Ucapan Bahagia merupakan bagian dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit, yang menjadi landasan hidup orang percaya (Mat. 5:1-12). Sangatlah disayangkan apabila orang percaya tidak mengetahui makna dari Khotbah di Bukit secara mendalam. Maka, setiap orang percaya harus mendalami Matius 5, 6, dan 7, di mana di dalamnya juga terdapat Ucapan Bahagia yang biasa disebut sebagai undang-undang emas bagi orang percaya. Tuhan mengawali Khotbah di Bukit dengan Ucapan Bahagia yang merupakan isyarat yang menunjukkan bagaimana orang percaya harus menghadirkan suasana Kerajaan Surga dalam hidup ini, yang tentu akan dinikmati oleh dirinya sendiri dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Tanpa menghidupi kebenaran yang Tuhan berikan dalam Ucapan Bahagia, orang percaya tidak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab Tuhan sendiri yang mengatakan, “Berbahagialah,” maka apabila kita tidak menghidupi kebenaran yang Tuhan berikan ini, berarti hidup kita tidak berbahagia. Bahkan, kita telah gagal untuk menghadirkan suasana Kerajaan Surga di dalam hidup kita dan hidup orang-orang di sekitar kita. Mempelajari kebenaran dalam Ucapan Bahagia ini akan membawa kehidupan kita menjadi bertentangan dengan manusia lain pada umumnya. Namun, kita harus melihat fakta bahwa kebenaran yang Tuhan ajarkan itu memang berbeda dengan yang diajarkan dunia; semangatnya pun berbeda. Tuhan mengajar, “Berbahagialah orang yang miskin,” sedangkan dalam pandangan dunia adalah sebaliknya. Oleh karena itu, kita harus mengerti maksud dari “miskin” dalam kalimat tersebut.
Konsep “berbahagia” itu juga harus kita mengerti dengan benar, sebab berbicara mengenai kebahagiaan dan keberuntungan sangat bergantung pada cara berpikir, filosofi, dan konsep hidup masing-masing individu serta selera jiwa seseorang. Sedangkan untuk mengubah konsep berpikir dan mengubah filosofi tidaklah mudah, seperti seseorang yang biasa makan sayur asam kemudian disuruh makan burger; tentu burger menjadi sesuatu yang asing atau tidak familier di lidahnya. Bagaimana mengubah cita rasa itulah yang harus menjadi pergumulan setiap kita. Kata “berbahagialah” berasal dari kata dalam bahasa Yunani, makarioi, yang berarti berbahagia, beruntung, orang yang mendapat hak istimewa.
Apabila ada orang yang merasa bahwa ajaran Kristen itu tidak menarik, hal ini dikarenakan ia tidak mengetahui dan tidak mengerti luar biasanya Injil. Injil menjadi luar biasa karena yang mengajarkan Injil adalah Sang Kebenaran itu sendiri. Sang Hikmat itu sendiri yang mengajar kita, suatu sumber yang tidak pernah habis. Oleh karena itu, banyak orang tidak bisa menikmatinya jika tidak menggunakan akal budi secara maksimal serta tidak memiliki hati yang mencintai Tuhan dan firman-Nya. Orang-orang yang demikian tentu tidak bisa menikmati kebenaran dalam ajaran Kristen, apalagi orang-orang yang sudah terlanjur rusak oleh berbagai cara berpikir atau filosofi dunia; cita rasa jiwanya yang sudah terlalu rusak akan menolak.
Tuhan akan membimbing kita dengan kesabaran-Nya, asal kita memiliki ketekunan; di mana hal ini akan saling bertalian. Oleh karena itu, kita harus melihat inti persoalan hidup—bukan jodoh, bukan pula kebutuhan rumah—yang ada di dalam diri kita. Jadi, ketika kita mencari pertolongan Tuhan, orientasinya bukanlah pada kebutuhan jasmani atau situasi yang tidak menyenangkan, melainkan pada persoalan diri kita sendiri—bagaimana kita melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya, yaitu menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Bapa.
Konsep orang pada umumnya, mereka mencari perlindungan Tuhan agar Tuhan memberikan pertolongan dan campur tangan-Nya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani serta menghindarkan dari kesulitan-kesulitan. Maka, ketika orang tersebut tidak ada masalah dan semua kesulitannya beres, ia tidak lagi mencari Tuhan dengan tekun. Padahal, pertumbuhan itu harus berlangsung terus-menerus. Pertumbuhan itu berada di dalam suatu perjalanan waktu. Demi perkembangan iman, kita harus menggunakan setiap aspek waktu secara maksimal, yakni kronos, kairos, dan hora. Kronos adalah aspek waktu yang dilihat dari urutannya, sedangkan kairos adalah momentum-momentum dalam satu rentang waktu; hora ialah suatu rentang waktu yang terbatas. Biasanya, ketika seseorang merasa memiliki waktu yang berlimpah, ia menjadi boros atau tidak efektif dalam menggunakannya.