Skip to content

Belajar Tidak Terganggu

 

Namun demikian, bagi orang yang belum dewasa—seperti orang Yahudi yang belum dewasa menurut ukuran Tuhan—kebahagiaan atau sukacitanya akan terganggu ketika melihat orang lain melakukan sesuatu yang ia pandang melanggar hukum. Maka kita dapat mengerti mengapa orang-orang Yahudi yang memahami hukum mudah menghakimi orang lain, walaupun penghakiman itu menggunakan sudut pandang hukum. Biasanya mereka juga berusaha menciptakan sanksi, misalnya melempar batu, memotong tangan, dan sebagainya. Yang terpenting bagi kita sebagai anak-anak Allah sebenarnya adalah mengenakan pribadi Kristus. Jika seseorang hanya mengetahui hukum tentang baik dan buruk, ia masih mudah menghakimi sesamanya. Tetapi jika kita mengenakan pribadi Kristus, kita tidak akan menghakimi sesama kita.

Mengambil alih hukum Tuhan seakan-akan menjadi miliknya berarti seseorang menuntut orang lain untuk bertanggung jawab kepada dirinya. Jadi ketika seseorang melakukan pelanggaran menurut hukum Tuhan, ia menuntut orang tersebut untuk bertanggung jawab kepadanya, padahal setiap orang harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Sejatinya, kita harus berpikir bahwa kita bertanggung jawab kepada semua pihak, dalam arti kita tidak ingin orang lain dirugikan, terluka, atau tersandung oleh perbuatan kita. Namun sebaliknya, kita tidak boleh menuntut orang lain bertanggung jawab kepada kita. Jika kita mengetahui hukum—tentang baik dan buruk, halal dan haram—lalu ada orang melakukan sesuatu yang buruk atau haram, kita tidak perlu merasa terganggu dan bereaksi dengan tujuan mencela atau menghukumnya.

Karena itu, kita harus belajar untuk tidak terganggu oleh orang yang berbuat salah. Jujur saja, sering kali kita merasa terganggu. Sebenarnya, dengan sikap seperti itu kita sedang menuntut orang yang berbuat salah tersebut. Kita harus berhati-hati dalam setiap langkah hidup kita karena kita tidak ingin merugikan, melukai, atau membuat sesama terganggu oleh kesalahan kita, apalagi sampai membuat mereka tersandung. Seakan-akan kita bertanggung jawab terhadap mereka semua. Namun kita tidak menuntut orang lain untuk bertanggung jawab kepada kita. Sejujurnya, kita sendiri pun sering melakukan kesalahan. Misalnya, ketika ada orang yang menyelak antrean, kita mungkin tidak berkata apa-apa, tetapi bersikap marah atau kesal di dalam hati. Sekarang mari kita belajar untuk tidak bersikap demikian. Kita harus belajar memiliki sikap batin yang benar. Ingat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki hak untuk menghakimi sesamanya.

Yakobus 4:11–12 berkata, “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” Sesungguhnya hanya Tuhan yang memiliki wewenang untuk menghakimi, sebab Dialah satu-satunya Hakim yang benar dan adil dalam penghakiman-Nya (Why. 16:7). Penghakiman bukanlah hak manusia. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menempatkan diri di posisi Tuhan. Jika kita mengambil tempat Tuhan sebagai hakim, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari kita dengan ukuran yang kita pakai untuk menghakimi orang lain.

Matius 7:1–2 berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.” Orang yang menghakimi sesama biasanya juga sulit mengampuni orang lain. Dan orang yang tidak mengampuni orang lain tidak akan diampuni. Jadi, jika kita tidak mempersoalkan kesalahan orang lain, kesalahan kita pun tidak dipersoalkan, bahkan dihapuskan. Karena itu, mengapa kita harus mempersoalkan kesalahan orang lain, padahal orang tersebut tidak bertanggung jawab kepada kita?