Skip to content

Kehilangan Nyawa untuk Memperoleh Hidup

 

Matius 10:39

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Orang yang terjebak dalam lumpur hidup atau pasir isap biasanya akan panik dan meronta-ronta untuk keluar. Ia akan berusaha dengan mengikuti naluri, meronta, mengangkat kaki, dan melepaskan diri dengan kekuatan sendiri. Namun, semakin ia panik dan bergerak sembarangan, semakin tubuhnya tersedot masuk lebih dalam. Dalam keadaan seperti itu, jalan keluarnya bukan melawan dengan tenaga sendiri, melainkan dengan berhenti meronta, menenangkan diri, merentangkan tubuh agar tidak semakin tenggelam, lalu menerima pertolongan dari orang lain. Anehnya, untuk diselamatkan, ia harus berhenti mempertahankan caranya sendiri.

Gambaran ini dapat menolong kita memahami perkataan Tuhan Yesus: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya.” Ini adalah kalimat paradoks yang tampak bertentangan dengan logika, akal sehat, atau intuisi, tetapi sejatinya adalah kebenaran. Kita cenderung berpikir, “Bagaimana mungkin orang yang mempertahankan nyawanya justru kehilangan nyawanya?” dan “Bagaimana mungkin orang yang kehilangan nyawanya justru memperolehnya?” Namun, di dalam Kerajaan Allah, hidup sejati tidak ditemukan ketika manusia mempertahankan dirinya, melainkan ketika ia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah.

Paulus mengalami kebenaran dari paradoks ini. Ia mengatakan bahwa hidupnya “berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp. 3:9). Secara manusia, sebagai orang Yahudi, Paulus adalah seorang yang sangat luar biasa: orang Ibrani asli, orang Farisi, dan tidak bercacat dalam menaati hukum Taurat (Flp. 3:5–6). Tetapi dengan segala perjuangannya untuk “membela” Tuhan, ia justru kehilangan arah yang benar. Ia memiliki semangat keagamaan yang besar, tetapi belum mengenal kehendak Allah yang sesungguhnya. Ia mempertahankan “nyawanya”: identitas, kebanggaan, prestasi rohani, kebenarannya sendiri, dan seluruh bangunan hidup yang selama ini ia anggap sebagai pengabdian kepada Allah.

Namun, ketika Kristus menjumpainya, Paulus sadar bahwa semua yang dahulu dianggapnya sebagai keuntungan harus dianggap rugi karena pengenalan akan Kristus jauh lebih mulia daripada semuanya. Ia berkata, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Flp. 3:7). Inilah kehilangan nyawa dalam bentuk yang sangat konkret. Paulus tidak hanya meninggalkan dosa-dosa yang jelas salah; ia juga melepaskan hal-hal yang dahulu menjadi kebanggaan religiusnya. Ia tidak lagi berdiri di hadapan Allah dengan membawa prestasi, silsilah, kedudukan, kecerdasan, atau ketaatan lahiriahnya. Ia belajar dan berjuang untuk mati terhadap kebenarannya sendiri agar dapat hidup dalam kebenaran yang berasal dari Allah.

Inilah bagian tersulit dalam pengiringan kepada Kristus. Banyak orang bersedia menjadi Kristen, beribadah, memberi persembahan, bahkan melayani. Tetapi tidak semua orang bersedia kehilangan nyawanya. Tidak semua orang bersedia menyalibkan pikiran, perasaan, dan kehendaknya sendiri. Padahal, Kerajaan Allah tidak mungkin sungguh memerintah selama kita masih mempertahankan takhta dalam diri. Mengikut Kristus menuntut perubahan doa yang sangat mendasar. Kita tidak lagi berkata, “Tuhan, berkati rencanaku,” tetapi, “Tuhan, genapkan rencana-Mu dalam hidupku.” Kita tidak lagi bertanya, “Bagaimana Tuhan dapat membuat hidupku lebih nyaman?” tetapi, “Bagaimana hidupku dapat membuat Tuhan nyaman dan senang bersamaku?” Kita tidak lagi menjadikan Allah sebagai alat untuk mencapai masa depan yang kita ingini, tetapi menyerahkan masa depan kita agar selaras dengan kehendak-Nya.

Kehilangan nyawa tidak hanya terjadi dalam satu peristiwa emosional saja, melainkan merupakan proses setiap hari. Kita belajar menyangkal semua pikiran yang tidak sejalan dengan kebenaran. Setiap hari kita belajar menundukkan perasaan yang mudah tersinggung, kecewa, iri, takut, atau haus penghargaan dan validasi dari orang lain. Selama kehendak diri masih menjadi pusat, Kerajaan Allah belum sungguh memerintah. Kita mungkin mengucapkan, “Datanglah Kerajaan-Mu,” tetapi hati kita masih berkata, “Jadilah kehendakku.” Karena itu, ukuran kedewasaan rohani bukanlah seberapa banyak kita mengetahui firman, melainkan seberapa dalam kehendak kita ditaklukkan kepada Allah.

Orang yang mempertahankan nyawanya mungkin tampak berhasil di mata dunia, tetapi jika semua keberhasilannya hanya membuat dirinya tetap menjadi pusat, sesungguhnya ia sedang kehilangan hidup yang sejati. Sebaliknya, orang yang kehilangan nyawa karena Kristus mungkin tampak kehilangan banyak hal: hak untuk membela diri, mengejar ambisi pribadi, dan hidup sesuka hati. Namun, justru di situlah ia menemukan hidup yang sejati.