Dukacita yang dimaksud Tuhan secara eksplisit jelas merupakan ratapan yang muncul ketika seseorang menyadari tidak adanya kebenaran dalam hidupnya. Seseorang boleh memiliki moral yang baik, tetapi apakah kebenaran itu sebenarnya? Tuhan Yesus berkata, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.” Mengenal kebenaran sama dengan mengenakan kebenaran sampai kita bisa berkata, “Hidupku bukannya aku lagi, melainkan Yesus yang hidup di dalam aku.”
Ketika Paulus berkata, “… dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati Hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman kepada Tuhan Yesus,” janganlah kita memahaminya secara sederhana seolah-olah kita tidak perlu melakukan perbuatan baik, cukup percaya saja kepada Tuhan Yesus. Kita harus mengerti apa itu percaya, apa itu iman. Beriman berarti tunduk sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan supaya kita dapat mengenal dan mengenakan kebenaran, yang sejatinya sungguh luar biasa sulitnya. Rasanya kita tidak pernah lulus, selalu gagal; tetapi justru di situlah perjuangan, dan di situ pula kita meratap, “Tuhan, aku belum seperti yang Engkau kehendaki.”
Ucapan Bahagia itu saling bertalian satu dengan yang lain. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan”—ptokos—adalah orang yang menyadari bahwa ia tidak memiliki apa-apa sama sekali. Jangan cukup berpikir bahwa Bapa di surga tidak melihat siapa kita karena Ia hanya melihat darah Tuhan Yesus yang membungkus kita. Itu benar—oleh darah-Nya dosa kita diampuni. Namun Bapa juga memperhatikan apakah kita telah mengenakan pribadi Kristus di dalam diri kita atau belum.
Jadi, jangan hanya berkata bahwa kita dibenarkan karena kurban-Nya sehingga Bapa tidak lagi melihat keadaan dosa kita, melainkan hanya melihat darah yang membungkus. Pengajaran seperti itu tidak lengkap, walaupun terlihat benar. Satu aspeknya memang benar, tetapi aspek yang lain jangan dilupakan: Dia membenarkan kita supaya kita benar-benar menjadi benar.
Jangan hanya berkata, “Dia membenarkan kita dan darah Tuhan Yesus membungkus kita.” Itu memang benar, tetapi jangan lupa bahwa kita juga harus sungguh-sungguh menjadi benar. Setelah kita dibenarkan, kita harus memiliki kebenaran di dalam Tuhan. Mengenakan kebenaran Tuhan itulah yang berat. Mengenakan kebenaran Tuhan tanpa Roh Kudus adalah mustahil. Kita hanya dapat mengenakan kebenaran dengan pimpinan Roh Kudus. Namun, sekalipun nanti kita dimampukan untuk mengenakan kebenaran Tuhan dalam hidup kita, kita tetap tidak bisa sombong. Jangan lalu berkata, “Aku selamat karena aku berbuat baik.” Sejatinya, kita tidak bisa berbuat baik dalam ukuran Tuhan; kita tidak bisa sempurna tanpa Roh Kudus. Bagaimana mungkin kita berkata bahwa kita diselamatkan karena perbuatan baik?
Kita memang memiliki hati yang merespons—sepotong hati yang mengasihi Tuhan—tetapi jangan sampai kita berkata bahwa bahkan mengasihi Tuhan pun semata-mata karena Tuhan yang menggerakkan semuanya, sehingga kita mengabaikan tanggung jawab kita sendiri. Kenyataannya, kita dapat melihat banyak negara yang memiliki prinsip teologi yang salah, dan di daerah-daerah itu kekristenan punah. Jika sudah punah, apakah Tuhan kehilangan kuota di negara-negara tersebut? Jangan sampai gereja punah karena prinsip teologi yang keliru, sehingga melupakan tanggung jawab untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar serta kehilangan dukacita yang mendalam.
Jika kita sudah merasa baik di hadapan manusia, selesailah sudah. Seharusnya, semakin kita mengerti kebenaran dan semakin kita mengerti keagungan Tuhan, semakin kita sadar bahwa kita masih jauh dari keadaan yang berkenan. Paulus, yang sudah menjelang kematian, tetap mengatakan bahwa ia belum sempurna. Namun, belum sempurnanya Paulus di ujung maut tidak sama dengan belum sempurnanya Paulus ketika baru bertobat—itu berbeda. Jika kita meratapi keadaan kita, kita tidak akan mudah menghakimi orang lain. Prinsip ini dapat diterapkan di mana pun kita berada. Karena itu, belajarlah menjadi orang yang memiliki pikiran yang besar dan luas.
Mari kita belajar kebenaran untuk kita kenakan—bukan kebenaran karena melakukan hukum, bukan kebenaran yang didasarkan pada moral umum, melainkan kebenaran karena percaya kepada Tuhan Yesus. Dan jangan berkata, “Aku sudah percaya, maka aku sudah benar.” Percaya itu apa? Iman itu apa? Iman adalah tunduk kepada kedaulatan Allah secara mutlak—itulah maksudnya.