Skip to content

Hidup Secara Luar Biasa

 

Banyak orang merasa puas dengan suasana keberagamaan yang ia miliki. Ia bahagia dan puas dengan dunia ini plus suasana gereja (bukan suasana hadirat Tuhan); ia puas menjadi majelis, menjadi ketua panitia suatu acara gereja, ia puas dengan kesibukannya dalam kegiatan-kegiatan gereja, dan ini sudah terjadi di mana-mana. Gereja-gereja sibuk memberi makan pagi untuk pemulung atau makan siang untuk tunawisma. Dengan kesibukan tersebut, mereka sudah merasa melayani Tuhan dan merasa puas. Banyak orang hanya diperdaya dan bukan diberdayakan untuk kegiatan-kegiatan seperti itu, yang akhirnya hanya menjadi pencitraan bagi gereja atau pendeta. Bukannya tidak boleh melakukan aktivitas pelayanan dan bakti sosial, tetapi hal tersebut sesungguhnya belumlah menjawab pelayanan kepada Tuhan yang sesungguhnya.

Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya memiliki kehidupan seperti yang dimaksudkan Tuhan dalam Ucapan Bahagia ini. Pada dasarnya, Ucapan Bahagia yang Tuhan Yesus kemukakan merupakan panggilan agar orang percaya memiliki cara berpikir, selera jiwa, dan cita rasa yang sesuai dengan Tuhan. Untuk itu, mutlak harus ada tindakan untuk mengenakan kebenaran tersebut, bukan hanya belajar dan mengerti kebenaran, melainkan harus ada komitmen yang kokoh untuk menjadi pelaku kebenaran tersebut. Dalam hal ini, harus ada penyerahan diri yang sepenuhnya kepada apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Seperti orang tua yang menyuruh anaknya untuk melompat, walaupun anaknya takut, ia tetap melompat.

Ketika Tuhan berkata, “Berbahagialah kamu,” hal ini sama artinya dengan “Beruntunglah kamu.” Kalimat itu seperti suatu ucapan selamat, sekaligus juga merupakan deklarasi kepada mereka yang memiliki keadaan seperti yang dimaksud Tuhan tersebut. Hal ini tentu memerlukan waktu, tidak bisa instan, dan harus melewati proses; selain mengerti, kita harus belajar mengenakan kebenaran tersebut. Ketika kita menghormati firman dan melakukan firman, maka firman itu akan masuk ke dalam kehidupan sesuai dengan yang dimaksud dalam Ucapan Bahagia itu, dan Roh Kudus pasti menyambut perjuangan yang kita lakukan tersebut.

Apabila cara berpikir kita masih duniawi, kita akan sulit untuk tertarik mendengar dan melakukan kebenaran tersebut. Maka, apabila kita hendak belajar firman Tuhan, kita harus menjadi orang miskin di hadapan-Nya, yakni pribadi yang menyadari bahwa keadaannya masih jauh dari apa yang Tuhan kehendaki. Orang yang menyadari hal itu akan memiliki gairah untuk terus berubah dan bertumbuh; ia akan dibimbing oleh Roh Kudus sehingga ia merasakan kehadiran Tuhan. Ia akan mengalami betapa riilnya Tuhan, dan hal ini akan terjadi apabila ia memberikan respons yang benar.

Kekristenan bukanlah suatu agama, melainkan jalan hidup. Agama lain mungkin akan mengatakan bahwa agamanya juga suatu jalan hidup; hal itu juga benar. Namun, jalan hidup mereka adalah jalan hidup yang dituntun oleh syariat dan hukum, berbeda dengan kekristenan yang merupakan jalan hidup yang dipandu oleh Roh Kudus dan bukan oleh hukum atau syariat. Kekristenan tidak mengenal hukum atau syariat seperti agama-agama lain yang memiliki hukum dan peraturan yang begitu rinci—yang ini haram, yang itu halal; tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Dibandingkan agama lain, kekristenan terlihat tidak jelas atau abstrak—terserah bagaimana mereka memandang—tetapi kekristenan memang suatu pengalaman riil. Roh Kudus sendiri yang menuntun bagaimana kita bisa hidup miskin di hadapan Tuhan, mengajarkan kepada kita tentang apa yang dimaksud dengan lemah lembut, apa yang dimaksud dengan membawa damai; dan tentu semua ini sifatnya batiniah serta tidak berada di wilayah hukum atau syariat.

Maka, apabila orang Kristen tidak mengenal kebenaran dan hidup di dalam pimpinan Roh Kudus, mereka bisa lebih rusak daripada orang-orang beragama lain. Tuhan menghendaki agar kualitas hidup atau kebenaran kita melebihi ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka adalah pemimpin-pemimpin agama yang memiliki kesucian, kesalehan, dan hidup keberagamaan lebih dari masyarakat biasa; bahkan mereka dianggap setengah malaikat. Kita tidak boleh menjadi orang yang biasa-biasa saja. Ucapan Bahagia mengangkat kita untuk memiliki kehidupan rohani lebih dari orang-orang pada umumnya; artinya, kita dipanggil untuk hidup secara luar biasa. Oleh karena itu, kita harus belajar mengerti seperti apa arti lemah lembut, karena tokoh-tokoh agama sehebat apa pun hanya mengerti peraturan, tetapi kehidupan batiniah memiliki kedalaman yang tidak terukur dan hanya Tuhan yang dapat mengukur kedalamannya.