Skip to content

Garam Dunia

 

Matius 5:13

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus sering menggunakan benda-benda sebagai alat peraga untuk mengungkapkan atau mengajarkan suatu kebenaran. Dalam ayat ini Tuhan Yesus menggunakan garam sebagai alat peraga-Nya. Tentu Tuhan tidak salah memilih benda yang satu ini sebagai alat peraga. Mengapa menggunakan garam? Sebab garam adalah benda yang memiliki banyak fungsi. Adapun fungsi garam antara lain menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, membantu penyerapan nutrisi, mengawetkan makanan, menguatkan aroma dan rasa alami, menghilangkan bau tidak sedap, membersihkan noda, serta menjadi salah satu bahan baku industri kimia. Bahkan garam juga digunakan untuk mencairkan timbunan salju, dan lain sebagainya. Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa garam memiliki banyak fungsi.

Masyarakat Venesia menggunakan Laut Tengah untuk memperoleh garam di tambak-tambak mereka. Orang Yahudi juga memiliki persediaan garam yang berlimpah. Banyak garam terdapat di pantai Laut Mati. Selain itu, garam juga diperoleh dari suatu bukit yang disebut Bukit Garam, yaitu sebuah dataran tinggi seluas sekitar 4.000 hektare di sudut barat daya Laut Mati, daerah yang dikenal sebagai tempat di mana istri Lot pernah menjadi tiang garam. Garam jenis ini terbentuk dari karang atau fosil. Karena ketidakmurnian dan perubahan-perubahan kimiawi, lapisan garam ini kurang sedap dan dapat menjadi tawar. Itulah sebabnya garam dapat kehilangan rasa asinnya.

Karena pentingnya benda ini, pada zaman Antiochus Epiphanes dari Syria pernah ditetapkan pajak atas garam. Hasil dari pembayaran pajak tersebut diberikan kepada pemerintah Roma. Garam di Israel pada waktu itu berbeda dengan garam di Indonesia pada masa sekarang. Di Palestina, karena proses kimiawi tertentu, garam dapat kehilangan rasa asinnya serta unsur-unsur penting yang ada di dalamnya. Akibatnya garam dapat menjadi tawar dan tidak berguna sama sekali. Garam tersebut menjadi sampah, bahkan diinjak-injak orang, sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Jadi pada intinya, garam itu sangat penting dan memiliki banyak fungsi. Garam merupakan salah satu benda yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya adalah garam dunia—yang menunjuk pada wilayah yang luas, bukan hanya satu daerah—maka maksudnya adalah bahwa orang percaya harus memiliki kualitas hidup yang tinggi. Sebagaimana garam memiliki banyak fungsi dan nilainya tinggi, demikian pula kehidupan orang percaya harus bernilai tinggi. Tinggi di sini berkenaan dengan kebutuhan manusia, yaitu sesuatu yang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, seorang anak Allah wajib memiliki kualitas hidup yang baik dengan mengembangkan diri dalam berbagai aspek, sesuai dengan kemampuan, bakat, atau talenta yang Tuhan berikan. Dengan demikian kemampuan khas yang dimiliki setiap individu dapat muncul.

Namun hal ini baru merupakan sebuah awal atau langkah dasar. Sebab hal tersebut juga dapat dilakukan oleh setiap orang. Artinya, orang di luar kekristenan pun dapat mengembangkan dirinya dengan mengembangkan potensi umum yang dimiliki setiap individu. Jika potensi umum saja tidak dikembangkan, bagaimana mungkin seseorang dapat mengembangkan potensi khusus yang dimiliki orang percaya, yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak percaya? Oleh sebab itu orang percaya tidak boleh malas. Kemalasan adalah suatu bencana karena merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab. Bagi orang-orang muda harus disadari bahwa mengembangkan semua potensi merupakan langkah awal menuju pelayanan yang besar. Oleh karena itu hal tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh demi Tuhan.

Tidak bermaksud mengecilkan keberadaan siapa pun atau melecehkan, tetapi jika seseorang bodoh, sakit-sakitan, miskin, dan tidak memiliki kemampuan apa pun, maka ia tidak berguna. Bukan hanya bagi Tuhan, tetapi bahkan bagi dunia di sekitarnya pun ia dapat dianggap tidak berarti. Misalnya, sebagai seorang pendeta, jika kita tidak bermutu, tidak memiliki wawasan yang luas, serta tidak mampu menggali firman Tuhan dengan benar, siapa yang akan mengundang kita untuk berkhotbah? Siapa yang akan mempercayakan pelayanan kepada kita? Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita bekerja di mana pun dan berada di tengah masyarakat, jika kita tidak memiliki potensi—bahkan potensi umum sekalipun—kita tidak akan berguna.