Matius 6:10
“..datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Hiroo Onoda adalah seorang tentara Jepang yang ditugaskan di Pulau Lubang, Filipina, pada masa Perang Dunia II. Ketika Jepang menyerah pada tahun 1945, Onoda tidak percaya bahwa perang telah berakhir. Ia menganggap berbagai informasi tentang kekalahan Jepang sebagai propaganda musuh. Karena itu, selama hampir tiga puluh tahun ia tetap bersembunyi, bertahan hidup, dan menjalankan misi perang di hutan Filipina. Baru pada 10 Maret 1974, setelah mantan komandannya datang secara langsung dan memberi perintah resmi, Onoda akhirnya menyerah.
Kisah ini memang tragis, tetapi dapat menjadi cermin bagi banyak orang percaya. Onoda hidup dalam kesetiaan kepada realitas yang sudah berlalu. Dalam keadaan yang berbeda, banyak orang Kristen juga dapat mengalami hal serupa. Kita sudah dipindahkan ke dalam Kerajaan Allah, tetapi masih hidup seolah-olah berada dalam kerajaan lama: kerajaan dunia, kerajaan diri sendiri, di mana kitalah yang menjadi raja atas hidup ini.
Ketika Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, Ia tidak sekadar memberikan formula liturgis. Ia sedang membentuk orientasi dasar kehidupan murid-murid-Nya. Kalimat, “Datanglah Kerajaan-Mu,” bukan hanya sebuah permohonan eskatologis tentang akhir zaman, melainkan juga sebuah penyerahan diri. Melalui doa itu, kita sedang berkata kepada Allah Bapa: “Biarlah pemerintahan-Mu berlaku atas hidupku. Biarlah kehendak-Mu menjadi hukum tertinggi dalam diriku. Biarlah hidupku tidak lagi dikuasai oleh kemauanku sendiri, tetapi oleh kedaulatan-Mu.”
Mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh akan memberi kita kesadaran tentang identitas kita sebagai bangsawan surgawi, dan ini akan mengubah seluruh cara pandang kita. Namun, permasalahannya adalah banyak orang Kristen mengucapkan doa ini tanpa menyadari konsekuensinya. Kita ingin Kerajaan Allah datang, tetapi masih ingin mempertahankan kerajaan sendiri. Kita meminta Tuhan memberkati hidup kita, tetapi tidak mau Tuhan memerintah hidup kita. Kita memohon Tuhan menolong pekerjaan, keluarga, pelayanan, studi, bisnis, dan masa depan kita, tetapi sering kali semua itu tetap berada di bawah agenda pribadi. Tuhan hanya dihadirkan sebagai penolong, tetapi belum dihormati sungguh-sungguh sebagai Raja.
Padahal keselamatan bukan hanya perpindahan status dari orang berdosa menjadi orang yang diampuni. Keselamatan terutama menyangkut proses perpindahan kewargaan rohani (Flp. 3:20). Petrus menyebutnya dengan sangat jelas, bahwa orang percaya adalah “…bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Ptr. 2:9). Perhatikan penggunaan kata-kata yang dipilih oleh Petrus: bangsa, imamat, dan umat. Ini adalah istilah-istilah yang merujuk pada pembahasan tentang kenegaraan. Artinya, Orang percaya tidak dapat lagi hidup sebagai manusia tanpa kerajaan—sebagai individu liar yang berjalan menurut selera, ambisi, dan kehendaknya sendiri; sebab kita adalah umat milik Allah, bangsa yang berkerajaan, yang hidup di bawah pemerintahan-Nya.
Kesadaran ini sangat penting, sebab tanpa kesadaran sebagai bangsawan surgawi, kekristenan mudah berubah menjadi agama yang berpusat pada kebutuhan manusia. Dengan berdoa kepada Bapa, “Datanglah Kerajaan-Mu,” kita dituntut untuk bertanya: “Siapa sebenarnya yang memerintah hidup saya? Apakah Allah Bapa sungguh menjadi Raja, atau saya masih menjadi raja atas diri sendiri? Apakah pekerjaan saya dikerjakan untuk kemuliaan Allah, atau hanya untuk membangun nama dan kenyamanan pribadi? Apakah keluarga saya dipimpin untuk menyenangkan hati Tuhan, atau hanya menjadi ruang pemenuhan kebahagiaan saya sendiri? Apakah pelayanan yang saya lakukan sungguh untuk Kerajaan Allah, atau diam-diam menjadi panggung bagi diri sendiri?”
Mengikut Tuhan Yesus berarti hidup sebagai bangsawan surgawi. Pekerjaan tidak sekadar sebagai sarana mencari nafkah, tetapi tempat untuk menyatakan integritas dan kehendak Allah. Uang tidak lagi menjadi alat pemuas diri, tetapi kepercayaan yang harus dikelola untuk kepentingan Tuhan. Waktu bukan lagi milik pribadi, tetapi kesempatan untuk menggenapi kehendak Bapa. Keluarga menjadi ruang pembentukan karakter ilahi, bukan tempat mencari kesenangan diri sendiri.
Inilah inti hidup Kristen: menerima pemerintahan Allah atas seluruh hidup. “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” berarti hidup kita di bumi harus menjadi tempat di mana kehendak Allah ditaati seperti di surga. Maka, setiap kali kita berkata, “Datanglah Kerajaan-Mu,” kita sedang menyerahkan takhta hati kita kepada Allah. Kita sedang belajar berhenti menjadi pemilik hidup, dan dengan bangga mengaku bahwa kita adalah umat kepunyaan Allah.