Skip to content

Melukis Kesucian Hidup

 

Matius 5:17

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Mengapa Tuhan memberikan Hukum Taurat? Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Tentu Taurat di sini maksudnya adalah Torah. Torah artinya hukum. Yang dimaksud dengan Hukum Taurat di sini tentu menunjuk pada inti hukum. Inti hukum Taurat adalah kasih: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap akal budi, segenap kekuatan, dan kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri” (Mat. 22). Ini penting. Landasan Hukum Taurat adalah Sepuluh Perintah Tuhan atau Dekalog. Matius 22:40 berkata, “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi.” Seluruh Sepuluh Perintah Allah ini diringkas menjadi dua: Matius 22:37, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Mengapa Tuhan menyebut Hukum Taurat, bukan Dekalog atau Sepuluh Perintah Allah? Perlu kita ketahui bahwa pada saat itu konteksnya Tuhan Yesus berada di tengah-tengah orang Yahudi. Sepuluh Perintah Allah merupakan sumber perundang-undangan mereka; sebagaimana di Indonesia Pancasila menjadi dasar negara. Butir-butir pelaksanaan dari Sepuluh Perintah Allah itu dijabarkan dalam berbagai peraturan yang disebut mishpatim atau undang-undang sipil. Tuhan Yesus tentu menggunakan istilah Hukum Taurat dalam konteks Yahudi. Semua perundang-undangan yang dibuat oleh Musa—tentu dalam pimpinan Bapa di surga—pasti menyangkut dua hal ini: Allah dan sesama. Dalam konteks orang Yahudi itulah Tuhan menggunakan kalimat, “Aku datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat.” Dengan melakukan Hukum Taurat, seseorang melukis kesucian Tuhan dalam hidupnya, sehingga hidupnya berkualitas atau memiliki hidup kekal.

Perhatikan pertanyaan orang muda dalam Matius 19:16–19: “Apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Artinya supaya ia memiliki hidup yang berkualitas. Lalu apa jawaban Yesus? “… jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta….” Itu adalah isi dari Sepuluh Perintah Allah. Jadi Hukum Taurat menciptakan kesucian hidup atau hidup kekal dalam kualitas tertentu. Inti hukum tersebut dijabarkan dalam berbagai peraturan di bangsa Israel (mishpatim), dan hal ini membuat bangsa Israel memiliki kesantunan hidup yang tinggi.

Tuhan Yesus datang untuk menggenapi (Yun. plēroō, plērōsai), yang artinya memenuhi atau menyempurnakan. Dari pernyataan Tuhan Yesus ini—bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan—Tuhan hendak menegaskan kepada para pendengar-Nya pada waktu itu bahwa Ia datang bukan untuk membuat orang hidup tanpa hukum atau untuk mengkhianati Taurat, melainkan untuk membuat manusia dapat melakukan hukum dengan sempurna. Tentu Tuhan Yesus terlebih dahulu menggenapi semua hukum itu dalam diri-Nya sendiri, dan Ia juga mengajarkan para pengikut-Nya untuk menggenapinya dalam hidup mereka.

Dalam hal ini kita jangan berpikir bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang menggenapi Sepuluh Perintah Allah dengan melakukannya bagi orang percaya. Tuhan Yesus memang melakukan hukum untuk kita, tetapi bukan berarti bagian kita sudah selesai. Dia harus menjadi corpus delicti—Dia harus menaklukkan dosa dengan kesucian hidup-Nya. Tentu hukum itu Ia lakukan, bahkan lebih dari sekadar melakukan hukum: Tuhan Yesus melakukan kehendak Bapa di surga. Kita jangan berpikir bahwa karena Tuhan melakukan semuanya itu, maka bagian kita tidak ada lagi. Orang percaya tetap harus melakukannya.

Namun telah terjadi pembodohan yang menyesatkan, seakan-akan Tuhan Yesus sudah melakukannya untuk kita sehingga kita tidak perlu melakukannya, atau tidak perlu melakukannya secara sungguh-sungguh. Apalagi dengan pengajaran only by grace—hanya oleh anugerah—ditambah dengan kenyataan bahwa hidup suci itu sulit dan hidup benar itu tidak mudah, maka seakan-akan muncul pembenaran: “Memang hidup suci itu susah, jadi tidak apa-apa kalau kita tidak terlalu ekstrem.” Ini merusak. Ini pembodohan. Ini adalah kesesatan.