Skip to content

Jangan Khawatir

 

Dalam kalangan kekristenan, kalimat nasihat berikut ini tampaknya menjadi umum dan mudah disampaikan, bahkan karena terlalu sering diucapkan dapat terdengar seperti kalimat basa-basi. Kalimat nasihat itu adalah, “Jangan khawatir.” Kalimat nasihat ini akan dilihat dari dua sisi, yakni dari pemberi dan penerima nasihat. Dari sisi pemberi nasihat, biasanya nasihat diberikan oleh orang-orang yang pernah mengalami dan melewati pengalaman-pengalaman tertentu. Dengan kepemilikan pengalaman tersebut, seseorang memiliki bahan untuk dibagikan kepada orang lain yang mengalami permasalahan yang sama. Biasanya, nasihat akan menjadi lebih kuat atau kokoh manakala pemberi nasihat yang mengalami peristiwa tersebut akhirnya mendapatkan solusi atau jalan keluar. Jadi, nasihat yang diberikan bukanlah berisi teori-teori, melainkan pengalaman empiris yang berhasil ia lalui.

Sisi yang lain adalah dari sudut pendengar. Terdapat beberapa sikap yang muncul ketika seseorang mendengar nasihat. Ada yang acuh, abai, atau sekadar mendengar. Ada yang dengan sikap hati dan mata yang menyelidik seraya memberi telinga untuk mendengar. Ada pula yang mendengarkan dengan cara yang baik. Injil Matius 6:34 berkata: “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Apa yang menjadi isi kepala kita saat ini ketika membaca atau mendengar nasihat firman Tuhan tersebut? Tentunya beragam. Ada yang mengabaikannya. Ada yang sekadar membaca atau mendengarnya sambil lalu. Ada yang berpikir sejenak. Ada juga yang membaca atau mendengarnya sambil membayangkan apa yang sedang ia alami.

Setiap insan di bumi pasti memiliki masalah. Dari bayi yang baru dilahirkan saja, ia sudah memiliki masalah. Masalah perawatan, makanan, dan minuman yang dikonsumsi, yang semuanya masih bergantung kepada orang tua. Remaja, pemuda, dewasa muda, sampai orang tua, pasti memiliki masalahnya masing-masing. Kekhawatiran adalah salah satu pengalaman paling universal dalam kehidupan manusia. Kekhawatiran tidak peduli pada jabatan seseorang, kekayaan, kejayaan, dan pencapaian prestasi lainnya. Ia akan menyerang dari berbagai sudut kehidupan manusia. Orang kaya saja bisa merasa khawatir, apalagi orang miskin. Orang kaya khawatir jika hartanya semakin berkurang atau tidak bertambah. Sedangkan orang miskin khawatir sampai kapan ia berada dalam keadaan seperti itu.

Kekhawatirannya sama. Pembedanya hanyalah orangnya sendiri, yaitu sikap, mental, dan karakternya. Kemiskinan itu bukan soal ketiadaan harta, melainkan soal mental. Ada orang kaya yang bermental kaya dan ada juga orang kaya yang bermental miskin. Sebaliknya, ada orang miskin yang bermental miskin, tetapi ada juga orang miskin yang bermental kaya.

Ketika Tuhan Yesus mengajarkan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” maka Ia sedang menawarkan sebuah paradigma atau cara berpikir yang radikal berbeda, yakni hiduplah sepenuhnya pada hari ini tanpa merasa terbebani oleh masa lalu dan kegelisahan tentang hari esok. Cara berpikir yang simple atau sederhana ini sebenarnya mudah, tetapi manusia mengubahnya menjadi kompleks dan njelimet. Sekhawatir-khawatirnya manusia terhadap sesuatu, ia tetap tidak dapat menghindari ataupun mengabaikannya; yang dapat ia lakukan hanyalah menghadapi setiap fenomena hidup yang datang dalam kehidupannya.

Kalimat, “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari,” mengandung makna yang dalam. Kesusahan kemarin, biarlah menjadi kesusahan kemarin. Kesusahan hari ini, biarlah menjadi kesusahan hari ini. Jangan sampai kesusahan kemarin ditambahkan kepada kesusahan hari ini, apalagi ditambah dengan ketakutan dan kekhawatiran akan hari esok. Kekhawatiran adalah kondisi jiwa yang berada dalam tekanan. Ia seperti air yang menutup hidung. Ia tidak memberikan ruang sedikit pun bagi kejernihan pikiran. Kondisi jiwanya terbagi-bagi, tidak utuh, terpenjara oleh peristiwa masa lalu yang disesali dan perasaan takut untuk menatap masa depan.

Tuhan Yesus tidak menyangkal bahwa masalah tidak dapat dihindari, apalagi ditolak. Manusia harus menghadapi setiap masalah yang datang dalam kehidupannya. Namun, ingatlah selalu bahwa kita tidak pernah menghadapi berbagai pergumulan hidup sendirian. Seperti Allah menyertai umat Israel dengan tiang awan dan tiang api, demikian pula dengan kehidupan orang-orang percaya masa kini. Allah hadir dalam Roh-Nya untuk mendampingi, menguatkan, dan mendidik agar menjadi sosok manusia yang berkenan kepada-Nya.