Saudaraku,
Alkitab mengatakan dalam Kolose 3, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kalimat ini sukar dipahami oleh orang-orang pada zaman surat ini ditulis, juga bagi kita sekarang. Walaupun sukar dimengerti, tetapi untuk orang Kristen di abad mula-mula, pernyataan firman Tuhan tersebut lebih mudah dimengerti dan dikenakan, karena mereka tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk dapat menikmati hidup dalam ketenangan dan kenyamanan. Aniaya yang dialami orang Kristen pada abad mula-mula tersebut merupakan cara Tuhan untuk memisahkan kekristenan dari agama Yahudi dan dari dunia kafir yang tidak sesuai dengan nafas kebenaran Injil. Pintu dunia tertutup bagi orang percaya saat itu.
Di Yerusalem, orang-orang Yahudi yang dimotori oleh para pemimpin agama, berusaha menghambat kekristenan dan menganiaya orang percaya. Hal ini diizinkan oleh Tuhan agar kekristenan terpisah dari agama Yahudi, sebab selama itu orang-orang Kristen masih melakukan ibadah seperti orang-orang Yahudi di Bait Allah. Hal ini terbukti ketika Petrus dan Yohanes masih pergi sembahyang di Bait Allah, dimana terjadi peristiwa kesembuhan di Pintu Elok (Kis. 2). Gereja mula-mula yang sebagian besar adalah orang-orang Yahudi, masih pergi ke Bait Allah untuk menyembah Yahweh dengan cara agama Yahudi. Aniaya yang terjadi luar biasa kejamnya, membuat orang percaya terpisah dari masyarakat. Tuhan sengaja mengizinkan hal itu terjadi. Karena kalau gereja tidak mendapat perlawanan dari agama Yahudi, maka gereja masih menyatu dengan agama Yahudi, sehingga gereja tercemari oleh pola keberagamaan.
Tuhan juga mengizinkan aniaya hebat terjadi atas orang percaya dari pihak kekaisaran Romawi. Tuhan menginzinkan kondisi tersebut supaya gereja yang masih muda pada waktu itu tidak dicemari oleh cara hidup orang kafir. Situasi aniaya tersebut digambarkan Paulus sebagai “bahaya maut,” sehingga orang-orang Kristen seperti domba-domba sembelihan. Seruan orang percaya tercatat dalam Roma 8:36, “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Aniaya orang percaya ini digambarkan oleh Yohanes dalam kitab Wahyu 12:6, “Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” Perempuan dalam teks ini bisa mewakili gereja yang dilahirkan oleh Roh Kudus. Agar gereja tetap eksis dengan keberadaan yang kudus atau tidak bercacat dan tidak bercela, maka harus mengalami perjalanan di padang gurun. Padang gurun menunjuk sebuah kesengsaraan. Tidak ada cara lain yang dipakai Tuhan untuk memisahkan gereja dari dunia, selain dengan aniaya.
Situasi hidup orang Kristen pada zaman itu adalah situasi dimana mereka tidak dapat menikmati kesenangan hidup sama sekali, sehingga mereka tidak bisa berharap dapat menikmati kebahagiaan dari dunia ini. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa orang percaya sudah mati (Kol. 3:3). Tentu kondisi kehidupan orang percaya seperti ini berlaku juga bagi semua orang Kristen; bahwa orang percaya harus selalu dalam kondisi tidak menaruh harapan dapat menemukan kebahagiaan dari dunia ini. Ini situasi kondusif yang sangat membantu orang percaya dalam menumbuhkan kekristenan sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
Banyak orang Kristen yang tidak memahami hal ini. Ketika dalam keadaan sulit, mereka mau cepat-cepat keluar dari kesulitan tersebut tanpa berusaha mengerti maksud Tuhan di dalamnya. Padahal kondisi itu diizinkan Tuhan. Kalau sudah bisa melewati keadaan yang sulit tersebut, maka orang percaya bisa menjadi dewasa. Sebaliknya, orang percaya walaupun dalan kondisi nyaman, harus tetap hanya mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan pintu dunia tertutup—artinya tidak ada kemungkinan menikmati dunia—maka kita dipanggil mewarisi Kerajaan Allah. Itu bukan suatu kegagalan. Tetapi idealnya, walau pintu dunia terbuka untuk kita, tetapi kita harus tetap memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Orang percaya harus selalu dalam kondisi tidak menaruh harapan dapat menemukan kebahagiaan dari dunia ini.