Skip to content

Mau Menerima Teguran

 

Keempat, orang yang lemah lembut adalah orang yang mau menerima teguran orang lain. Ia lentur dalam menerima teguran, peringatan, dan hajaran Tuhan (Yak. 1:21). Terimalah firman Tuhan dengan lemah lembut untuk dikenakan kepada diri sendiri, bukan untuk ditujukan kepada orang lain. Kita harus menjadi seperti anak-anak yang selalu bersedia diajar oleh Tuhan melalui firman-Nya. Datanglah kepada Tuhan dengan kerendahan hati, sebab suatu hari keadaan kita semua akan tampak jelas di hadapan-Nya. Karena itu, tidak ada yang perlu kita sombongkan hari ini, sekalipun kita kaya, cantik, tampan, atau cerdas.

Contoh seorang yang lemah lembut adalah Daud yang mau menerima teguran nabi Allah. Dalam 2 Samuel 12:13, ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan, ia berkata, “Aku telah berdosa kepada Tuhan.” Ini adalah hal yang luar biasa. Daud sebenarnya bisa saja membunuh Nabi Natan di depan umum karena teguran tersebut. Selanjutnya, ketika Daud melarikan diri dari kejaran Absalom, ia bertemu dengan Simei yang mengutukinya. Daud melarang hulubalangnya memenggal kepala orang itu. Ia menyadari bahwa jika peristiwa itu datang dari Tuhan, maka itu dapat menjadi teguran yang mendewasakannya. Jangan sampai kita mengeraskan hati sehingga Tuhan menghajar kita dengan lebih keras. Banyak orang menolak teguran karena merasa orang yang menegur tidak pantas menegurnya. Kita harus peka supaya tidak dipermalukan oleh Tuhan.

Jika kita ditegur Tuhan dan tidak mau berubah, kita sendiri yang akan menuai akibatnya. Ketika ditegur atau dikritik, kita harus mengamati isi teguran itu dengan saksama. Jangan melihat siapa yang menegur, tetapi apa yang ditegur. Jika benar, kita harus berterima kasih kepada orang yang telah menjadi saluran Tuhan untuk menegur kita. Tuhan selalu menegur dengan lemah lembut dan tidak mempermalukan kita, kecuali jika perbuatan kita memang telah melampaui batas.

Sering kali kita ditegur pada waktu dan tempat yang menurut kita tidak tepat. Akibatnya, kita menolak dan melawannya. Namun Daud tidak melawan. Karena itu wajar jika Tuhan menyebut dia seorang yang berkenan di hati-Nya. Daud bukan manusia sempurna yang tidak pernah bersalah, tetapi responsnya terhadap kesalahan itulah yang membuatnya agung dan indah. Dalam Mazmur 51:7 (TB), ia berkata, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Terlihat kelapangan hati dan kejujuran Daud mengenai dirinya. Kita harus memiliki kelapangan hati dan kejujuran mengenai keadaan kita yang belum sempurna, sehingga tidak mempersoalkan siapa, kapan, dan di mana teguran itu datang.

Ketika Tuhan memukul atau menghajar kita, kita harus menerimanya dengan rendah hati tanpa memberontak. Daud adalah teladan dalam penyerahan diri dan kesiapan untuk ditegur setiap saat. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat dan seberapa berat teguran yang perlu diberikan. Kelemahlembutan adalah modal utama agar seseorang mengalami pertumbuhan iman dan pembentukan menuju kesempurnaan. Yusuf juga mengakui bahwa penderitaan yang dialaminya bukan musibah, melainkan cara Allah memberkati hidupnya dan keluarganya di Kanaan.

Jika Yusuf tidak mengalami penderitaan yang berat, ia tidak akan menjadi Zafnat-Paaneah, penguasa kedua setelah Firaun yang menyelamatkan Mesir dan saudara-saudaranya. Yusuf yang dahulu manja dan sangat dilindungi ayahnya tidak dapat langsung dipercaya Tuhan untuk menjadi orang besar. Ia harus dibentuk dan diproses. Namun tanpa kelemahlembutan, seseorang tidak akan sanggup diproses oleh Tuhan.