Mazmur 73:25–26
“Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”
Dalam perjalanan kehidupan Kekristenan pada zaman sekarang, kita harus selalu meningkatkan kesadaran dan kebutuhan yang sangat kuat akan tuntunan Tuhan. Jangan sampai ketika sudah berada dalam keadaan terancam, bahaya, dan kritis, barulah kita merasa terdesak dan sangat membutuhkan Tuhan. Justru ketika keadaan masih aman dan tenteram, saat seakan-akan kita bisa berjalan sendiri tanpa pertolongan Tuhan, kita tetap perlu mencari Dia. Hal itu membuktikan bahwa kita sungguh membutuhkan-Nya.
Orang yang mencari Tuhan dan merasa membutuhkan Tuhan hanya pada saat berada dalam bahaya atau krisis sesungguhnya memperlakukan Tuhan secara tidak pantas. Ia menjadikan Tuhan hanya sebagai tempat pelarian. Hal itu menandakan bahwa orang tersebut tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan di dalam hidupnya, melainkan hanya ingin lepas dari permasalahan yang dihadapinya. Dengan kata lain, orang yang datang kepada Tuhan karena menghadapi masalah sebetulnya memberhalakan masalah itu. Demikian pula, orang yang datang kepada Tuhan hanya demi memperoleh sesuatu sesungguhnya sedang menempatkan kebutuhannya lebih tinggi daripada Pribadi Tuhan sendiri. Sebaliknya, anak-anak Allah yang dewasa akan memiliki kerinduan yang terus-menerus untuk hidup dekat dengan Tuhan. Ketergantungan kepada Allah bukanlah sesuatu yang muncul sesekali, melainkan menjadi irama kehidupan setiap hari.
Ada beberapa ciri orang yang hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan. Pertama, ketika menghadapi persoalan, ia tetap datang dan berseru kepada Tuhan, tetapi bukan karena panik atau putus asa. Ia berdoa dengan hati yang tenang karena telah mengenal pemeliharaan Allah yang setia. Ia percaya bahwa sebelum ia meminta pun, Bapa di surga telah mengetahui segala kebutuhannya (Matius 6:8). Dalam hal ini, doa yang diucapkannya lahir dari hubungan yang intim, bukan sekadar karena keadaan yang mendesak. Kedua, apabila suatu hari ia berada di ambang kematian, ia tidak dipenuhi penyesalan karena merasa belum mulai hidup bagi Tuhan. Ia telah mempersembahkan hidupnya setiap hari bagi Allah. Jika Tuhan masih memberikan waktu, itu adalah kesempatan untuk terus memuliakan-Nya. Jika Tuhan memanggilnya pulang, ia siap karena hidupnya telah dijalani dalam kesetiaan.
Karena itu, ketika Tuhan Yesus mengajarkan kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11), doa tersebut bukan sekadar permohonan akan kebutuhan jasmani. Doa itu mengajarkan bahwa setiap hari kita hidup dalam ketergantungan kepada Bapa. Kita mengakui bahwa setiap napas, setiap berkat, dan setiap hari yang kita jalani adalah pemberian anugerah-Nya. Allah membuka tangan-Nya untuk memelihara, membimbing, dan memeluk setiap anak-Nya. Betapa besar kasih karunia itu. Jangan sampai kita menyia-nyiakan undangan-Nya untuk hidup dekat dengan-Nya. Sebab kesempatan untuk mengenal Tuhan adalah anugerah yang tidak ternilai harganya.
Marilah kita menjadikan kebutuhan akan Allah sebagai irama kehidupan setiap hari. Jangan biarkan ada satu hari pun berlalu tanpa persekutuan yang sungguh-sungguh dengan-Nya. Ketika hubungan kita dengan Tuhan terus dipelihara, kita akan semakin memahami bahwa tujuan utama kita datang kepada-Nya bukanlah sekadar memperoleh berkat, pertolongan, atau pemenuhan kebutuhan, melainkan menikmati Pribadi-Nya sendiri sebagai sumber kehidupan.