Skip to content

Mengampuni

 

Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan, “Dan ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Artinya, Doa Bapa Kami hanya layak diucapkan oleh orang yang memiliki eleēmones, yaitu hati yang murah dan berbelaskasihan. Jangan mengucapkan Doa Bapa Kami jika tidak memiliki hati yang murah. Selama ini kita sering mengucapkannya tanpa pengertian yang benar. Jika kita sungguh rindu hidup benar, Tuhan akan mendidik kita. Dalam Markus 11:24-26 Tuhan menegaskan bahwa respons-Nya terhadap doa kita sangat bergantung pada hubungan kita dengan sesama. Jika kita hendak membawa persembahan—doa, penyembahan, atau pujian—tetapi ada ganjalan terhadap saudara kita, maka kita harus menyelesaikannya terlebih dahulu. Di sinilah letak keagungan moral Kekristenan.

Jika suatu saat kita bertemu dengan orang yang memusuhi kita, kita harus mengusahakan hidup damai dengan semua orang (Ibr. 12:14-15). Harus diakui, banyak penyakit bukan hanya karena virus, melainkan karena akar pahit yang terus dipelihara di dalam hati—kepahitan dan dendam yang tidak dibereskan. Tidak ada keuntungan menyimpan dendam; yang ada hanyalah kerusakan batin.

Dalam Matius 18:21-23 Tuhan mengajarkan kepada kita: Pertama, bagaimana mengampuni. Petrus mencoba menawarkan standar pengampunan versi orang Yahudi. Orang Yahudi biasa mengampuni sampai tiga kali. Petrus merasa sudah lebih rohani ketika menawarkan tujuh kali. Namun Tuhan Yesus menetapkan tujuh puluh kali tujuh kali—artinya tanpa batas. Tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk tidak mengampuni orang lain.

Kedua, standar pengampunan kita harus seperti Tuhan. Efesus 4:32 dan Kolose 3:13 menyatakan bahwa kita harus mengampuni semua kesalahan, tanpa menyisakan sedikit pun. Jangan membangkit-bangkitkan kesalahan masa lalu seseorang, sebab itu tanda masih ada dendam dan keinginan menghukum. Mengampuni berarti tidak lagi menyimpan kesalahan itu dalam hati dan tidak menikmati kepahitan tersebut. Ampunilah secara tuntas, terutama orang-orang yang dekat dengan kita, seperti pasangan hidup.

Jangan menaruh dendam, karena dendam menyiksa diri sendiri. Terimalah kekurangan mereka seperti duri dalam daging yang juga dialami Paulus, ketika ia berkata bahwa dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Sikap ini membuat hati tenang dan merdeka. Jika Tuhan mengizinkan ketidaknyamanan dalam hidup, bersyukurlah, sebab kenyamanan sering membuat kita lupa akan kehidupan yang akan datang. Hal-hal yang berada di luar kesanggupan kita, serahkan kepada Tuhan. Kita harus memperbesar kapasitas jiwa kita seperti yang Bapa kehendaki. Semua ini adalah cara Tuhan mendewasakan kita, dan di situlah kita mengalami kemurahan-Nya.

Setelah pasangan hidup, orang yang sering melukai kita adalah mereka yang kita hormati. Luka dari orang yang kita hormati sering kali lebih dalam. Namun justru melalui kepahitan itu Tuhan mengajar kita melihat ke dalam diri sendiri. Ia melatih kita menjadi pribadi yang tangguh. Ketika diperlakukan tidak adil atau dilukai, kita harus mengampuni. Pandanglah setiap peristiwa yang melukai sebagai sarana kasih karunia Tuhan, karena melalui semua itu Ia sedang mendewasakan kita. Di kekekalan nanti kita akan mengerti betapa indahnya proses pembentukan yang menyempurnakan itu.

Jika memperoleh kemurahan dari pejabat yang berkuasa saja sudah sangat menguntungkan bagi kehidupan jasmani kita, terlebih lagi jika kita memperoleh kemurahan dari Tuhan Semesta Alam yang memiliki segala kuasa dan kemuliaan. Namun untuk itu dibutuhkan keberanian untuk percaya dan bertindak sesuai dengan firman Tuhan dalam Matius 5:7, supaya kita sungguh-sungguh memperoleh kemurahan tersebut. Orang yang murah hati adalah orang yang bersedia mengampuni orang yang bersalah. Jika lemah lembut berarti rela diperlakukan tidak adil, maka murah hati berarti rela mengampuni. Kita melakukan ini bukan semata-mata karena kewajiban, tetapi karena kita memang tidak bisa tidak mengampuni. Bukan hanya untuk dilakukan, tetapi untuk menjadi—not just to do, but to be. Kerinduan kita adalah mengampuni sebagai kenikmatan, bukan sebagai beban perintah.