Skip to content

Belum Tercandui Kebenaran

 

Betapa konyol keadaan orang yang tidak menyadari kemiskinan rohaninya. Selain tidak mau mendengar, mereka juga tidak mau dibentuk lewat pengalaman hidup dan fokusnya hanya kepada perkara dunia. Contoh tersebut terdapat dalam Lukas 12:13-21, bagaimana mereka terbebas secara ekonomi, bebas dari karier yang menurun, memperbaiki reputasinya, tetapi tidak memperbaiki pribadinya. Ketika orang tidak menyadari kemiskinannya, maka yang diperbaiki itu ekonominya, kariernya, studinya; dan kalau ada masalah rumah tangga, minta didoakan. Kita harus memperbaiki batin kita agar kita tidak seperti sosok dalam Wahyu 3:17, di mana Tuhan berkata bahwa kita ini seperti orang yang buta, telanjang, miskin, dan melarat, tetapi kita tidak sadar akan keadaan diri dan justru merasa hebat.

Banyak orang belum tercandui oleh kebenaran sehingga mereka tidak merasa haus dan lapar akan kebenaran; akibatnya, hatinya susah dibentuk. Sejatinya, teologi yang benar adalah teologi yang akan mengubah karakter seseorang, menuntut implikasi dan aplikasi yang konkret; teologi yang akan mengubah kita menjadi seperti Tuhan Yesus, mengubah manusia berkodrat dosa menjadi manusia Allah. Apabila kita mengingat pengurbanan Tuhan di kayu salib, hendaknya kita meratapi diri sendiri dan bukan hanya meratapi Tuhan Yesus yang mati di kayu salib. Dalam 1 Timotius 6:6-10 dikatakan bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang, karena cinta uang membuat seseorang menyangkali imannya dan membinasakan dirinya. Uang tidak akan pernah bisa menolong. Kita harus peka mendengar suara Tuhan sehingga bisa mempergunakan uang kita sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan untuk mencari barang-barang bermerek.

Kita harus berani untuk tidak mempunyai keinginan sehingga kita bisa merdeka. Jika kita sudah menyerahkan hati dan hidup kita kepada Tuhan, barulah kita memiliki panggilan surgawi. Kita harus peka terhadap Tuhan; uang itu ada di tangan kita atau tidak, tidak menjadi masalah, karena kebahagiaan kita bukan terletak pada uang. Bagaimana caranya supaya kita tidak cinta uang? Bicaralah jujur kepada Tuhan dan katakan bahwa kita memang masih cinta uang, tetapi kita mau melupakan masa lalu dan meninggalkannya. Cara kita berhenti dari cinta uang ialah dengan mendengar firman yang murni, merasakan kehadiran Tuhan, dan terus-menerus cara berpikir kita diubah sampai kita bisa melupakan dan meninggalkan manusia lama kita, sampai akhirnya kita bisa mengingini Tuhan saja dan benar-benar menjadi orang miskin yang berbahagia di hadapan Tuhan.

Kita tidak boleh menganggap sepele pernyataan ini. Ini adalah sebuah pernyataan yang luar biasa. Di dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang dapat diterjemahkan “miskin,” yaitu: pertama, penikrosενιχρς). Kata ini menunjuk arti miskin dalam kaitannya dengan harta duniawi atau kemiskinan secara finansial, miskin dalam pengertian umum. Ketika Tuhan Yesus menunjuk dalam Lukas 21:2 kepada janda yang miskin, kata “miskin” di situ menggunakan kata penikros, yaitu miskin secara harta atau miskin dalam pengertian umum.

Kedua, penesνης). Kata penes juga berarti miskin, tetapi masih memiliki kemampuan untuk menghidupi diri sendiri dengan bekerja. Ada orang-orang miskin di sekitar kita, walaupun mungkin gali lubang tutup lubang, tetapi masih bisa bertahan hidup. Ketiga, ptokoiτωχο). Ketika Tuhan menggunakan kata ptokoi, ini menunjukkan suatu kemiskinan yang sangat ekstrem. Kata ini juga berarti ketidakberdayaan.