

Pernyataan dalam Yakobus 4:4 bukan ditujukan kepada orang-orang di luar umat pilihan, melainkan kepada kedua belas suku di perantauan (Yakobus 1:1). Mereka adalah suku-suku yang dipilih Allah secara langsung menjadi umat-Nya. Namun, sepanjang sejarahnya, umat pilihan ini justru sering mendukakan hati Allah. Berulang kali Allah mendisiplinkan mereka melalui berbagai tekanan agar mereka sadar dan berbalik dari jalannya yang jahat. Sayangnya, kesadaran itu sering hanya berlangsung sesaat. Setelah keadaan membaik, mereka kembali kepada pola hidup yang lama. Karena itulah Yakobus menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak setia. Sebutan itu bukan tanpa alasan, tetapi lahir dari kenyataan yang terus berulang dalam kehidupan umat Allah.

Apa yang terjadi pada Israel sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang percaya masa kini. Kita yang telah ditebus oleh darah Kristus disebut sebagai umat pilihan dan umat kepunyaan Allah sendiri. 1 Petrus 2:9 berkata: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Namun, sering kali kehidupan kita masih mencerminkan kegelapan. Kekristenan hanya menjadi identitas atau status agama, bukan keberadaan yang nyata. Padahal, menjadi Kristen berarti hidup seperti Kristus hidup. Kehidupan-Nya seharusnya terlihat melalui cara berpikir, berbicara, dan bertindak setiap hari.

Menjadi Kristen seharusnya menghadirkan kembali kehidupan Kristus dalam seluruh aspek hidup. Orang lain semestinya dapat mendengar gema perkataan Kristus melalui perkataan kita dan melihat karakter Kristus melalui perbuatan kita. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Tidak sedikit orang Kristen hidup dengan pola pikir yang sama seperti dunia. Dunia yang tidak pernah mengenal rasa cukup. Dunia yang menganggap ketamakan sebagai sesuatu yang normal selama dibungkus dengan alasan antisipasi, jaga-jaga, investasi, atau mitigasi risiko. Keserakahan akhirnya tampak masuk akal karena dibungkus dengan berbagai argumentasi yang terdengar bijaksana. Ironisnya, pola hidup seperti ini juga telah masuk ke dalam tembok-tembok gereja.

Persahabatan dengan dunia sering kali tidak lagi dianggap berbahaya. Bahkan ada yang membenarkannya dengan kalimat, “Kita harus pakai hikmat.” Padahal, firman Tuhan menyatakan dengan sangat jelas bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Mengapa demikian? Karena dunia memiliki selera yang berbeda dengan Allah. Apa yang dianggap berharga oleh dunia sering kali justru ditolak oleh Allah. Cepat atau lambat, orang yang mengadopsi filosofi dunia akan berada dalam posisi yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena itu, keterikatan dengan dunia tidak boleh dianggap remeh. Inilah salah satu jebakan paling halus sekaligus paling mematikan yang digunakan oleh kuasa kegelapan.

Jika bersahabat dengan dunia, seseorang tidak akan pernah merasa cukup. Selalu ada rasa kurang. Kurang uang, kurang harta, kurang pengakuan, kurang kenyamanan, dan kurang berbagai hal lainnya. Sebaliknya, jika bersahabat dengan Allah, akan muncul rasa cukup dengan apa yang dimiliki saat ini. Pada dasarnya, masalah utama bukan terletak pada banyak atau sedikitnya kepemilikan, melainkan pada kondisi mental seseorang. Ada orang yang memiliki banyak tetapi tetap merasa kurang. Ada juga yang memiliki sedikit, tetapi hidup dengan damai dan penuh ucapan syukur. Ketika Tuhan menjadi sumber kebahagiaan, maka rasa cukup akan lahir dengan sendirinya.

Mazmur 37:25 berkata: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.” Janji ini mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan orang yang hidup benar di hadapan-Nya. Karena itu, tidak ada alasan untuk dikuasai kekhawatiran mengenai hari esok. Allah mengetahui setiap kebutuhan hidup dan sanggup memelihara umat-Nya. Yang perlu dilakukan adalah tetap hidup benar, hidup kudus, dan hidup suci di hadapan-Nya. Ketika hidup berkenan kepada Allah, pemeliharaan-Nya bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang dapat dialami setiap hari.