Skip to content

Tidak Mendendam

 

Kedua, orang yang lemah lembut adalah orang yang tidak mendendam, tidak menyimpan kesalahan orang lain. Tuhan menghendaki agar kita menanggalkan kesalahan orang lain. Jika kenyataan ini kita lakukan, maka orang-orang di sekitar kita akan mengalami kasih Kristus yang sesungguhnya yang kita peragakan sebagai anak-anak Allah. Kita pasti akan menemui orang-orang yang melukai kita. Lalu bagaimana kita bisa mengampuni? Mengampuni bukan berarti kita membiarkan diri diperlakukan sesuka hati oleh orang tersebut. Tidak demikian. Kita tetap harus memiliki kebijaksanaan, hikmat, dan integritas supaya tidak merusak kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita.

Justru ketika kita diperlakukan tidak adil, di situlah kesempatan kita untuk bersaksi dan memancarkan cahaya Kristus. Tanpa digosok, cahaya itu tidak akan keluar. Jika kita berbuat baik hanya karena orang berbuat baik kepada kita, itu belumlah cahaya yang indah. Namun jika kita dapat berbuat baik kepada orang yang melukai kita, kepada orang yang memperlakukan kita tidak adil, barulah pancaran kasih Tuhan itu terlihat. Sangat mungkin kita mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja, dalam pergaulan, di sekolah, di kampus, bahkan di lingkungan gereja. Namun di situlah kita diberi kesempatan sebagai bangsawan surgawi untuk berperilaku seperti Kristus, yaitu menunjukkan kelemahlembutan.

Pada umumnya kita mudah berkata, “Aku tersinggung, aku marah, aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini.” Sikap seperti ini tidak boleh terus dipelihara. Jika itu muncul, berarti kita masih memiliki harga diri yang belum disalibkan. Apabila ada orang memperlakukan kita tidak adil, berpikirlah: sampai sejauh mana orang dapat hidup dan berbuat jahat kepada kita? Semua pasti ada batasnya, dan ada Tuhan yang membela kita. Sangat mungkin ada di antara kita yang sedang mengalami hal-hal seperti ini, sehingga kita berkata, “Aku marah, aku tersinggung.” Namun mari belajar untuk tidak jatuh ketika mengalaminya. Dengan sabar Tuhan membentuk kita melalui berbagai peristiwa, termasuk ketika kita diperlakukan tidak adil.

Hanya ada satu tempat di mana keadilan ditegakkan secara sempurna, yaitu di Langit Baru dan Bumi Baru. Tidak ada satu tempat pun di bumi ini yang sepenuhnya adil. Keadilan yang sempurna hanya ada dalam Kerajaan Bapa di surga. Karena itu, kita harus membuktikan kebenaran yang kita miliki melalui tindakan nyata. Kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup, maka kita harus mau dibentuk dan diubahkan oleh Tuhan.

Ketiga, orang yang lemah lembut adalah orang yang mau menerima keadaan orang lain sebagaimana adanya. Ia tidak memaksakan ukuran bajunya kepada orang lain, karena setiap orang memiliki ukuran yang berbeda. Tuhan Yesus adalah Pribadi yang lemah lembut. Dalam Matius 11:28-30 Tuhan berkata, “Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tuhan menerima keadaan kita yang letih lesu dan berbeban berat. Ia tidak menuntut kita melakukan sesuatu yang tidak mampu kita lakukan. Bahkan untuk hal-hal yang seharusnya dapat kita lakukan tetapi kita gagal melakukannya, Tuhan tetap menyambut kita. Dalam banyak bagian Perjanjian Baru, jelas terlihat bagaimana Tuhan menyambut pelacur dan pemungut cukai. Ini bukan berarti Tuhan berkompromi dengan dosa, melainkan karena Ia menerima orang berdosa. Hal inilah yang sering kali tidak kita lakukan.

Sering kali kita menyamakan antara perbuatan dan pribadi seseorang. Kita memang akan bertemu dengan orang-orang yang jahat dan buruk perilakunya. Namun mari meneladani Tuhan Yesus: kita membenci perbuatannya, tetapi tidak membenci orangnya. Mungkin di antara kita ada yang memiliki saudara atau kerabat seperti itu. Rasanya ingin menjauhkan diri atau membuangnya. Namun jika Tuhan masih mengajar kita untuk menerima, maka kita harus belajar menerimanya. Menerima bukan berarti hidup bersama atau membiarkan kejahatan terus berlangsung. Namun hati kita tidak boleh menyimpan dendam. Kita harus belajar menerima orang lain sebagaimana adanya. Justru ketika kita dapat menghadapi orang yang kaku, egois, mudah marah, mudah tersinggung, atau memiliki harga diri yang tinggi, lalu tetap bersikap benar terhadap mereka, di situlah keindahan karakter Kristus dinyatakan.