Skip to content

Membangun Frekuensi

 

Jadi sebenarnya menjadi sempurna seperti Bapa berarti membangun frekuensi yang selaras dengan Dia. Jika frekuensi kita dapat sama dengan-Nya, itu merupakan prestasi yang bersifat abadi. Kita dapat melihat, seorang wanita demi supaya tetap awet muda rela melakukan perawatan wajah dua minggu sekali, dan setiap kali bisa berlangsung selama tiga jam. Namun ketika berada di gereja—yang bahkan tidak sampai tiga jam, hanya sekitar dua jam—ia sudah mengeluh dan mencari alasan untuk menunda. Tetapi ia tetap ingin masuk surga. Surga yang bagaimana? Betapa murahnya Tuhan di dalam pikirannya. Prestasi abadi kita adalah ketika hati kita diremukkan oleh firman. Seseorang bisa menjadi kaya secara mendadak—mendapat lotre atau memenangkan tender besar—tetapi kedewasaan rohani dan frekuensi yang selaras dengan Allah tidak dapat terjadi secara mendadak. Karena itu, bagi kita yang sudah melewati usia muda, jangan menunda untuk berubah. Jangan berlama-lama, sebab kita tidak tahu apakah masih sempat mengejarnya.

Dengan demikian, seorang anak Allah yang selalu berjalan bersama Allah dapat selaras dan berdialog dengan-Nya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena ia memiliki kualitas hidup yang seimbang. Oleh sebab itu, hati kita harus bersih, hidup kita juga harus bersih, bahkan pergaulan kita pun harus bersih. Jika hidup kita kotor, Tuhan pun tidak berkenan. Artinya, para malaikat yang kudus juga tidak berkenan bergaul dengan kita yang membawa roh yang jahat. Jika kita ingin menjadi sempurna seperti Bapa, maka frekuensi kita harus selaras dengan Allah. Bahkan sampai pada hal-hal seperti tontonan yang tidak perlu dilihat, jangan kita lihat. Jika tontonan itu membuat hidup kita tidak benar, maka buanglah.

Jika kita ingin masuk ke dalam atmosfer sebagai anak-anak Allah, maka kita harus berani hidup secara ekstrem. Lagi pula hidup kita di bumi ini tidak lama. Namun demikian kita tetap dapat hidup bahagia. Karena itu bersyukurlah jika sejak muda kita sudah mendengar kebenaran ini. Ketika usia kita bertambah, kita akan menjadi lebih peka, seperti parabola yang semakin mampu menangkap frekuensi dari surga.

Yohanes 17:20–21 berkata, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” Kata “di dalam Kita” menunjuk kepada sebuah persekutuan di dalam Bapa. Mungkin hari ini kita merasa seakan-akan tidak ada bedanya antara orang yang sungguh-sungguh dan yang tidak sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan. Namun suatu hari nanti akan terbukti betapa beruntungnya kita jika kita bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Karena itu marilah kita semua serius mencari Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Mengapa Tuhan berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa dan bukan seperti diri-Nya? Ada beberapa kemungkinan jawabannya.

Kemungkinan utamanya adalah karena pada waktu itu Tuhan Yesus belum menyelesaikan karya-Nya. Ia belum terbukti taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Setelah Ia menyelesaikan semuanya, barulah Ia menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Jadi menjadi seperti Bapa berarti menjadi seperti Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Artinya, kehidupan Tuhan Yesuslah yang harus kita teladani, dan itulah makna menjadi seperti Bapa. Pertanyaannya bagi kita semua: sudahkah hidup kita menjadi refleksi dari kehidupan Tuhan Yesus?