Skip to content

Harus Mau Selalu Berubah

 

Jika kita mau menjadi besar di mata Tuhan, tidak ada cara yang mudah; harus ada proses pembentukan. Untuk memasuki proses itu, seseorang harus memiliki kelemahlembutan. Unsur-unsur negatif dalam diri dan karakter kita harus dikikis, dan pengikisan itu menyakitkan, bahkan bisa sangat menyakitkan. Tanpa kelemahlembutan, mustahil kita dapat dibentuk oleh Tuhan. Firman Tuhan dalam Matius 18:3 mengatakan bahwa jika kita tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Karena itu, kita harus memiliki hati yang lentur untuk dibentuk oleh Tuhan. Inilah kelemahlembutan yang Tuhan kehendaki.

Tujuan kita belajar kebenaran bukan sekadar mengisi pikiran dengan pengertian teologi, melainkan sungguh-sungguh menjadi pelaku firman. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menyukakan hati Tuhan melalui perbuatan yang sejalan dengan firman yang telah kita pelajari. Kita harus selalu merasa bahwa kita belum menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Melalui teguran, nasihat, dan hajaran Tuhan, seseorang harus mau terus berubah. Jangan berpikir bahwa anugerah adalah “all in” yang otomatis membuat kita masuk surga. Pemikiran seperti ini sangat menyesatkan dan mengganggu orang yang sungguh-sungguh ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Anugerah tidak otomatis membuat seseorang menjadi sempurna. Seseorang harus bertobat seperti anak kecil melalui proses perubahan pikiran. Hal ini bukan terjadi dalam satu momentum, melainkan melalui proses panjang yang berlangsung terus-menerus. Pembaruan pikiran tidak akan terjadi jika kita tidak menyediakan perhatian yang sungguh-sungguh untuk itu. Berbahagialah kita yang terus mengisi pikiran dengan kebenaran firman Tuhan. Tuhan akan memberikan firman sesuai dengan tingkat kedewasaan rohani kita. Dalam bahasa Yunani, Matius 18:3 menggunakan kata paidion, yaitu anak usia sekitar 7–14 tahun, usia yang efektif untuk dididik. Setinggi apa pun pencapaian kita dalam akademis atau bisnis, kita tetap harus memiliki kelenturan hati seperti anak usia tersebut. Tuhan dapat mewarnai jiwa kita jika kita memberi diri untuk diwarnai.

Yeremia 18:1-6 menjelaskan bahwa Tuhan seperti penjunan yang membentuk kita. Dalam setiap peristiwa yang kita lihat, dengar, dan alami, kita harus bertanya: bagian mana dalam diriku yang hendak Tuhan bentuk? Orang yang lemah lembut adalah orang yang merindukan pembentukan Tuhan setiap saat melalui segala peristiwa hidupnya. Kerinduan ini bukan untuk memanipulasi Tuhan, melainkan karena kita ingin menikmati Tuhan. Seseorang tidak dapat menikmati Tuhan jika tidak memiliki sikap rela menerima setiap kejadian sebagai sesuatu yang Tuhan izinkan untuk kebaikan. Jika terus bersungut-sungut atas peristiwa yang dialami, seseorang tidak akan pernah haus dan rindu akan Tuhan.

Kita harus menyadari bahwa pembentukan Allah dapat terjadi melalui peristiwa-peristiwa yang menggores sangat dalam jiwa kita. Untuk menghasilkan perubahan yang intens, Tuhan dapat mengizinkan goresan yang dalam melalui berbagai peristiwa. Pada usia tertentu, demi percepatan pertumbuhan, Tuhan bisa mengadakan pembentukan melalui pengalaman yang sangat menyengat dan mengganggu jiwa. Goresan itu menghasilkan perubahan yang signifikan. Orang saleh seperti Ayub pun mengalami pembentukan yang hebat. Dalam Ayub 23:10 tertulis, “Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Untuk mencapai kadar kemurnian yang tinggi, Ayub harus melalui goresan yang sangat dalam.