Skip to content

Ptokoi

 

Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang miskin di hadapan Allah ialah orang yang mempunyai Kerajaan Surga; artinya, orang yang miskin di hadapan Allah ini akan memperoleh Kerajaan yang akan datang. Berbicara mengenai penggunaan ptokoi untuk menunjuk kepada suatu kemiskinan, jika dikaitkan dengan kemiskinan secara fisik, maka hal itu adalah suatu kemiskinan yang sangat ekstrem, di mana si miskin benar-benar tidak mampu sama sekali menghidupi dirinya. Berbeda dengan penes, di mana kondisi kemiskinannya hanya menunjukkan keadaan ekonomi seseorang yang minim atau pas-pasan, miskin namun masih memiliki kesanggupan hidup; sedangkan penikros menunjuk kepada kemiskinan secara umum.

Kata ptokoi juga memiliki hubungan dengan kata ptosen, yang berarti “menundukkan badan.” Kata ini menunjukkan ketidakberdayaan, sehingga orang tersebut tidak mampu atau tidak layak menegakkan badan. Pada masa itu, orang-orang miskin apabila berhadapan dengan orang-orang kaya selalu menundukkan badan, merasa tidak mampu dan tidak layak. Bahkan pada zaman kuno, apabila seseorang berani menatap penguasa, ia bisa dihukum mati. Seperti pada masa Perjanjian Lama di Mesir, rakyat biasa hanya boleh melihat kancing baju dari penguasa di Mesir. Jadi sangat dimaklumi apabila saudara-saudara kandung Yusuf tidak mengenalinya; hal itu bukan hanya karena wajahnya mengalami perubahan, melainkan juga karena mereka tidak boleh melihat wajah Yusuf. Oleh karena itu, di dalam Alkitab Yusuf berkata, “Lihatlah aku,” karena sebelumnya saudara-saudaranya belum melihatnya atau belum boleh melihatnya.

Orang-orang yang ptokos ini—yang miskin secara ekstrem dalam ketidakberdayaan, yang dalam Ucapan Bahagia disebut sebagai “miskin dalam roh,” yaitu dalam ketidakberdayaan sama sekali—dalam NIV dan KJV diterjemahkan poor in spirit, sedangkan dalam Good News Bible diterjemahkan spiritually poor, dan dalam ITB diterjemahkan “miskin di hadapan Allah.” Tentu miskin dalam hal ini bukan masalah uang, karena Allah tidak mempersoalkan uang ataupun harta. Tuhan tidak memandang harta; hal yang Tuhan persoalkan ialah kerohanian kita. Maka, apabila orang kaya sehebat apa pun secara materi, setinggi apa pun pangkatnya, sekuat apa pun kedudukannya, ketika berada di hadapan Tuhan ia berkata, “Tuhan, aku tidak punya apa-apa,” itulah orang yang miskin di hadapan Allah. Sikap hati yang merasa miskin di hadapan Tuhan ini berkaitan dengan panggilan keselamatan bahwa kita tidak akan bisa meraih keselamatan dengan kekuatan kita sendiri; semua karena anugerah Tuhan dan bukan karena perbuatan kita (Ef. 2:8).

Hendaknya kita tidak memandang bahwa perbuatan baik atau agama dapat membawa manusia ke surga atau kepada pengenalan akan Allah yang benar. Agama adalah upaya manusia mencapai Allah dan segala kelimpahan-Nya; sedangkan keselamatan adalah usaha Allah mencapai manusia. Namun, apabila manusia menolak proses keselamatan tersebut, maka ia menolak keselamatan. Orang yang miskin di hadapan Allah ialah orang yang menyadari bahwa dengan kekuatannya sendiri ia tidak bisa mencapai Allah. Orang yang miskin di hadapan Allah adalah mereka yang menyadari bahwa dirinya belum seperti yang Tuhan kehendaki—bukan hanya karena tidak berdaya mencapai Tuhan dengan kekuatannya sendiri, tetapi juga karena menyadari bahwa keadaannya masih jauh dari yang Tuhan inginkan.

Apabila kita percaya kepada Tuhan, maka kita harus mengerti apa arti “percaya.” Percaya menuntut penyerahan diri kepada Pribadi yang dipercayai. Tuhan Yesus mati di kayu salib, dan oleh karena itu kita harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela, karena melalui kematian Tuhan Yesus dan ketaatan hidup-Nya kepada Bapa, Ia menjadi Pokok Keselamatan dan menjadi teladan bagi kita. Jadi, kalau kita berkata bahwa Tuhan Yesus adalah jalan keselamatan dan kita hendak mengikut Dia, berarti kita harus mengikuti jejak hidup-Nya. Percaya bukanlah sekadar menjadi orang Kristen, lalu ikut kebaktian atau ikut misa, kemudian masuk surga.