Skip to content

Rela Diperlakukan Tidak Adil

 

Matius 5:7

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.”

Kita harus memandang apa yang diajarkan Tuhan Yesus sebagai suatu pencarian dan pergumulan untuk menemukan harta karun. Khotbah Tuhan Yesus di Bukit berfungsi sebagai peta harta karun atau petunjuk untuk memperolehnya. Sebab dalam Khotbah di Bukit—yang disebut sebagai “undang-undang emas”—terdapat kebenaran-kebenaran yang menuntun kita memperoleh harta surgawi yang tak ternilai. Harus diakui, banyak orang tidak memahami apa yang dimaksud dengan lemah lembut dalam Alkitab. Pada umumnya, pengertian di benak orang Kristen tidak tepat, sebab tanpa sadar mereka mengadopsi pengertian lemah lembut dari pengertian umum yang sudah mengakar dalam diri mereka dan merasa telah memahami makna kelemahlembutan itu. Inilah yang membuat mata rohani banyak orang menjadi buta, makin gelap, tidak memahami maksud kelemahlembutan menurut Alkitab, serta gagal menjadi pelakunya.

Lemah lembut dalam Matius 5 harus dimengerti dengan benar dari sudut pandang Tuhan. Kita harus belajar menangkap makna orisinal dari ayat ini. Jangan memahami lemah lembut sebagai “gerak lambat” atau “berbicara tidak keras dan tidak kasar,” karena hal tersebut hanyalah penampilan lahiriah. Bukan jaminan bahwa orang yang tampak lemah lembut secara lahiriah atau fisik berarti sungguh lemah lembut dalam arti yang dimaksud Alkitab.

Dalam 1 Petrus 3:4 dikatakan, “Perhiasanmu ialah manusia batiniah.” Kelemahlembutan harus berasal dari sikap batin, bukan dari penampilan lahiriah. Dalam Perjanjian Lama istilah ini muncul beberapa kali, misalnya dalam Amsal 15:1; 25:11; dan Ayub 40:22. Kata lemah lembut dalam ayat-ayat tersebut mengandung arti “meredakan kegeraman.” Lemah lembut dapat meredakan kegeraman atau kemarahan. Dalam Amsal 31:26, lemah lembut berarti “kasih karunia.” Jadi orang yang lemah lembut dapat memberikan kasih karunia kepada orang lain. Lemah lembut juga dapat berarti “rendah hati.”

Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk lemah lembut lebih menunjuk pada sikap batin. Jika kita menggali kekayaan firman Tuhan mengenai pokok ini dan melihat beberapa tokoh Alkitab yang diakui Tuhan sebagai lemah lembut, maka yang dimaksud dengan lemah lembut adalah sebagai berikut.

Pertama, pribadi yang rela diperlakukan tidak adil atau dilukai. Untuk mewarisi bumi dalam kehidupan yang akan datang, Tuhan tidak akan memuliakan seseorang tanpa proses seperti yang dialami Tuhan Yesus—Pribadi yang rela diperlakukan tidak adil dan dilukai. Inilah yang perlu kita pelajari. Pada umumnya, kita adalah orang-orang yang tidak rela dilukai dan tidak rela diperlakukan tidak adil. Kita merasa memiliki hak untuk tidak dilukai dan hak untuk diperlakukan adil. Dalam Perjanjian Lama, kita bertemu dengan sosok yang terkenal karena kelemahlembutannya, bahkan Alkitab menyatakan bahwa tidak ada orang selemah lembut dia. Tertulis dalam Bilangan 12:3 bahwa orang itu adalah Musa.

Ketika Musa melihat seorang Ibrani dibunuh, ia membunuh orang yang membunuh orang Ibrani itu. Hal ini menunjukkan bahwa Musa bukan orang yang lemah lembut secara fisik. Musa juga pernah marah hingga menghancurkan dua loh batu. Namun mengapa ia disebut lemah lembut? Ketika Musa ditentang oleh Harun dan Miryam, ia tidak membalas atau melukai mereka. Musa menyerahkan semuanya kepada kebijaksanaan Tuhan. Jika dilihat dari hierarki kepemimpinan umat Israel pada waktu itu, Musa adalah pucuk pimpinan. Walaupun Harun dan Miryam adalah saudara-saudaranya, Tuhan memercayakan kepemimpinan bangsa itu kepada Musa.

Melihat posisi strategis Musa, sangat mungkin baginya untuk melawan balik Harun dan Miryam. Ia bisa saja menegaskan bahwa dirinya adalah pucuk pimpinan. Namun Musa tidak melakukannya. Bahkan lebih luar biasa lagi, Musa mendoakan kakak-kakaknya dan mengampuni mereka supaya mereka tidak terkena tulah dari Tuhan. Inilah sikap yang agung. Membicarakan hal ini memang mudah, tetapi melaksanakannya sangat sulit.