Skip to content

Menghidupkan Karakter Kristus

 

Ketika dunia benar-benar berakhir, keadaan manusia akan lebih parah daripada yang pernah diceritakan atau difilmkan. Ketika langit berguncang, manusia akan berada dalam krisis yang sangat besar. Tidak ada jalan keluar kecuali dipindahkan ke dunia lain, di mana tidak ada malapetaka. Berbahagialah kita yang masih ada di sini untuk berlindung dan semakin dekat kepada Tuhan. Karena itu, jangan setengah-setengah dalam mengikut Tuhan. Mengikut Tuhan bukan untuk kepentingan siapa pun, melainkan untuk menggenapi rencana Allah—kerinduan hati Bapa yang tidak menginginkan seorang pun binasa—dan juga untuk kepentingan kita sendiri supaya kita tidak binasa.

Kekristenan bukanlah agama, melainkan jalan hidup. Kita harus mengenali jalan hidup ini dengan benar dan sungguh-sungguh menjalaninya. Manusia tidak dapat menjangkau Tuhan hanya dalam satu atau dua jam; dibutuhkan waktu yang panjang—hari, minggu, bulan, bahkan tahun—untuk mengimbangi irama kesucian-Nya, keagungan moral-Nya, dan karakter-Nya. Jadikanlah gereja sebagai sekolah Alkitab, tempat setiap kali kita duduk bersama, ada sesuatu yang baru yang tertuang dari hati Tuhan dan kita terima; ada kebenaran yang mengalir dari takhta Bapa di surga yang kita tangkap dan yang mengubah hidup kita. Kita tidak akan pernah menyesal jika sungguh-sungguh menjalani hidup ini dengan benar.

Kebenaran-kebenaran yang disampaikan melalui mimbar yang murni dan menyelamatkan ini tak ternilai harganya. Tidak dapat dibayar dengan uang atau apa pun. Kita berdoa agar setiap kali kita berkumpul, hadirat Tuhan mengalir dengan deras, malaikat-malaikat mengelilingi kita, dan Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran-Nya. Orang-orang yang lemah lembut adalah pribadi yang rela diperlakukan tidak adil. Ini merupakan bagian dari mata pelajaran yang Tuhan berikan kepada kita. Seperti Tuhan berkata, “Sama seperti Aku menanggung semuanya ini, kamu juga akan mengalami apa yang Aku alami.” Jika kita mengalami perlakuan tidak adil, justru di situlah karakter Kristus sedang dibangkitkan dan dihidupkan dalam diri kita.

Sebagaimana Kristus mengosongkan diri dan meninggalkan kemuliaan-Nya, kita pun harus mengosongkan diri. Jangan mengikuti jalan dunia—memuaskan keinginan daging, memuaskan keinginan jiwa, dan terjebak dalam keangkuhan hidup. Keangkuhan hidup lebih dari sekadar kesombongan; ia adalah sikap merasa berhak atas hidup sendiri—berhak dipuji, disanjung, diperlakukan adil, dan ditempatkan di posisi terhormat. Apa yang dialami Tuhan Yesus juga akan dialami oleh orang-orang yang ditargetkan untuk menjadi seperti Dia. Jika Tuhan Yesus harus melalui berbagai ujian untuk mencapai satu titik tertentu, demikian pula kita. Mungkin tidak persis sama, tetapi tidak jauh berbeda.

Alkitab mengatakan, “Barangsiapa tidak rela kehilangan nyawanya karena Aku, ia tidak akan memperolehnya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Nyawa di sini menunjuk pada kesenangan hidup. Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang rela kehilangan kesenangan hidup. Rela kehilangan nyawa berarti mengosongkan diri, rela kehilangan hak untuk menikmati hidup seperti orang lain menikmatinya. Sejujurnya, betapa sulitnya kehilangan nyawa dan rela diperlakukan tidak adil. Inilah yang paling menyakitkan, apalagi jika yang memperlakukan kita tidak adil adalah orang-orang yang sebenarnya dapat kita tindas, yang tidak mampu membalas kita karena kita lebih kuat.

Kita justru akan menghadapi pencobaan yang lebih berat dalam situasi seperti itu. Jika kita berhadapan dengan orang kuat, kita memang tidak dapat membalas, dan itu relatif lebih mudah. Tetapi ketika kita berhadapan dengan orang lemah yang sebenarnya dapat kita balas, namun kita memilih untuk tidak membalas—itulah kelemahlembutan. Ketika kita diperlakukan tidak adil, mungkin kita mulai bersungut-sungut. Namun Tuhan mengingatkan kita, “Kamu telah berjanji ingin menjadi seperti Aku. Tidak ada cara mudah untuk menjadi seperti Aku, selain kamu harus digosok dengan amplas yang sama.”