Matius 6:10
“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Dengan mengatakan, “Jadilah kehendak-Mu,” perlu perenungan dan kerelaan untuk menerima segala konsekuensinya, yaitu bahwa Allah yang kita sembah adalah Pribadi yang memiliki kehendak. Sering kali dalam perjalanan rohani kita, tanpa sadar kita menempatkan diri sebagai pusat dari hubungan dengan Sang Pencipta. Ketika kita datang menghadap Tuhan, kecenderungan alami kita adalah berusaha sekuat tenaga agar Tuhan memahami kehendak kita, mengabulkan permohonan kita, dan memedulikan kepentingan kita. Namun, ironisnya, kita sering kali kurang—atau bahkan sama sekali tidak mau—memedulikan apa yang menjadi kehendak-Nya. Kita terjebak dalam pemikiran bahwa karena Tuhan itu Mahasegalanya, maka Dia tidak membutuhkan apa pun dari kita. Anggapan ini kemudian menjadi pembenaran bagi kita untuk bersikap acuh tak acuh terhadap keinginan hati-Nya, sementara kita terus menuntut agar kehendak kita menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan oleh-Nya.
Kita perlu menyadari bahwa jika Bapa di surga memiliki kehendak, maka Dia bukanlah sekadar tenaga aktif atau mesin pengabul doa semata. Dia adalah Pribadi yang memiliki rencana, gagasan, dan tujuan-tujuan yang mulia. Sejak awal dalam kitab Kejadian, Allah ditampilkan sebagai Sosok yang penuh inspirasi dan prakarsa dalam menciptakan alam semesta. Sebagai Pribadi yang memiliki gagasan, Dia berkehendak untuk mewujudkan setiap rencana-Nya di dalam sejarah manusia. Di sinilah letak tanggung jawab kita sebagai anak-anak-Nya. Di tengah sepotong waktu yang kita miliki dari sepanjang sejarah dunia ini, kita harus mulai mempersoalkan apa yang sebenarnya menjadi keinginan Tuhan, tujuan-tujuan-Nya, dan rencana-rencana-Nya bagi generasi kita saat ini.
Sikap ini penting agar kita tidak sekadar menjadi penonton dalam rencana ilahi, melainkan boleh terlibat secara aktif. Mendapat kehormatan untuk mewujudkan kehendak Bapa di bumi adalah tujuan tertinggi dari keberadaan kita sebagai manusia yang telah dipulihkan martabatnya. Sayangnya, banyak orang tidak mau mengerti hal ini, dan bahkan banyak pengajar tidak mau menyampaikannya dengan gamblang. Kita harus menghayati dengan jelas bahwa Dia adalah Allah yang dekat, bukan Allah yang jauh. Karena jika kita membayangkan-Nya sebagai Pribadi yang jauh dan tidak berurusan dengan keseharian kita, kita akan cenderung bersikap cuek saat keadaan baik-baik saja dan baru mencari-Nya ketika badai masalah datang melanda.
Marilah kita membangun kesadaran yang baru mulai saat ini bahwa kehadiran-Nya itu nyata dan sangat dekat. Kita perlu memompa jiwa kita untuk menyadari kedekatan ini sehingga kehidupan iman kita tidak lagi sekadar rutinitas agama yang hambar. Dengan menghayati kehadiran-Nya secara nyata, kita tidak hanya menceritakan kembali kisah-kisah hebat atau karya besar Tuhan yang tertulis dalam Alkitab secara teoretis belaka. Lebih dari itu, kita akan mampu menuturkan kepada orang lain bagaimana kita secara pribadi menghayati hubungan kita dengan Dia dalam dinamika hidup sehari-hari. Pengalaman pribadi dalam berjalan bersama Tuhan dan menjadi pelaksana kehendak-Nya adalah sebuah warisan yang tiada taranya bagi orang-orang di sekitar kita.
Kehidupan yang sejati bukanlah tentang seberapa banyak kehendak kita yang disetujui oleh Tuhan, melainkan seberapa banyak kehendak Tuhan yang telah kita wujudkan melalui hidup kita. Ketika kita mulai memedulikan apa yang Tuhan pedulikan, kita sedang melangkah menuju keserupaan dengan Kristus. Inilah puncak dari pemulihan martabat manusia: menjadi mitra kerja Allah yang mengerti isi hati-Nya. Mari kita tinggalkan cara hidup yang egois dan mulai bertanya, “Bapa, apa yang Engkau inginkan untuk kulakukan hari ini?” Itulah doa yang mencerminkan martabat ilahi yang sesungguhnya.