Skip to content

Bapa untuk Semua Orang Percaya

 

Matius 6:9

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,”

Salah satu makna kata “kami” dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus (Matius 6:9) adalah menunjukkan bahwa Allah adalah Bapa bagi semua orang percaya secara komunitas atau kelompok. Allah Bapa bukanlah milik satu individu tertentu, tetapi setiap orang percaya memiliki Allah yang sama, yaitu Bapa yang di surga. Tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim bahwa Bapa hanya milik kelompok atau perorangan tertentu. Hal ini dimaksudkan supaya setiap orang percaya mengakui kebersamaan (togetherness) sebagai sesama anggota keluarga Allah dan kesamaan dalam pergumulan mengiring Kristus. Jadi, jika ada seorang atau sekelompok orang Kristen yang tidak memiliki pergumulan yang sama seperti yang dipikul oleh orang percaya sepanjang abad, mereka bukanlah anak-anak Allah yang sah.

Dalam kalimat-kalimat selanjutnya di Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus juga menggunakan kata “kami”: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”; “ampunilah kami”; dan sebagainya. Pergumulan yang terdapat dalam Doa Bapa Kami, seperti mengampuni musuh, tidak membawa diri ke dalam pencobaan, dan sebagainya, adalah pergumulan yang sama yang seharusnya dialami oleh setiap orang percaya. Di dalam 1 Petrus 5:8–9, Petrus menulis, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa semua orang percaya di seluruh dunia akan mengalami penderitaan yang sama dalam pergumulan melawan Iblis, yang diidentifikasikan seperti “singa yang mengaum”. Dengan menyadari bahwa melawan Iblis tidaklah mudah dan ringan, kita akan lebih mampu menerima saudara-saudara seiman lain yang seperjuangan dan sepenanggungan dengan kita.

Orang Kristen yang benar akan memiliki konsep berpikir yang alkitabiah dan rohani walaupun berbeda gereja atau denominasi. Orang percaya yang dewasa akan bersikap sebagai saudara terhadap semua orang percaya tanpa melihat perbedaan gereja maupun doktrin. Sebaliknya, walaupun berada dalam satu gereja, jika chemistry-nya berbeda, hubungan itu akan terasa asing. Jadi, walaupun secara denominasi berbeda, secara batin orang percaya harus tetap bersatu.

Dalam Yohanes 15:5, Yesus mengatakan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Tuhan adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-ranting-Nya. Ranting-ranting itulah yang akan menghasilkan buah. Buah yang dihasilkan pasti memiliki unsur yang sama karena berasal dari satu pokok yang sama, walaupun berbeda-beda rantingnya.

Paulus juga menyatakan bahwa semua orang percaya memiliki satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan (Efesus 4:5). Satu Tuhan berarti kita harus mengabdi kepada Tuhan yang sama; satu iman berarti kita memiliki satu kualitas perilaku yang sama; dan satu baptisan berarti kita memiliki kesediaan yang sama untuk tidak mencintai dunia karena telah dikuburkan bersama Kristus. Jadi, sekalipun terdapat berbagai perbedaan, orang percaya harus menerima satu sama lain sebagaimana Kristus telah menerima mereka.

Hari ini belum ada gereja yang sempurna. Namun, kita harus memahami sebuah fakta bahwa setiap orang percaya, sekalipun berasal dari gereja maupun denominasi yang berbeda, tetaplah anak-anak Allah. Hal ini diikat dalam kata “kami” yang tertulis dalam Doa Bapa Kami. Biarpun berbeda gereja, apabila bersama-sama mengiring Tuhan Yesus, orang akan memiliki kesaksian dalam batinnya: “Kamu adalah saudaraku.”