Tuhan Yesus berkata tegas: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17). Menggenapi itu bukan sekadar mengajar dengan kata-kata yang benar, tetapi hidup-Nya sendiri adalah penggenapan. Dia taat dengan sempurna, bahkan sampai mati. Ketika Dia memanggil kita menjadi pengikut-Nya, penggenapan itu harus berlanjut dalam hidup kita: ajaran-Nya benar di mulut kita dan benar dalam langkah kita. Jika kita mengaku diselamatkan tetapi hidup kita tidak makin baik, lalu mau menjadi apa kekristenan kita? Konyol jika kita merasa sudah selamat tetapi tidak berubah.
Lalu Tuhan melanjutkan: “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat…” (Matius 5:18). Artinya ukuran itu tetap ada. Ukuran itu tidak dibuang, sebab ukuran itulah yang dipakai dalam penghakiman. Jika ukuran dibuang, dari mana manusia mengenal pelanggaran? Roma 4:15 sudah jelas: tanpa hukum tidak ada pelanggaran. Maka jangan heran jika firman Tuhan berbicara tentang penghakiman menurut perbuatan. Tuhan menjaga ukuran itu sampai semuanya selesai.
Ayat berikutnya membuat kita gemetar: “Barangsiapa meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, sekalipun yang paling kecil… ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan… ia akan menduduki tempat yang tinggi.” (Matius 5:19). Ini bukan ancaman kosong. Ini menunjukkan ada kualitas, ada tingkat, ada posisi. Banyak orang ingin masuk surga seolah-olah surga itu satu ruangan tanpa strata dan tanpa tanggung jawab. Padahal firman menunjukkan ada tempat rendah dan tempat tinggi. Ada kehidupan kekal sebagai anggota masyarakat dunia yang akan datang, dan ada panggilan menjadi keluarga kerajaan yang memerintah bersama Kristus. Ini bukan soal Tuhan pilih kasih, tetapi soal kelayakan dan kesiapan.
Lalu Tuhan memberi standar yang lebih tajam lagi: “Jika hidup kebenaranmu tidak lebih benar daripada hidup ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Matius 5:20). Kata dikaiosune di situ berbicara tentang kebenaran yang nyata—bukan sekadar kegiatan keagamaan. Ingat pula konteksnya: ketika Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit, Ia belum membuka sepenuhnya tentang salib dan kebangkitan secara gamblang. Tuhan sering menyembunyikan identitas-Nya dan menunggu waktu. Karena itu Ia berbicara dari titik yang dapat dipahami para pendengar: “Kamu harus melampaui Farisi.” Namun melampaui itu bukan berarti menjadi lebih religius secara lahiriah, melainkan memiliki kualitas batin dan tindakan yang selaras dengan kehendak Bapa. Nanti seluruh Injil akan menuntun mereka kepada pengertian bahwa semua itu hanya mungkin karena Kristus dan hanya mungkin oleh Roh Kudus.
Di sini kita harus jujur, firman ini bisa membuat kita frustrasi jika kita membacanya dengan mental “usaha manusia tanpa Kristus.” Sebab memang tidak ada manusia yang sanggup hidup sempurna. Sembilan perintah ditaati, satu dilanggar—tetap gagal. Karena itu jangan kembali kepada kesombongan moral. Tetapi juga jangan lari ke sisi yang lain dengan berkata, “Berarti bebas saja.” Tidak demikian. Injil bukan meniadakan hukum; Injil adalah kuasa untuk menggenapi hukum. Salib membuka jalan, Roh Kudus memberi kekuatan, kebenaran memberi arah, dan ketaatan menjadi bukti bahwa iman itu hidup.
Maka renungan pastoralnya begini, Saudara jangan alergi mendengar kalimat “dihakimi menurut perbuatan.” Justru itu adalah alarm kasih Tuhan. Tuhan sedang menolong kita supaya tidak tertipu oleh agama yang hanya di kulit. Kita boleh aktif, boleh melayani, boleh berkegiatan rohani—tetapi jika karakter tidak berubah dan kebenaran tidak dikenakan, kita sedang menuju bahaya. Pada titik ini wajar jika kita merasa takut—takut yang sehat. Takut yang membuat kita merapat kepada Tuhan, bukan takut yang membuat kita putus asa.
Jadi mari kita tetap ingat dua pegangan yang menenangkan sekaligus meneguhkan. Pertama, keselamatan hanya oleh Yesus Kristus—tanpa salib, tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dunia yang akan datang. Kedua, karena Kristus sudah menang, sekarang kita dipanggil untuk hidup setia, taat, bertumbuh, bahkan melampaui standar kebenaran lahiriah—sampai kehidupan kita sungguh lebih benar, karena kita berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Ketika kita jatuh, kita bertobat; ketika kita lemah, kita meminta pertolongan; ketika kita ragu, kita kembali kepada firman. Sebab tujuan Tuhan bukan membuat kita tertekan, melainkan membuat kita disempurnakan.