Skip to content

Hati yang Terarah kepada Bapa

 

Kita mungkin pernah menyaksikan sebuah peristiwa—atau bahkan mengalaminya sendiri. Seseorang berdiri di depan banyak orang, lalu berdoa dengan kalimat-kalimat panjang, suara yang lantang, dan pilihan kata yang terdengar sangat “rohani”. Dari luar, semuanya tampak khusyuk. Namun, di dalam ada sesuatu yang terasa kosong. Kalimat-kalimat doa itu terkesan seperti naskah yang dibacakan, jauh dari percakapan alami yang mengalir dari hati.

Tuhan Yesus pernah melihat hal yang sama, dan Ia memberi penilaian yang sangat tajam. Dalam Matius 6:5, Ia berkata, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik.” Kata “munafik” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata Yunani hypokritēs—sebuah istilah yang digunakan untuk para aktor di atas panggung. Mereka memakai topeng dan memerankan tokoh di luar diri mereka. Yesus sedang berkata bahwa ada orang-orang yang berdoa bukan kepada Allah, melainkan sedang berperan dalam sebuah pertunjukan doa untuk dinikmati para penonton. Doa seperti itu mungkin terdengar indah, tetapi tidak mencapai tujuannya.

Kata Yunani yang digunakan untuk “berdoa” dalam teks ini adalah προσεύχομαι (proseuchomai)—sebuah kata yang mengandung arti kerinduan yang sungguh-sungguh; mengarahkan hati berpaling kepada Allah dengan sengaja. Berdoa sejatinya bukan sekadar mengucapkan kata-kata, melainkan seluruh keberadaan yang tertuju kepada Bapa. Doa sejati tidak berbicara tentang besar kecilnya volume suara atau indahnya susunan kalimat yang kita buat, melainkan soal ke mana hati kita mengarah.

Hal ini seharusnya melegakan kita, karena jika doa adalah percakapan, kita tidak perlu tampil sempurna di hadapan Allah. Kita tidak perlu mencari kata-kata yang puitis. Kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika hati kita sedang hancur. Seorang anak kecil tidak merancang pidato sebelum berlari ke pelukan ayahnya. Yang dilakukannya hanyalah berlari. Inilah gambaran doa yang sejati.

Dalam Matius 6:7 tertulis, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah ….” Yang dimaksud dengan bertele-tele (Yun. battalogeō) dalam ayat ini adalah mengucapkan banyak kata yang diulang-ulang seperti mantra. Tuhan Yesus sendiri memberi contoh bagaimana seharusnya kita berdoa: jangan bertele-tele, tetapi berdoalah dengan kejujuran yang sederhana, “Bapa kami yang di surga ….” Sebuah sapaan akrab yang lahir dari pengakuan bahwa kita adalah anak, dan Ia adalah Bapa sekaligus Sumber dari mana kita berasal. Dari situlah doa dimulai: terucapnya setiap kata yang lahir dari hati yang jujur dan tulus.

Menariknya, orang yang sungguh-sungguh telah berjumpa dengan Tuhan tidak perlu berakting dalam doanya. Ketika seseorang mengenal Allah secara pribadi—tidak hanya sebatas tahu tentang Allah—doanya berubah. Ia tidak lagi berdoa untuk didengar manusia, melainkan karena ia rindu. Orang seperti ini berdoa karena ada sesuatu yang ingin dikatakannya, dan ia tahu bahwa ada Pribadi yang benar-benar mendengarkan.

Doa juga jangan dimaknai sekadar sebagai sarana untuk menyampaikan daftar kebutuhan kita kepada Tuhan. Dalam doa, Allah sedang membentuk manusia batiniah kita. Ada kalanya kita datang dengan banyak permohonan, tetapi pulang dengan hati yang diubahkan. Namun, ada pula saat ketika jawaban yang kita terima bukanlah perubahan keadaan, melainkan kekuatan untuk tetap berjalan. Itulah sebabnya orang yang hidup dekat dengan Tuhan terkadang membutuhkan kesendirian dan suasana yang sunyi untuk menikmati hadirat-Nya. Doa menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan, tempat jiwa menemukan kembali arah, ketenangan, dan keintiman dengan-Nya.

Pernahkah Anda merasakan doa yang seperti itu? Doa tidak terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan sebelum tidur, melainkan seperti percakapan yang rasanya tidak ingin kita akhiri. Itulah yang Allah rindukan dari kita. Bukan panjangnya kalimat-kalimat doa yang diucapkan dengan fasih, melainkan doa yang jujur—doa yang lahir dari hati yang sungguh-sungguh datang kepada-Nya.