Skip to content

Menyenangkan Hati Tuhan Sebagai Harta

Saudaraku,

Kalau seseorang belum merasa pasti apakah ia sudah menyenangkan hati Tuhan atau belum, apa lagi kalau sadar bahwa dirinya belum menyenangkan hati Tuhan, seharusnya ia meratapi keadaan dan sungguh-sungguh merasa miskin di hadapan Tuhan. Inilah harta yang tidak bisa tidak harus dimiliki. Tanpa memiliki harta ini seseorang tidak akan sanggup berdiri di hadapan Tuhan, Penciptanya, sebab manusia diciptakan hanya untuk kesenangan hati Tuhan. Kalau seseorang menjadikan hal menyenangkan hati Tuhan sebagai harta kekayaannya lebih dari segala harta kekayaan dalam bentuk apa pun, maka berarti ia menjadikan hal menyenangkan hati Tuhan sebagai perhentiannya. Ia tidak akan merasa tenang dan nyaman sebelum sungguh-sungguh bisa menyenangkan hati Tuhan.

Orang yang menyenangkan hati Tuhan tidak akan menghasrati sesuatu yang bukan hasrat Tuhan. Ia akan menyediakan hatinya sebagai sarana perasaan Tuhan untuk melakukan kehendak dan rencana-Nya. Orang yang menyenangkan hati Tuhan tidak akan melakukan suatu perbuatan atau kegiatan yang Tuhan tidak ikut merasakan atau menikmati hal tersebut. Orang yang menyenangkan hati Tuhan tidak akan mencari kehormatan bagi dirinya sendiri, tetapi selalau mencari kehormatan bagi Tuhan.  Hanya orang yang benar-benar dewasa dan menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya yang berminat secara proporsional untuk menyukakan hati Tuhan. Secara proporsional maksudnya dengan segenap hati.

Banyak orang merasa sudah mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya belum secara proporsional. Mereka mengasihi Tuhan dengan perasaan dan emosi yang belum mendalam. Maka mereka pasti tidak memiliki tindakan nyata untuk menunjukkan atau membuktikan cintanya tersebut. Tidak sedikit yang mengasihi Tuhan hanya mempermainkan perasaannya sesaat. Ini adalah tindakan sewenang-wenang terhadap Tuhan. Namun Tuhan memberi kesempatan setiap saat dan melalui segala hal untuk menyenangkan hati Tuhan. Gairah menyenangkan hati Tuhan dalam diri kita harus bernyala bahkan membara terus tiada henti sampai kekekalan. Oleh sebab itu kita harus bersyukur kalau saat-saat tertentu Tuhan menutup kemungkinan untuk menyenangkan hati sendiri (bisa karena kemiskinan, sakit, kekecewaaan, penindasan dan lain sebagainya) supaya dengan keadaan tersebut kita memiliki  peluang lebih besar untuk menyenangkan hati Tuhan.

 

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

 

Orang yang menyenangkan hati Tuhan sebagai harta kekayaannya berarti menjadikan hal ini sebagai perhentiannya.