Jadi ada pergumulan dalam doa, yaitu menemukan kehendak-Nya. Sebab Allah tidak akan pernah mengabulkan permintaan seseorang yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Jika kita membaca kisah bangsa Israel yang memaksa meminta seorang raja, Tuhan memang mengabulkannya. Namun selama masa pemerintahan raja itu, kemakmuran bangsa Israel justru semakin menurun sampai akhirnya mereka mengalami kehancuran. Konsep ini tidak boleh diterapkan secara persis kepada kita. Peristiwa itu terjadi pada umat Perjanjian Lama yang hidup dengan penekanan pada hukum, sedangkan kita sebagai umat Perjanjian Baru harus mengerti kehendak Allah. Ketika Tuhan berkata, “Pada hari itu Aku akan berkata terus terang: Aku tidak mengenal kamu,” seakan-akan Tuhan membiarkan kita melakukan kesalahan lalu pada akhirnya membuang kita pada saat kita tidak lagi dapat memperbaiki diri. Namun perlu diingat bahwa hal itu berkaitan dengan umat Perjanjian Baru yang sebenarnya sudah memiliki pimpinan Roh Kudus. Dengan pimpinan Roh Kudus, kita seharusnya dapat merasakan apa yang Tuhan rasakan.
Sebagai orang Kristen, seharusnya kita sudah dapat mengetahui apakah permintaan kita disetujui Tuhan atau tidak, menyenangkan Tuhan atau tidak, untuk kepentingan dan kemuliaan Tuhan atau hanya untuk kepentingan diri sendiri. Masalahnya, manusia berdosa yang tidak bertumbuh sering kali tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara kebutuhan dan pencitraan diri. Akibatnya, yang kita minta sebenarnya bukan kebutuhan, melainkan kepuasan diri atau hawa nafsu (Yak. 4:1–3). Ketika Tuhan berkata, “carilah,” yang harus dicari adalah kehendak-Nya, dan ketika Ia berkata, “ketoklah pintu, maka pintu akan dibukakan bagimu,” itu berarti bahwa Tuhan pasti merespons. Jika umat Perjanjian Lama yang masih bersifat duniawi cenderung meminta hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani, ambisi, cita-cita, dan pikiran manusia yang wajar, maka umat Perjanjian Baru seharusnya memiliki permintaan yang sesuai dengan pikiran Tuhan Yesus.
Jika diajarkan bahwa dengan adanya Tuhan Yesus semua permintaan kita menjadi lebih mudah dikabulkan, justru hal itu dapat merusak kehidupan orang percaya. Dengan adanya Tuhan Yesus, kita dipanggil menjadi anak-anak Allah yang memiliki karakter seperti-Nya; karena itu, kita tidak boleh sembarangan menyampaikan permintaan, sebab kita terikat pada standar hidup yang harus kita kenakan. Lukas 16:12 berkata, “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?” Yang dimaksud dengan “harta kita sendiri” adalah yang ada di langit baru dan bumi baru. Sekarang ini segala sesuatu adalah milik Tuhan. Permintaan-permintaan yang kita sampaikan sebenarnya adalah bagian dari proses kita mengelola milik Tuhan. Di bumi ini kita bukan owner (pemilik), tetapi hanyalah bendahara atau pengelola milik Tuhan.
Lalu bagaimana kita mengelola semua yang kita miliki sekarang—dan juga kemungkinan hal-hal lain yang akan dipercayakan kepada kita di masa depan—dalam rangka mengelola milik Tuhan? Dalam hal ini kita harus menggunakan manajemen surgawi. Prinsipnya adalah bahwa semua yang ada sekarang merupakan milik orang lain, yaitu milik Tuhan, sedangkan “harta kita sendiri” akan kita miliki di langit baru dan bumi baru. Karena itu kita tidak perlu dan tidak boleh memaksakan permintaan tertentu, sebab semuanya adalah milik Tuhan. Jagat raya ini milik Tuhan, dunia ini milik Tuhan, apa yang ada di tangan kita hari ini milik Tuhan, dan apa pun yang kelak dipercayakan kepada kita juga milik Tuhan. Karena itu kita harus mengelola semuanya bagi kepentingan-Nya. Itulah sebabnya kita perlu membangun dialog dengan Tuhan untuk mengerti isi hati-Nya, supaya apa yang kita minta selaras dengan kehendak-Nya.
Matius 7:9–11 berkata, “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Tidak mungkin seorang ayah memberikan batu kepada anaknya yang meminta roti atau memberikan ular ketika anaknya meminta ikan. Namun jika yang kita minta justru membahayakan kita, Tuhan tentu tidak akan memberikannya. Semua harus berjalan dengan benar dan sejalan dengan pengertian akan kebenaran. Karena itu kita tidak boleh merasa bahwa kita berhak agar doa kita dikabulkan dan keinginan kita selalu dituruti. Jika kita berpikir demikian, berarti kita memandang Tuhan seolah-olah tidak mengetahui apa yang terbaik. Oleh sebab itu, kita harus mengerti kehendak-Nya, dan untuk itu kita perlu mempertajam kepekaan rohani; kepekaan tersebut diperoleh dengan belajar kebenaran, yang menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, sehingga setiap permintaan yang kita sampaikan kepada Tuhan harus sungguh-sungguh kita perkarakan.