Yohanes 10:10
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Kata hidup dapat menunjuk pada pengharapan, yaitu masa depan di dalam kekekalan, tetapi juga dapat menunjuk pada gaya hidup. Kata hidup dalam ayat ini adalah zoe, bukan bios. Hidup yang berkelimpahan bukan berarti banyak secara kuantitas, melainkan berkualitas tinggi (perissos). Dunia kita telah begitu rusak. Dunia menilai seseorang dari jam tangan yang dipakai, dari berlian yang dimiliki, dari merek mobilnya, dari kekayaan dan pangkatnya. Hal-hal itulah yang seolah-olah memberi nilai atau kualitas pada seseorang. Tanpa disadari kita ikut tersesat dalam penilaian tersebut. Jika tidak menggunakan barang dengan merek tertentu, kita merasa kurang percaya diri. Mengapa demikian? Karena itulah gaya hidup yang ditetapkan oleh dunia—lifestyle yang menyesatkan.
Seharusnya gaya hidup kita adalah gaya sikap hati. Walaupun kita berada dalam profesi yang sering dianggap rendah—misalnya sebagai pembantu rumah tangga—kita tidak perlu merasa rendah diri. Kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh jabatan, pekerjaan, atau pakaian yang kita kenakan, melainkan oleh sikap batin yang memancarkan kemuliaan Tuhan. Ujian yang paling sering kita hadapi justru terjadi ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang dianggap kecil: pembantu, sopir, bawahan, atau orang-orang di jalan. Misalnya ketika kita meminta seseorang membantu mengangkat barang kita. Bagaimana nada bicara kita? Kata-kata apa yang kita gunakan? Sering kali hanya karena uang sepuluh ribu rupiah orang bisa bertengkar. Anak Tuhan macam apakah itu? Persoalannya bukan semata-mata tentang uang.
Dalam segala hal kita harus memancarkan terang. Ketika kita berhadapan dengan bawahan, orang yang sedang mengalami kesusahan, atau orang yang secara sosial lebih lemah—orang yang sebenarnya bisa saja kita perlakukan dengan semena-mena—justru di situlah gaya hidup kita harus memancar. Ketika kita dibenci, disakiti, dan dilukai, di situlah terang kita seharusnya bersinar. Jika kita ingin menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dan membuat terang kita menyala, kita harus berani menghadapi keadaan yang ekstrem. Bagaimana seorang petinju dapat menunjukkan kepiawaiannya jika ia tidak menghadapi lawan yang sepadan? Demikian pula terang kita akan terlihat ketika kita berada dalam kondisi yang berat. Gaya hidup anak Tuhan yang sejati akan tampak ketika ia berada dalam situasi yang ekstrem—dibenci, disakiti, dan dilukai. Kondisi ekstrem justru membuat terang kita memancar.
Matius 5:15–16 mengatakan, “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”
Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan mangkuk. Pelita itu justru diletakkan di tempat yang tinggi agar terlihat dan menerangi semua orang. Bagaimana terang itu diangkat? Salah satunya melalui situasi-situasi yang ekstrem. Ketika kita menghadapi kondisi seperti itu, sebenarnya kita sedang dipersiapkan untuk diangkat. Namun hal itu tidak terjadi secara otomatis. Kita harus memiliki kualitas hidup yang dapat dipercaya oleh Tuhan. Jika kita mampu bertahan ketika menghadapi tekanan—seolah-olah menghadapi panas yang semakin tinggi—maka Tuhan dapat menempatkan kita di tempat yang lebih tinggi, dan Tuhan dapat berkata, “Aku bangga dengan anak-Ku ini.”
Ketika Alkitab mengatakan “semua orang,” itu berarti tidak ada pengecualian. Kita akan bertemu dengan berbagai macam orang: orang yang sulit, orang yang pelit, bahkan orang yang jahat. Justru kepada mereka itulah terang kita harus bersinar. Betapa luar biasanya firman Tuhan. Marilah kita membuktikan dalam kehidupan kita setiap hari bahwa kondisi yang ekstrem justru dapat membuat hidup kita bercahaya. Masalahnya, sering kali kita gagal karena kita tidak sabar dan tidak tekun. Oleh sebab itu marilah kita belajar menjadi terang, sehingga orang lain dapat “membaca” kehidupan kita seperti sebuah buku terbuka, bahkan sampai mereka ikut memuliakan Bapa di surga.