Skip to content

Apa yang Sesungguhnya Kita Minta?

 

Matius 6:11

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

Inilah permohonan yang paling sederhana dalam kalimat, tetapi menjadi kompleks dalam kenyataan. Pada umumnya, manusia menganggap bahwa kata “secukupnya” itu terbatas, sedikit, dan tidak menjawab kebutuhan; lebih tepatnya, tidak memenuhi keinginan. Manusia menyenangi segala hal yang berkuantifikasi banyak, seperti kepemilikan harta, relasi, keluarga, dan sebagainya. Dengan jumlah yang banyak itu, manusia merasa lengkap, tenang, dan dapat berbuat apa saja. Namun, yang terjadi adalah manusia tidak tahu di mana batas kepemilikan banyak itu atau di mana horizon kecukupan tersebut. Istilah banyak tidak mampu menjawab kecukupan manusia. Manusia tidak pernah merasa cukup di tengah kecukupan. Ini bukan sekadar sebuah ironi, tetapi anomali yang tidak dapat dihindari. Di dalamnya termasuk orang-orang percaya.

Ketika seseorang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, maka di sisi yang lain akan tercipta kebergantungan dan perasaan berbagi. Jika orang merasa berlebih, maka tidak tertutup kemungkinan ia akan bersikap jemawa dan menyampaikan bahasa tidak tertulis: “Saya sudah punya semua, saya tidak memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan saya.” Jika paradigma tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, maka bukan tidak mungkin pada suatu waktu akan meningkat eskalasinya menjadi: “Saya tidak butuh Tuhan.” Memang kalimat ini tidak terucap atau terlihat dalam perilaku. Namun, di dalam hati orang, “Siapa yang tahu?” Diam-diam ia merasa tidak butuh Tuhan karena merasa nyaman dan aman dengan apa yang dimilikinya. Hati-hati dengan hatimu dan jagalah dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan, juga kematian.

“Berikan kami pada hari ini …” adalah kalimat yang menunjukkan rasa cukup untuk hari ini. Ia tidak terbelenggu oleh kondisi dan kejadian hari kemarin. Bisa saja ia menghadapi kekurangan pada hari kemarin. Namun, ia hidup bukan untuk hari kemarin. Manusia hidup untuk hari ini, untuk saat ini. Di sini, kita melihat banyak orang yang terpenjara oleh masa lalu. Apa buktinya? Tidak sedikit orang terganggu oleh kehidupannya kemarin-kemarin. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah bisa merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimilikinya hari ini. Energinya terkuras untuk memikirkan hari-hari yang telah berlalu, yang sebenarnya tidak pernah kembali, apalagi terulang. “Berikan kami pada hari ini …” juga menunjukkan ketepatan dalam bersikap menghadapi hari esok. Ia menganggap hari esok untuk esok, hari ini untuk hari ini, dan hari kemarin sudah berlalu serta tidak perlu mengganggu. Inilah rasa kebergantungan yang “nikmat”, tanpa tekanan, apalagi ancaman. Ia akan memiliki fokus pada hari ini, saat ini, waktu yang sedang ia jalani. Orang-orang yang memiliki perspektif demikian akan memiliki jiwa yang sehat, dan pasti tubuh yang sehat juga.

“Makanan kami yang secukupnya.” Makanan menunjuk kepada sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk hidup, baik makanan maupun minuman. Makanan dan minuman masuk dalam kategori kebutuhan primer manusia atau kebutuhan utama. Tanpa makan dan minum, manusia tidak dapat melanjutkan eksistensinya. Namun, pada zaman modern, manusia dengan segala kebutuhannya berangsur-angsur berubah menjadi keinginan. Pada titik ini, manusia akan berada di persimpangan jalan antara keinginan dan kebutuhan. Itu masih baik karena masih memiliki paradigma untuk melihat dan memilih mana kebutuhan dan mana keinginan. Yang berbahaya adalah ketika seseorang tidak dapat lagi membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Kebutuhan dan keinginan telah melebur menjadi satu sehingga tidak lagi dapat dipisahkan. Inilah “makanan” yang bertransformasi menjadi “racun” yang mematikan. Ketika manusia mengejar apa yang sebenarnya merupakan keinginan, bukan kebutuhan, maka manusia akan menjadi budak atas keinginannya sendiri. Ia sudah tidak lagi mengenal apa arti kata cukup bagi kehidupannya. Keluarlah dari pola pikir demikian.