Dengan meninjau kisah Yesus yang melakukan mukjizat pada Matius 4:23-25, kita dapat menemukan bahwa Tuhan menggoreskan mukjizat abadi dalam kehidupan orang-orang tersebut. Terlepas dari hasil akhir bagaimana kualitas percaya mereka kepada Tuhan, mereka mengalami lawatan Tuhan dalam hidup mereka secara langsung. Mereka pernah merasakan pengajaran Tuhan secara langsung dan menyaksikan mukjizat dengan mata kepala mereka sendiri. Di atas kertas, seharusnya merekalah orang-orang yang paling serius untuk mengikut Tuhan. Namun faktanya, kemungkinan besar di antara merekalah yang berteriak, “Salibkan Dia!” ketika Yesus hendak divonis oleh kekaisaran Romawi. Berangkat dari hal ini, kita dapat mengatakan bahwa mukjizat memiliki dampak atau pesona dalam jangka waktu tertentu. Namun, ketika ingatan akan hal itu mulai memudar dan keadaan berubah, pengalaman mukjizat tidak sanggup menolong kita untuk berkenan kepada Allah.
Mukjizat yang abadi sebenarnya terletak pada hubungan dengan Allah itu sendiri. Mengapa demikian? Seperti yang telah dibahas dalam beberapa renungan belakangan, mukjizat adalah penunjuk arah yang mengarahkan seseorang pada pengenalan akan Kristus yang sebenarnya mencerminkan Allah Bapa yang misterius. Pengenalan selalu berbicara tentang hubungan. Hubungan yang baik dimulai dengan pengenalan yang baik. Ketika seseorang mengenal Allah, ia diharapkan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Seharusnya, kita yang berdosa dan sering kali mengecewakan Allah tidak dapat berhubungan dengan-Nya. Namun Allah berkata berbeda. Ia melakukan banyak hal demi mendamaikan kita dengan-Nya. Hal ini pertama-tama dilakukan Allah melalui kurban Putra Tunggal-Nya (Kol. 1:20). Dengan ketaatan Yesus sampai mati di kayu salib, kita yang jauh telah diperdamaikan menjadi dekat dengan-Nya.
Dalam berbagai agama dan kepercayaan, menjadi dekat dengan Allah adalah suatu hal yang jauh dari angan-angan. Allah dan manusia dipandang memiliki jarak yang tidak dapat diperdamaikan, sebab Allah adalah ilahi dan manusia bersifat insani. Yang insani selalu memiliki kelemahan dan kerapuhan yang menjauhkannya dari Yang Ilahi. Namun dalam kehidupan dan kurban Tuhan Yesus, kita semua diperdamaikan dengan Allah dan bahkan dapat memanggil-Nya “Bapa”. Ini harus dipandang sebagai mukjizat terbesar yang bersifat abadi. Sebab dengan bersekutu dengan-Nya, kita sungguh diubahkan. Bersekutu dengan mukjizat Allah mungkin hanya melahirkan efek temporal pada perasaan kita. Akan tetapi, bersekutu dengan diri Allah sendiri dapat mengimpartasikan pikiran dan perasaan Allah itu kepada kita. Hal ini seharusnya menarik perhatian kita, sebab ini kesempatan yang langka dan terhormat.
Ironisnya, banyak orang yang tidak memandang hubungan dengan Allah ini sebagai kesempatan langka. Mereka memandang rendah hubungan dengan Allah. Allah dipandang sebagai sosok imajiner yang bisa ada atau tidak ada. Bagi mereka, mencari uang dan kesejahteraan hidup lebih penting daripada hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah dapat ditunda karena bukan sesuatu yang primer. Jika seseorang dapat menghayati bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas dalam segala hal, sungguh beruntung kita memiliki Allah yang tidak terbatas.
Banyak orang pesimis berhubungan dengan Allah karena merasa Allah abstrak dan sulit dijangkau. Padahal, banyak orang percaya bahwa roh jahat dan kuasa gelap bisa ada di mana-mana dan mudah untuk merasuki seseorang. Kalau kita percaya roh jahat ada di mana-mana dan menggentarkan, seharusnya kita lebih percaya bahwa Allah ada di mana-mana dan lebih menggentarkan. Bersekutu dengan Allah bukanlah sesuatu yang abstrak, sulit, atau spekulatif, melainkan hal yang konkret sejauh kita menempatkan-Nya secara pantas dalam hidup kita. Selama kita memiliki kerinduan yang benar, Ia tidak mungkin mengabaikan kita. Alkitab berkata bahwa Ia setia, meskipun kita tidak setia. Ini adalah Sosok yang luar biasa dalam kasih dan kesetiaan. Maka, bisa bersekutu atau berhubungan dengan-Nya adalah sebuah mukjizat abadi.