Skip to content

Rancangan Allah

 

Kejadian 2:15

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Banyak orang memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang melelahkan, bahkan sebagai kutukan akibat dosa. Tidak sedikit yang menganggap bahwa kehidupan ideal adalah hidup tanpa bekerja—memiliki semua yang dibutuhkan tanpa harus bersusah payah. Dalam pandangan seperti ini, bekerja hanyalah sarana untuk memperoleh uang, sedangkan ibadah adalah aktivitas rohani yang dilakukan di gereja. Akibatnya, pekerjaan dan ibadah ditempatkan dalam dua dunia yang berbeda. Namun, Alkitab memberikan perspektif yang sangat berbeda. Jauh sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Allah sudah memberikan pekerjaan kepada Adam. Ketika menempatkannya di Taman Eden, Allah memerintahkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Perintah ini diberikan ketika dunia masih sempurna, belum ada kutuk, penderitaan, dan dosa. Dengan demikian, bekerja bukanlah akibat kejatuhan manusia, melainkan bagian dari rancangan Allah sejak semula.

Kata “mengusahakan” dalam Kejadian 2:15 diterjemahkan dari kata Ibrani ‘avad (עָבַד), yang berarti bekerja, melayani, atau mengerjakan sesuatu. Dari kata yang sama lahir kata ‘avodah (עֲבֹדָה), yang berarti “pekerjaan,” tetapi juga “ibadah” atau “pelayanan kepada Allah.” Dalam Keluaran 12:25, misalnya, kata ini dipakai untuk menggambarkan ibadah Paskah yang harus dipelihara oleh bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa dalam cara pandang Alkitab, bekerja dan beribadah bukanlah dua hal yang terpisah. Bekerja adalah bentuk pelayanan kepada Allah ketika dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, cara pandang terhadap pekerjaan berubah. Pekerjaan mulai dianggap hanya sebagai kewajiban yang berat atau alat untuk mencari nafkah, sedangkan ibadah dipahami sebatas berdoa, bernyanyi, dan menghadiri kebaktian. Padahal, kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan antara yang rohani dan yang jasmani. Seluruh hidup adalah milik Tuhan, termasuk pekerjaan kita setiap hari. Allah sendiri adalah Pribadi yang bekerja. Kitab Kejadian dimulai dengan gambaran tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh hikmat, keteraturan, dan kreativitas. Setelah menciptakan dunia, Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya, tetapi terus memelihara, menopang, dan mengatur seluruh alam semesta. Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bekerja menjadi bagian dari identitas manusia. Melalui karya, kreativitas, tanggung jawab, dan pengelolaan ciptaan, manusia dipanggil untuk mencerminkan karakter Penciptanya.

Melalui pekerjaan, manusia diajak menjadi rekan sekerja Allah dalam mengembangkan dunia yang telah Ia ciptakan. Allah menyediakan bahan mentah, sedangkan manusia dipanggil untuk mengolahnya. Pohon diolah menjadi rumah, kapas menjadi pakaian, tanah digarap menjadi ladang, ide dikembangkan menjadi teknologi, dan pengetahuan dipakai untuk menolong kehidupan manusia. Semua itu merupakan bagian dari mandat budaya yang Allah berikan sejak awal. Karena itu, bekerja bukan sekadar menghasilkan sesuatu, tetapi juga menghadirkan keteraturan, keindahan, dan kesejahteraan bagi dunia. Setiap profesi yang dilakukan dengan jujur memiliki nilai yang mulia di hadapan Allah. Petani yang mengolah sawah dengan tekun, guru yang mendidik dengan kasih, dokter yang merawat pasien dengan sepenuh hati, pegawai yang bekerja dengan integritas, atau ibu yang mengelola rumah tangga dengan setia—semuanya sedang menjalankan panggilan ilahi apabila dilakukan untuk kemuliaan Tuhan.

Kesadaran ini mengubah cara kita memandang pekerjaan. Kita tidak lagi bekerja hanya demi gaji, jabatan, atau pengakuan manusia, melainkan untuk memuliakan Allah melalui kesetiaan dalam mengerjakan apa yang telah dipercayakan-Nya. Ketika menghadapi tekanan, target, konflik, kelelahan, dan kekecewaan, kita pun tidak mudah kehilangan semangat. Jika bekerja adalah ibadah, setiap tantangan menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam kesabaran, kejujuran, ketekunan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Alkitab juga memberi pengharapan bahwa pekerjaan bukanlah sesuatu yang hanya berlaku di dunia sekarang. Di langit dan bumi yang baru, umat Allah tetap akan melayani Dia dan mengambil bagian dalam pemerintahan-Nya. Kreativitas, tanggung jawab, dan pelayanan akan terus menjadi bagian dari kehidupan umat Allah dalam kekekalan. Pekerjaan yang kita lakukan hari ini menjadi latihan untuk kesetiaan yang lebih besar dalam Kerajaan Allah.

Karena itu, jangan pernah meremehkan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Dunia mungkin mengukur pekerjaan berdasarkan besar kecilnya penghasilan atau tinggi rendahnya jabatan. Namun, Allah mengukurnya berdasarkan kesetiaan, integritas, dan motivasi hati. Di mata Tuhan, pekerjaan yang sederhana sekalipun dapat menjadi ibadah yang harum apabila dilakukan dengan kasih dan ketaatan. Hari ini, marilah kita memperbarui cara pandang kita. Ketika kita berangkat ke kantor, mengajar di kelas, mengelola usaha, bertani, berdagang, mengurus rumah tangga, atau melakukan pekerjaan apa pun, kita sedang datang ke “altar” tempat kita menyembah Allah melalui kerja yang setia. Pekerjaan bukanlah penghalang untuk beribadah. Justru di sanalah ibadah diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Kiranya setiap hari kita dapat berkata, “Tuhan, hari ini aku bekerja bukan hanya untuk manusia atau untuk memperoleh penghasilan, tetapi untuk memuliakan nama-Mu.” Dengan demikian, pekerjaan kita menjadi persembahan yang hidup bagi Allah dan kesaksian yang nyata bagi dunia.