Skip to content

Meratapi Diri

 

Dalam segala hal ada ujiannya. Jika seseorang sudah dapat meratapi dirinya sendiri—yaitu atas keberadaannya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah—maka selanjutnya ia dapat meratapi dan menangisi orang lain. Kita tidak bisa meratapi dan menangisi orang lain jika belum meratapi diri sendiri. “Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” Bagaimana kita dapat mengasihi orang lain jika kita belum mengasihi diri sendiri dengan benar? Ratapilah terlebih dahulu dosa-dosamu. Seperti perkataan Yesaya 6:4-7, “Aku orang najis, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis.” Kenali terlebih dahulu kenajisan kita, setelah itu barulah kita memiliki beban bagi orang lain. Pada akhirnya, di ayat 8, Yesaya berkata, “Ini aku, ya Tuhan, utuslah aku.”

Dalam pelayanan gereja, jika kita hanya pandai berkhotbah, menjadi aktivis, atau mengerjakan pekerjaan teknis tanpa memiliki beban terhadap penderitaan orang lain—yaitu keadaan mereka yang dapat membinasakan—berarti kita belum memiliki beban yang benar. Kita dapat mengerti mengapa dahulu kita mungkin bisa berkhotbah dengan baik, tetapi tidak dapat mengubah orang lain, karena kita sendiri belum mengubah diri kita. Kenali diri kita sampai akhirnya khotbah kita menjadi tajam, bukan hanya tajam secara teologis atau dalam penalaran, tetapi juga menyentuh batin. Pengalaman kita pun menjadi kontekstual dengan pengalaman orang lain. Itulah yang akan menyentuh bagian-bagian yang tidak disentuh banyak orang. Kita semua harus belajar terlebih dahulu sebelum dapat mengajar. Dan supaya dapat memimpin, kita harus memiliki komitmen dalam segala hal.

Rasul Paulus telah diproses begitu lama sehingga ia dapat memiliki dukacita atas jemaat Tuhan yang belum hidup sesuai kehendak-Nya. Dalam 2 Korintus 12:21, Paulus menulis dengan cucuran air mata bagi jemaat di Korintus supaya mereka hidup seturut kehendak Allah. Ia menulis dengan air mata karena ia sudah meratapi dirinya sendiri, sudah berusaha hidup benar; karena itu ia mencucurkan air mata atas keadaan orang lain. Tidak mungkin seseorang meratapi keadaan orang lain jika ia belum meratapi keadaannya sendiri. Itulah yang dikatakan Tuhan Yesus kepada perempuan-perempuan Yerusalem yang menangisi Dia: “Jangan menangisi Aku, tangisilah dirimu sendiri.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang belum meratapi dirinya untuk pembenahan diri secara terus-menerus agar semakin berkenan kepada Tuhan, belum dapat memiliki beban terhadap sesamanya. Jangan hanya memiliki sentimen agama atau kesetiaan terhadap agama Kristen atau gereja tertentu, tetapi milikilah beban terhadap keadaan sesama kita. Pelayanan harus dimulai dari diri sendiri. Maksudnya bukanlah sikap egois atau cinta diri secara kodrati. Kodrat kita telah rusak sehingga cinta diri sering berubah menjadi egoisme. Cinta yang dimaksud di sini adalah cinta Tuhan. Kita harus terlebih dahulu mengerti bagaimana mengasihi diri sendiri dengan benar, barulah kita dapat mengasihi sesama dengan benar.

Karena itu, pelayanan tidak dimulai dari sekolah teologi atau kepintaran, melainkan dari diri yang menyadari beban dan mengerti betapa sulitnya menjadi benar; tanpa kesungguhan untuk menuju kesempurnaan, kita tidak akan memiliki beban untuk melayani pekerjaan Tuhan. Milikilah beban itu dengan cara membenahi diri sendiri. Jika para pelayan Tuhan berangkat dari pergumulan pribadi untuk membenahi diri, maka gereja akan menjadi kokoh. Bukan hanya cakap berorganisasi atau cakap mencari dana, tetapi memiliki hati dan beban untuk orang lain. Oleh karena itu, milikilah hati untuk diri sendiri terlebih dahulu, ratapilah diri sendiri, barulah kita dapat meratapi orang lain.

Pelayanan dengan beban yang benar bukan sekadar tentang mengumpulkan massa atau memiliki gedung gereja yang besar dan bagus. Untuk apa semua itu? Gereja bukanlah bisnis untuk menghasilkan uang, melainkan tentang keselamatan jiwa-jiwa yang kekal. Tuhan menjanjikan penghiburan bagi mereka yang mengalami dukacita seperti ini. Jika kita memiliki dukacita karena kehendak Allah, maka pertama, kita akan diperbaiki Tuhan untuk semakin disempurnakan dan semakin optimis bahwa kita dapat menjadi sempurna. Kedua, kita akan memiliki beban yang tulus terhadap orang lain. Ketiga, kita akan dihibur. Orang seperti ini tidak mungkin tidak berkorban bagi Tuhan. Apa pun akan ia berikan demi keselamatan orang lain. Hatinya menjadi murah dan tidak dapat menutup mata terhadap penderitaan sesama. Keselamatan jiwa itu sangat mahal. Dan ternyata, ketika kita bersedia memiliki beban itu, kita tidak menjadi miskin; Tuhan justru terus memberkati kita.