Saudaraku,
Manusia mengecewakan Allah karena tidak memuaskan keinginan-Nya. Kehidupan yang dimiliki manusia menjadi tidak sesuai dengan rancangan semula. Kehidupan yang dirancang Tuhan untuk dikenakan manusia telah rusak. Sekarang dalam Tuhan Yesus, orang percaya diajar untuk menemukan kehidupan ideal yang dirancang Tuhan tersebut. Kehidupan yang ideal yang dirancang Allah tersebut hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang hidup pada zaman Perjanjian Baru, sebab Tuhan Yesus datang memberi terang untuk memahami kehendak Allah (Yoh. 1:4). Di dalam diri Tuhan Yesus, terang itu menunjuk kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Berjalan atau hidup dalam terang artinya memahami kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Kalau kehidupan yang dikehendaki oleh Allah hanya cukup dengan aturan agama, maka Tuhan Yesus tidak perlu datang sebagai terang. Orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup seperti yang Tuhan Yesus peragakan.
Perumpamaan talenta yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 25:14-30, hendak menunjuk tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya, yaitu anugerah benih Ilahi dan segala kemungkinan untuk mengembangkannya, termasuk waktu sebagai sarananya, agar kita bisa mengenakan kodrat ilahi (mampu berpikir dan berperasaan seperti Kristus atau memiliki pikiran dan perasaan Kristus). Hal ini dimaksudkan agar umat pilihan mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Dengan demikian umat pilihan menjadi pribadi yang melakukan kehendak Allah seperti Tuhan Yesus Kristus. Inilah target yang harus dicapai. Adalah sangat keliru kalau talenta hanya dipahami sebagai bakat. Apa artinya bakat yang dikembangkan, kalau ternyata hanya untuk kepentingan diri sendiri? Bakat diberikan kepada semua orang, tetapi benih Ilahi dan segala kemungkinan untuk mengembangkannya hanya diberikan kepada umat pilihan (Rm. 8:28).
Dalam hal ini umat pilihan memiliki tanggung jawab yang sangat berat. Perjalanan hidup sebagai umat pilihan lebih berat dibanding mereka yang tidak menjadi umat pilihan, sebab umat pilihan ditarget atau memiliki goal mengenakan kodrat ilahi. Hal ini melayakkan orang percaya menjadi umat pilihan. Dalam zaman Perjanjian Baru, menjadi manusia pilihan artinya menjadi makhluk yang dilayakkan sebagai manusia seperti yang Tuhan kehendaki sejak semula. Manusia yang Allah kehendaki adalah manusia yang melakukan kehendak Bapa. Ini sama dengan manusia Allah (1Tim. 6:11). Mengapa pada zaman Perjanjian Baru? Sebab hanya pada zaman Injil diberitakan dan adanya penebusan oleh darah Tuhan Yesus Kristus, baru ada kemungkinan manusia dapat diproses menjadi manusia rancangan semula.
Jadi manusia pilihan artinya adalah manusia yang sesuai dengan rancangan Penciptanya atau manusia surgawi. Manusia pilihan adalah manusia yang memiliki keberadaan luar biasa yang berbeda dengan manusia yang tidak terpilih. Kalau seseorang mengaku sebagai umat pilihan tetapi tidak memiliki keberadaan yang luar biasa, berarti ia menipu dirinya sendiri. Tuhan Yesus adalah manusia pilihan yang menjadi teladan atau contoh bagi kita semua. Orang yang mengaku sebagai umat pilihan akan terus semakin bertumbuh menjadi seperti Tuhan Yesus.
Tuhan tidak pernah berniat menjadikan makhluk setengah baik, tetapi Tuhan menghendaki makhluk yang sangat baik. Apalagi manusia adalah ciptaan-Nya. Itulah sebabnya Tuhan menyediakan sarana guna penyelamatannya. Sarana yang disediakan itu cuma-cuma, itulah yang disebut “anugerah.” Disebut anugerah sebab pemberian ini adalah pemberian yang sangat mahal. Anugerah itu menjadi berharga ketika cara kita menerima anugerah melalui suatu perjuangan nyata untuk perubahannya. Dalam hal ini respons manusia dalam menerima penggarapan Tuhan sangat penting.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Kalau seseorang mengaku sebagai umat pilihan tetapi tidak memiliki keberadaan yang luar biasa, berarti ia menipu dirinya sendiri.