Skip to content

Ada Bapa yang Lain

 

Ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa, “Bapa kami yang di surga,” Ia tidak sekadar memberikan kata-kata untuk dihafalkan. Di dalam sapaan itu terkandung sebuah pengakuan penting: ada Bapa yang benar, yaitu Allah di surga, dan ada bapa yang palsu yang berusaha mengambil tempat-Nya dalam hidup manusia. Dalam Yohanes 8:41, orang-orang Farisi berkata kepada Yesus, “Bapa kami satu, yaitu Allah.” Namun, Tuhan Yesus menyingkapkan keadaan hati mereka dengan berkata, “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu” (Yohanes 8:44). Pernyataan ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mengaku memiliki Allah sebagai Bapa, tetapi hidupnya justru dikendalikan oleh kehendak yang bertentangan dengan Allah.

Sejak awal, Iblis berusaha merebut apa yang menjadi milik Allah. Karena kesombongannya, ia jatuh dari kedudukannya, tetapi ia tidak berhenti memberontak. Ia terus berusaha menyeret manusia menjauh dari Tuhan melalui kebohongan, dosa, dan pemberontakan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kita menyebut Allah sebagai “Bapa kami yang di surga.” Setiap kali mengucapkannya, kita sedang menyatakan bahwa hidup kita adalah milik Allah, bukan milik dosa atau dunia.

Namun, menjadi anak Allah bukan sekadar status yang diucapkan dengan mulut. Menjadi anak Allah berarti hidup menurut kehendak Allah. Seorang anak biasanya memantulkan karakter bapanya. Karena itu, jika Allah benar-benar menjadi Bapa kita, maka hidup kita harus mencerminkan kasih, kekudusan, kebenaran, kesetiaan, dan kerendahan hati. Sebaliknya, kebencian, dusta, egoisme, dan pemberontakan menunjukkan pengaruh dari “bapa” yang lain.

Di sinilah letak peperangan rohani yang sesungguhnya. Iblis tidak selalu datang dengan cara yang menakutkan. Sering kali ia menawarkan jalan yang mudah, nyaman, dan menyenangkan daging. Ia membuat dosa tampak biasa dan menyembunyikan akibatnya. Karena itu Tuhan Yesus berkata bahwa jalan menuju kehidupan itu sempit, sedangkan jalan menuju kebinasaan itu lebar. Jalan Tuhan menuntut penyangkalan diri, pertobatan, dan kesetiaan, tetapi ujungnya adalah kehidupan kekal. Karena itu, kita tidak boleh tertipu oleh penampilan rohani. Seseorang dapat aktif beribadah, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup di bawah pemerintahan Allah. Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik yang menuntun kepada kehidupan, tetapi ada banyak suara lain yang berusaha menyesatkan manusia: suara dunia, dosa, popularitas, kenyamanan, bahkan ajaran palsu. Tanpa kepekaan rohani, orang percaya dapat terseret tanpa sadar.

Itulah sebabnya kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan melatih indra rohani kita untuk membedakan yang benar dan yang palsu. Tanpa firman dan hubungan yang intim dengan Tuhan, manusia mudah tertipu dan mengikuti suara asing. Karena itu, marilah kita bertanya dengan jujur: siapakah yang sesungguhnya memimpin hidup kita? Apakah Allah benar-benar menjadi Bapa kita, ataukah kita masih lebih menuruti dunia dan keinginan daging? Tuhan masih memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Bapa di surga adalah Bapa yang penuh kasih yang rindu anak-anak-Nya hidup dalam kebenaran dan menikmati kehidupan kekal bersama-Nya.

Setiap kali kita berdoa, “Bapa kami yang di surga,” biarlah itu menjadi lebih dari sekadar ucapan. Biarlah itu menjadi pengakuan hidup bahwa kita sungguh-sungguh berjalan di bawah pimpinan Bapa yang benar dan mengikuti Gembala yang baik.