Skip to content

Diadili Menurut Perbuatan

 

Kalau kita membaca firman Tuhan—Matius 7:16; Roma 2:6, 12; 2 Korintus 5:9–10; 1 Petrus 1:17; Wahyu 2:23; 20:12–13; 22:12—nadanya jelas: manusia dihakimi menurut perbuatannya. Anehnya, banyak orang Kristen justru alergi mendengar kalimat itu. Padahal Paulus sendiri berkata bahwa ia berusaha hidup berkenan, sebab ia tahu ada takhta pengadilan yang harus dihadapinya. Jadi kita ini tidak sedang bermain-main. Iman bukan sekadar ucapan yang terdengar rohani; iman itu terlihat. Perbuatan tidak menggantikan iman, tetapi perbuatan menunjukkan bahwa iman itu hidup. Dalam Alkitab tidak pernah dikatakan dihakimi menurut iman; yang dinyatakan berulang-ulang adalah menurut perbuatan, karena perbuatan merupakan bukti apakah iman itu hidup atau mati.

Karena itu menjadi Kristen memang tidak mudah. Hukum Taurat dahulu diberikan kepada Israel supaya bangsa itu hidup tertib, dan faktanya hal itu membentuk kualitas hidup yang kokoh. Taurat menjadi landasan hukum. Roma 4:15 mengatakan bahwa jika tidak ada Taurat, tidak ada pelanggaran—artinya tidak ada ukuran, tidak ada standar, tidak ada KUHP-nya. Maka Roma 2:12 pun masuk akal: yang berdosa tanpa Taurat akan binasa tanpa Taurat, dan yang berdosa di bawah Taurat akan dihakimi oleh Taurat. Jadi ada hukum, ada ukuran. Ada yang tertulis di loh batu supaya manusia tidak menebak-nebak mana yang benar, dan ada pula yang tertulis di hati sehingga manusia memiliki kesadaran moral dasar.

Saudara, jika kita jujur, bangsa Israel itu unik. Mereka mewarisi hukum Tuhan, cara Tuhan membentuk kehidupan, sehingga karakter Ilahi dapat dikenali. Itu bukan sekadar cerita agama; itu menjadi kerangka hidup sebuah bangsa. Ada ritme Sabat, ada kekudusan keluarga, ada aturan makanan, ada tertib sosial. Ada hal-hal yang mungkin terdengar ketat, tetapi justru ketat itu melahirkan kekokohan. Bahkan jika kita melihatnya dari sisi praktis, hukum itu membuat kehidupan lebih sehat dan lebih tertib. Itulah sebabnya ketika Tuhan memberi Taurat, itu bukan untuk menyiksa manusia, melainkan untuk menuntun manusia agar hidup tidak liar dan tidak saling menghancurkan.

Di akhir zaman nanti, penghakiman itu tetap berdasarkan perbuatan. Wahyu 20:12–13 menggambarkan kitab-kitab dibuka dan manusia dihakimi menurut perbuatannya. Kitab-kitab itu dapat dipahami sebagai ukuran-ukuran moral yang Tuhan izinkan diketahui manusia: pada Israel melalui Taurat yang tertulis di loh batu, dan pada bangsa-bangsa lain melalui hukum yang tertulis di hati serta etika yang mereka pahami. Setiap suku bangsa memiliki cara menerapkan prinsip moral—Israel memiliki mishpatim, yaitu penerapan Sepuluh Perintah dalam peraturan yang kontekstual. Bangsa-bangsa lain mungkin berbeda bentuknya, tetapi prinsipnya sama: Tuhan tidak membiarkan manusia hidup tanpa ukuran.

Lalu muncul pertanyaan yang sering menimbulkan perdebatan: “Kalau begitu, keselamatan bukan karena perbuatan baik, bukan?” Inilah titik yang harus dipahami dengan jernih. Perbuatan baik—bahkan jika seseorang mampu menjalankan Sepuluh Perintah dengan sangat baik—tetap tidak menyelamatkan, sebab manusia sudah jatuh dan terjual di bawah hukum dosa. Yang membuka pintu keselamatan adalah karya Tuhan Yesus di kayu salib. Hanya Dia yang sempurna, hanya Dia yang menang. Jika Yesus tidak mati dan bangkit, tidak ada seorang pun yang memiliki pengharapan untuk masuk ke dalam dunia yang akan datang. Jadi only by Christ—itulah fondasinya.

Tetapi setelah pintu itu dibuka oleh Kristus, kita tidak dapat berkata, “Kalau begitu, walaupun hidup saya buruk, saya tetap selamat.” Tidak demikian. Tuhan Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Ketika Roh Kudus diberikan dan kebenaran dinyatakan, maka yang dahulu mustahil menjadi mungkin: kita dimampukan untuk taat. Bahkan lebih dari itu, Tuhan berkata, “Hendaklah kamu sempurna seperti Bapamu yang di surga.” Inilah “plus”-nya anak-anak Allah. Jadi anugerah bukanlah karpet untuk menutupi kehidupan yang sembarangan; anugerah adalah kuasa untuk mengubah kehidupan.

Hal ini juga membuat cara kita memandang “orang luar” menjadi lebih jernih. Jangan merasa bahwa Tuhan “kemaruk” menarik semua orang masuk ke dalam label Kristen, seolah-olah Tuhan hanya peduli pada statistik agama. Yang Tuhan kehendaki adalah manusia hidup dalam kebenaran. Maka kesaksian kita bukan ancaman, melainkan kehidupan yang memancarkan kualitas. Ada orang yang belum mengenal Injil dengan benar, ada yang tidak pernah mendengar, ada pula yang mendengar versi yang salah. Penghakiman Tuhan itu adil; Tuhan melihat perbuatan dan respons batin manusia. Namun bagi kita yang sudah mengenal Kristus, ukuran kita lebih tinggi: bukan sekadar baik, melainkan serupa Kristus.