Sering kali kita mengucapkan kata “Bapa” dalam doa kita dengan begitu ringan, hampir otomatis, tanpa menyadari ledakan teologis yang terkandung di dalamnya. Namun, bagi telinga masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, ajaran untuk memanggil Allah sebagai Abba bukan sekadar perubahan istilah liturgis. Itu adalah sebuah guncangan budaya dan spiritual yang radikal. Matius 6:9 yang berkata, “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga …,” mengingatkan kita bahwa bangsa Israel memiliki rasa hormat (reverence) yang sedemikian tinggi kepada Elohim. Nama kudus YHWH pun tidak berani mereka ucapkan; mereka menggantinya dengan Adonai (Tuanku) atau HaShem (Nama Itu). Ada jarak yang sangat lebar antara Pencipta yang Mahasuci dan ciptaan yang penuh dosa. Allah adalah Raja yang jauh, Hakim yang agung, dan Tuan yang berdaulat. Namun, di tengah kekakuan religius tersebut, Yesus datang membawa pesan yang mengubah segalanya: “Panggillah Dia, Bapa.”
Tindakan Yesus ini bukan sekadar upaya untuk membuat doa terasa lebih hangat atau akrab. Lebih dalam daripada itu, Yesus sedang melakukan tindakan restorasi. Mengapa menyebut Allah sebagai Bapa dianggap radikal? Karena sebutan ini meruntuhkan dinding pemisah yang dibangun oleh ketidaklayakan manusia. Dengan memperkenalkan Allah sebagai Bapa, Yesus hendak menegaskan bahwa hubungan kita dengan Pencipta bukan lagi sekadar hubungan antara “Tuan dan hamba” (master and slave), melainkan hubungan “Bapa dan anak”.
Dalam perspektif teologi yang mendalam, kita memahami bahwa tujuan keselamatan bukan hanya agar manusia masuk surga sebagai suatu lokasi, melainkan agar manusia dikembalikan kepada martabatnya yang semula. Martabat itu adalah martabat ilahi—bukan berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan manusia memiliki kapasitas untuk bergaul karib dengan Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan mencerminkan karakter-Nya. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Namun, dosa telah merusak gambar tersebut, membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah dan merasa asing di hadapan Sang Khalik. Ketika Yesus mengajarkan kita memanggil “Bapa”, Dia sedang menarik kita kembali ke taman Eden yang hilang. Dia sedang berkata bahwa martabat kita yang sesungguhnya bukan ditentukan oleh jabatan, harta, atau pencapaian duniawi, melainkan oleh status kita sebagai anak-anak Allah.
Memanggil Allah sebagai Bapa berarti kita harus bersedia dididik, dibentuk, dan diproses oleh-Nya. Seorang anak yang benar tidak hanya menikmati fasilitas ayahnya, tetapi juga mewarisi sifat ayahnya. Jika kita berani memanggil-Nya Bapa, maka konsekuensi logisnya adalah kita harus hidup dalam penurutan total—sama seperti Yesus yang selalu melakukan kehendak Bapa-Nya.
Hari ini, mari kita periksa kedalaman doa kita. Apakah sapaan “Bapa” hanya sekadar hiasan bibir? Atau apakah kita sungguh-sungguh menyadari bahwa melalui Kristus, kita telah diberi akses untuk kembali kepada martabat ilahi kita? Tuhan Yesus ingin kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah Yang Mahatinggi. Kesadaran akan status sebagai “anak” inilah yang seharusnya memerdekakan kita dari segala ketakutan akan hari esok, dari haus akan pengakuan manusia, dan dari keterikatan pada dunia. Dunia ini bukan rumah kita; rumah kita adalah di dalam dekapan Bapa. Mari kita menjalani hari ini dengan kepala tegak, bukan karena kesombongan, melainkan karena kita tahu siapa Bapa kita. Hiduplah sedemikian rupa sehingga karakter Bapa terpancar dalam setiap tindakan kita, sehingga melalui hidup kita, orang lain dapat melihat bahwa Allah memang nyata sebagai Bapa yang penuh kasih dan kekudusan.