Jika kemarin kita merenungkan radikalnya sapaan “Bapa”, hari ini kita akan menggali alasan mendalam mengapa hubungan itu bisa terjadi. Teks Kejadian 2:7 mengungkapkan sebuah rahasia penciptaan yang membedakan manusia dari seluruh ciptaan lainnya. “… ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Allah menciptakan hewan dan tumbuhan dengan firman-Nya, tetapi terhadap manusia Allah melakukan sesuatu yang sangat intim: Dia menghembuskan napas-Nya sendiri (yippakh).
Kita harus memahami perbedaan mendasar antara “nyawa” dan “napas hidup” (nishmath khayyim). Hewan memiliki nyawa dan fisik, tetapi mereka tidak menerima hembusan langsung dari esensi Allah. Manusia, di sisi lain, memiliki komponen yang tidak “diciptakan” dari ketiadaan, melainkan “keluar” dari dalam diri Allah. Secara fisik, kita memang berasal dari debu tanah (’âfâr minhâ’adâmâh). Kita rendah, rapuh, dan bisa hancur. Namun, di dalam wadah debu itu bersemayam sesuatu yang kekal. Roh manusia adalah bagian yang dipancarkan dari Allah sendiri. Ini adalah kebenaran yang sering kali membuat para teolog ragu karena takut dianggap menyamakan manusia dengan Allah. Namun, Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa roh manusia memiliki keterhubungan organik dengan Sang Pencipta, seperti seorang anak yang lahir dari rahim ibunya.
Metafora “melahirkan” dalam teks ini sangat kuat. Seorang anak keluar dari tubuh ibunya; ia memiliki DNA yang sama, namun setelah lahir, ia menjadi individu yang terpisah dan mandiri. Demikian pula manusia. Kita memiliki “DNA ilahi” dalam roh kita, tetapi kita diberikan kehendak bebas untuk menjadi pribadi yang utuh. Inilah letak martabat manusia yang sesungguhnya. Kita tidak dirancang untuk sekadar hidup secara biologis seperti makhluk hidup lainnya. Kita dirancang untuk memiliki frekuensi yang sama dengan Allah. Karena roh kita berasal dari-Nya, secara otomatis jiwa kita tidak akan pernah menemukan kepuasan sejati selain di dalam Dia. Ada kekosongan berbentuk Allah (God-shaped vacuum) di dalam setiap manusia yang hanya bisa diisi oleh Sumber asalnya.
Kita diciptakan untuk memiliki frekuensi yang sama dengan Allah karena roh kita berasal dari-Nya. Hal ini membawa implikasi besar dalam cara kita memandang diri sendiri. Jika tubuh yang berasal dari debu ini menyimpan “napas Allah”, maka hidup kita adalah sesuatu yang sakral dan harus dipertanggungjawabkan. Identitas kita yang sejati bukanlah apa yang kita miliki di dunia ini yang bersifat debu, melainkan siapa yang menghembuskan napas ke dalam diri kita. Kita adalah makhluk dua alam: kaki kita berpijak di atas debu bumi yang sementara, tetapi napas kita berasal dari surga yang kekal.
Menyadari asal-usul ilahi ini seharusnya membangkitkan kerinduan dalam jiwa kita untuk selalu kembali kepada Sumber Napas tersebut. Kita dipanggil untuk menyadari Sumber Kehidupan yang sesungguhnya. Filosofi dunia menyimpangkan kita dari Sumber Kehidupan kepada sumber-sumber kehidupan lain: uang, kehormatan, pasangan hidup, dan kenyamanan. Karena roh kita keluar dari Allah, secara otomatis jiwa kita tidak akan pernah menemukan kepuasan sejati dalam hal-hal duniawi, meskipun kita tidak dilarang Tuhan untuk memiliki dan menikmati semua itu di dalam Dia. Ada kekosongan yang hanya bisa diisi oleh kehadiran-Nya.
Marilah kita menjalani hidup dengan kesadaran penuh bahwa kita membawa kesadaran akan kekekalan di dalam diri kita. Jangan biarkan filosofi dunia dan keinginan daging menutupi kemuliaan napas hidup yang telah Allah percayakan. Hiduplah sebagai anak-anak yang sadar akan kemuliaan asalnya, dan biarlah setiap langkah kita mencerminkan karakter Bapa yang telah melahirkan kita ke dalam kemuliaan-Nya.