Matius 5:6
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan”
Kata lapar dan haus digunakan dalam pengertian umum. Lapar dan haus merupakan mekanisme tubuh yang normal dan sehat. Tubuh yang sehat memiliki dorongan tersebut; ini adalah ciri semua makhluk hidup. Tuhan Yesus menggunakan dorongan ini sebagai gambaran utama kehidupan orang Kristen yang benar. Lapar dan haus menunjukkan dorongan kuat dalam pencarian akan kebenaran sebagai suatu kebutuhan. Kebenaran di sini pada prinsipnya adalah Allah sendiri. Firman Tuhan berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Kebenaran dalam teks ini berkaitan dengan pengajaran dan mutu kehidupan, yaitu kebenaran Allah yang membangun hubungan yang benar, ideal, dan proporsional dengan-Nya.
Jadi, Kehausan dan kelaparan akan kebenaran adalah kerinduan untuk semakin mengenal Tuhan agar memiliki hubungan yang harmonis dengan-Nya. Tuhan merindukan setiap orang mengenal-Nya dengan sungguh-sungguh supaya hubungan itu menjadi nyata. Tuhan adalah misteri terbesar dalam kehidupan. Jika seseorang tidak mengenal kebenaran, ia dapat salah mengenal Tuhan—mengenal sosok yang sebenarnya bukan Tuhan menurut Alkitab. Karena itu, kita harus berjuang mengenal Tuhan dan menghadirkan karakter-Nya dalam hidup kita. Orang percaya dipanggil sampai pada tahap di mana sesamanya dapat merasakan kehadiran Kristus melalui kehadirannya. Hal ini dimulai dengan menghidupkan perasaan Tuhan dalam diri kita setiap saat.
Untuk itu, kita harus berani mematikan nafsu, keinginan, ambisi, dan cita-cita terhadap apa pun dan siapa pun yang menghalangi. Tujuannya agar kita mencapai tingkat kerinduan yang mendalam untuk mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya. Ia adalah Allah yang hidup, dan tidak ada yang lebih mulia daripada mengenal-Nya. Kita tidak boleh menyisakan celah untuk menikmati kesenangan lain yang menggeser Tuhan dari pusat hidup kita. Jika masih ada celah bagi dunia, cinta kita kepada Tuhan tidak akan utuh. Karena itu, kita harus memperhatikan gerak pikiran yang terarah pada objek-objek lain yang membuat kita kurang mengingini Tuhan.
Saat kita haus dan lapar akan kebenaran, kerinduan itu dapat terlihat seperti fanatisme. Pada orang yang baru bertobat, mungkin kerinduan itu belum kuat. Namun jika perjalanan kekristenan sudah berlangsung lama, seharusnya ada peningkatan kerinduan kepada Tuhan. Jika kerinduan seorang Kristen lama tetap rendah, kemungkinan besar ia masih dikuasai oleh keinginan akan banyak hal jasmani.
Dalam Yohanes 4 dikisahkan perempuan Samaria yang mencari hal-hal yang bukan kebutuhan utamanya karena ia tidak menyadarinya. Kebutuhan utama manusia sesungguhnya adalah Tuhan sendiri. Kita tidak boleh mengingini Tuhan demi mendapatkan sesuatu dari-Nya, melainkan karena tanpa Dia kita tidak mengenal kehidupan yang sejati. Jadilah seperti Maria yang memilih duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan suara-Nya. Ia memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil darinya. Maria tidak sibuk dengan banyak hal; yang terpenting baginya adalah berdiam di kaki Tuhan, belajar firman-Nya, serta memahami kehendak dan rencana-Nya.
Apa yang dianggap sebagai kebutuhan, jika keliru, justru dapat menjauhkan seseorang dari persekutuan dengan Tuhan. Dunia dengan segala tipu dayanya dapat memperdaya orang percaya melalui filosofi yang membuat mereka tidak sungguh-sungguh melekat kepada Tuhan. Jika seseorang tidak memiliki rasa haus dan lapar akan kebenaran, ia akan hanyut dalam percintaan dunia. Kita harus sadar bahwa kebutuhan terdalam kita hanyalah Tuhan. Karena itu, pahamilah kehendak-Nya dan jangan larut dalam kesibukan dunia sehingga mengendurkan pencarian akan kebenaran. Langkah bijaksana adalah berani memilih yang utama—dan satu-satunya pilihan utama itu adalah Tuhan.