Skip to content

Secukupnya

 

Pada umumnya, manusia mengalami kesulitan untuk memaknai arti sebenarnya dari kata “cukup.” Di samping paradigma atau sudut pandang satu orang dengan orang lain yang bisa berbeda atau relatif, kata “cukup” itu juga bersifat progresif atau bergerak. Seseorang yang berpendapatan lima juta rupiah sebulan dapat dikatakan cukup atau tidak cukup, tergantung bagaimana ia memandang dan mengelolanya. Jika pengeluaran selalu disesuaikan dengan pendapatan, maka kesan cukup akan didapatkan. Namun, sering kali manusia terjebak dengan ungkapan “lebih besar pasak daripada tiang,” artinya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Dengan demikian, sampai kapan pun yang terjadi adalah ketidakcukupan.

Kekurangan itu bukan selalu tentang apa yang tidak dimiliki, tetapi sering kali berkaitan dengan persoalan mental. Inilah yang menjadi “musuh besar” dari kebercukupan, yakni merasa “kurang.” Padahal, ketika ditambah pun, belum tentu merasa cukup. Banyak orang hidup dalam kondisi yang sebenarnya berkecukupan, tetapi tetap merasa kekurangan. Bukan karena tidak memiliki, melainkan karena tidak pernah merasa memiliki cukup. Di sisi lain, rasa cukup juga bersifat progresif. Sepertinya manusia tidak bisa berhenti atau merasa puas pada satu titik kecukupan. Ia akan terus berkembang dan seperti “ketagihan.” Dengan pendapatan yang ada, ia sanggup membeli kendaraan roda dua. Setelah itu muncul keinginan berikutnya. Setelah satu kebutuhan terpenuhi, muncul kebutuhan lain yang sebenarnya adalah keinginan yang diberi nama kebutuhan. Akhirnya, tidak ada garis yang jelas antara keduanya.

Jika tidak bisa membeli secara tunai, maka barang itu dibeli dengan cara kredit atau cicilan. Sebenarnya, cara mencicil atau kredit merupakan bentuk pembelian yang terkesan dan cenderung “dipaksakan.” Memang ada keadaan tertentu yang membuat kredit menjadi pilihan yang bijaksana. Namun, tidak sedikit orang memaksakan pembelian sesuatu dengan cara mencicil demi memenuhi keinginan yang telah berubah menjadi gaya hidup. Yang dikejar bukan lagi kebutuhan, melainkan gengsi, kenyamanan, atau keinginan untuk memiliki lebih banyak. 1 Timotius 6:8–9 berkata, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” Nasihat ini terasa sederhana, tetapi justru sangat sulit dijalani. Sebab, dunia terus mengajarkan bahwa bahagia adalah memiliki lebih banyak, sedangkan firman Tuhan mengajarkan bahwa bahagia adalah merasa cukup.

Firman Tuhan ini diberikan agar orang percaya jangan sampai dijatuhkan oleh rasa ketidakcukupan. Allah tidak mungkin membiarkan orang-orang yang mengasihi-Nya hidup tanpa pemeliharaan-Nya. Seperti burung-burung di udara yang dipelihara-Nya, demikian juga kehidupan anak-anak-Nya. Namun, harus diakui bahwa kekuatan Mamon atau kekayaan telah meresap ke dalam hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan gereja. Tidak sedikit orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi diam-diam hidupnya digerakkan oleh uang.

Bagaimana caranya menghindari berbagai pencobaan yang dapat menjerat, menjatuhkan, mencelakakan, dan menenggelamkan manusia ke dalam kebinasaan? Hanya satu: cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Jangan menginginkan lebih dari apa yang dimiliki saat ini. Keinginan yang tidak terkendali akan berubah menjadi beban dan tekanan hidup. Bahkan, benih firman yang telah tertanam bertahun-tahun dapat menjadi kerdil dan mati karena hati lebih mencintai mamon daripada Tuhan. Pada titik itu, posisi Tuhan dalam hati mulai tergeser tanpa disadari.

Membangun kesadaran tentang bahaya ketidakcukupan bukan berarti menolak kemajuan atau memusuhi kekayaan. Jika Allah memandang seseorang sudah dewasa dan ada pekerjaan Tuhan yang harus dikerjakan, maka Dia sanggup mempercayakan kekayaan kepadanya. Sama seperti pisau yang berguna di tangan orang dewasa, tetapi berbahaya di tangan anak kecil, demikian pula kekayaan. Karena itu, jangan memburu kekayaan. Jika Allah memandang perlu dan percaya, maka Ia akan memberikan sesuai kapasitas yang dimiliki. Ketika kekayaan dipercayakan, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah, “Berapa banyak lagi yang bisa saya dapatkan?” melainkan, “Untuk apa Tuhan mempercayakan semua ini kepada saya?” Sebab, kekayaan yang diarahkan hanya untuk kepentingan diri sendiri dapat menjadi bahaya, tetapi kekayaan yang dipakai untuk pekerjaan Tuhan dapat menjadi alat yang menyelamatkan banyak jiwa.