Skip to content

Kebenaran, Damai Sejahtera, dan Sukacita Kerajaan

 

Roma 14:17

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”

Ada penangkap serangga yang bekerja bukan dengan mengejar serangga, melainkan dengan menariknya. Di dalamnya diletakkan cairan manis yang memikat. Serangga yang datang tidak merasa sedang masuk ke dalam bahaya; ia hanya mengikuti dorongan terhadap sesuatu yang tampak menyenangkan. Semakin dekat ia kepada cairan itu, semakin kecil kemungkinan ia keluar. Yang membawa serangga itu ke dalam bahaya bukanlah ancaman, melainkan kenikmatan. Yang akhirnya membinasakannya bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan sesuatu yang terasa manis.

Gambaran ini menggetarkan hati, bukan terutama karena serangganya, melainkan karena betapa mudahnya kita mengenali diri kita di dalam situasi tersebut. Manusia modern—termasuk orang percaya—sangat rentan terhadap jebakan yang sama. Kita mengejar kenyamanan, kemapanan, dan pemenuhan kebutuhan jasmani dengan segenap tenaga. Tidak ada yang salah dengan kebutuhan jasmani. Tuhan sendiri yang menyediakan makan dan minum; Ia tahu kita membutuhkannya. Tetapi masalah timbul ketika pemenuhan jasmani itu bergeser dari sarana menjadi tujuan, dari berkat menjadi berhala.

Paulus menulis dengan tegas kepada jemaat di Roma: “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman.” Dalam konteksnya, ada perselisihan di antara jemaat soal halal-haramnya makanan tertentu. Namun, Paulus mengarahkan pandangan mereka jauh lebih dalam: Kerajaan Allah tidak diukur dari apa yang kita makan, apa yang kita miliki, atau seberapa nyaman hidup kita. Kerajaan Allah beroperasi pada dimensi yang berbeda sama sekali. Paulus menyebut tiga realitas penting dari Kerajaan Allah: kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus. Kebenaran yang dimaksud di sini tidak terbatas pada doktrin yang benar, walaupun doktrin yang benar tentu penting. Kebenaran ini menyangkut hidup yang menyenangkan hati Allah: cara kita menjalani hidup, berbicara, bersikap kepada orang lain, dan mengambil keputusan yang selaras dengan kehendak-Nya. Orang yang hidup dalam Kerajaan Allah tidak bertanya, “Seberapa banyak yang dapat aku peroleh dari Allah?” melainkan, “Apa yang dapat kuberikan dan kulakukan untuk menyenangkan Bapa?”

Damai sejahtera yang dimaksud Paulus senada dengan yang dijanjikan Tuhan Yesus: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh. 14:27). Damai dunia bersifat kondisional; ia datang ketika keadaan baik, tetapi segera pergi ketika badai tiba. Sebaliknya, damai dari Allah justru dapat hadir di tengah badai, karena bukan produk dari keadaan, melainkan buah dari kehadiran Roh Kudus.

Sukacita yang sejati juga bekerja dengan cara yang sama. Ketika Paulus menulis, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Flp. 4:4), ia tidak sedang berada dalam keadaan nyaman dan menyenangkan. Ia sedang berada di dalam penjara. Sukacitanya tidak bertumpu pada keadaan, tetapi pada Kristus dan Kerajaan-Nya yang tidak tergoyahkan. Itulah sebabnya penderitaan tidak mampu mencuri sukacita tersebut.

Kembali pada gambaran tentang serangga dan perangkapnya. Tragisnya kisah itu bukan terutama pada nasib buruk yang dialami oleh serangga, melainkan pada kenikmatan sesaat yang membuatnya tidak menyadari bahwa hidupnya sedang menuju kebinasaan. Banyak orang percaya juga tanpa sadar hidup dengan pola yang serupa:

sibuk mengejar berkat, kenyamanan, dan kepuasan jasmani, sementara kehidupan rohani perlahan terkuras habis dan menyeretnya ke dalam kebinasaan. Tuhan tidak melarang kita menikmati berkat-Nya. Tetapi Ia memanggil kita untuk tidak terikat padanya. Ada perbedaan besar antara menerima berkat dengan tangan terbuka dan menggenggam berkat dengan tangan yang mengepal erat. Tangan yang terbuka dapat menerima sekaligus melepaskan, tetapi tangan yang mengepal menunjukkan hati yang mulai dikuasai oleh apa yang digenggamnya.

Hari ini, mari kita dengan rendah hati dan jujur bertanya kepada diri sendiri: di mana letak pusat sukacita saya? Apakah damai saya bergantung pada saldo rekening, kesehatan tubuh, relasi yang berjalan baik, atau keadaan yang mendukung? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar di dalam hidup saya: kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus, yang tidak dapat dicuri oleh keadaan apa pun? Kerajaan Allah sudah hadir. Pertanyaannya: apakah kita sudah sungguh-sungguh tinggal di dalamnya, atau masih terikat pada manisnya dunia yang diam-diam sedang memerangkap kita?