Tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang yang datang kepada Tuhan karena tangan-Nya yang penuh kuasa. Sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang belum sepenuhnya memahami alasan mengapa mereka mengikut Tuhan. Matius 4:25 menggambarkan bahwa ada orang yang berbondong-bondong datang mengikuti Dia karena perbuatan mukjizat yang Ia lakukan. Mereka datang bukan hanya dari satu wilayah, melainkan dari berbagai wilayah, seperti Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea, dan seberang Yordan. Berita mengenai mukjizat yang Yesus lakukan mampu menarik banyak orang karena sifat spektakulernya. Di sini kita melihat bahwa Allah tidak anti terhadap mukjizat atau hal yang spektakuler. Sebaliknya, Allah menggunakan sifat mukjizat yang spektakuler sebagai sesuatu yang dapat menuntun seseorang kepada diri-Nya.
Namun, masalah mulai muncul ketika seseorang terpukau dan terpaku pada mukjizat tersebut. Akhirnya, mukjizat menjadi perhentian akhir. Lebih celakanya, mereka hanya mencari Tuhan ketika hendak memperoleh mukjizat. Ketika mukjizat diperoleh, maka mereka meninggalkan Tuhan. Hal ini terjadi pada sepuluh orang kusta yang datang dan disembuhkan oleh Tuhan dalam Lukas 17:11-19. Setelah disembuhkan, hanya satu orang Samaria yang kembali untuk mengucap syukur kepada Allah. Sembilan orang lainnya menikmati kesembuhan itu dan berhenti pada disembuhkan semata. Mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah melalui mukjizat yang mereka alami. Ini menjadi tanda bahwa mukjizat tidak selalu memperjumpakan seseorang dengan Allah. Mereka dapat berjumpa dengan egonya sendiri dan merasa bahwa apa yang dicari sudah diperoleh. Tidak ada keinginan lebih lanjut untuk mempertanyakan apa yang dikehendaki oleh Allah melalui mukjizat tersebut. Di samping kisah sepuluh orang kusta itu, kisah orang banyak yang meninggalkan Yesus (Yoh. 6:66), padahal telah melihat mukjizat yang dilakukan-Nya, juga meneguhkan bahwa tidak semua orang yang mengalami mukjizat memahami maksud dan tujuannya.
Banyak orang bisa datang kepada Tuhan karena tangan-Nya yang penuh kuasa, tetapi sedikit orang yang akhirnya datang kepada-Nya karena mencintai pribadi-Nya. Orang yang sungguh memahami esensi mengikut Tuhan akan menghampiri-Nya karena pribadi-Nya. Kita mau termasuk dalam bilangan kecil orang yang seperti ini. Hal ini berarti bahwa sekalipun pergumulan dan kesulitan kita tidak dijawab, kita tidak menjadi kecewa dan putus asa terhadap Tuhan.
Dengan menyatakan bahwa alasan sesungguhnya mengikut Tuhan adalah diri-Nya sendiri, bukan berarti mereka yang datang kepada Tuhan karena melihat mukjizat menjadi kurang sahih. Tanda atau mukjizat dalam bahasa aslinya menggunakan kata semeion yang artinya “penunjuk arah”. Mukjizat adalah salah satu cara Allah memanggil manusia kembali kepada diri-Nya. Orang yang mengalami mukjizat di usia dewasa dan akhirnya mengenal Allah sama baiknya dengan orang yang tidak mengalami mukjizat namun mengenal Allah sejak kecil dalam keluarganya. Allah memiliki kurikulum yang berbeda bagi masing-masing pribadi. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah jika seseorang terpaku pada penunjuk arah tersebut. Ketika suatu saat penunjuk arah itu dicabut atau tidak diberikan lagi, kita menjadi kecewa.
Sudah sepantasnya kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Allah kita bukanlah Allah yang haus akan pujian karena perbuatan spektakuler yang dilakukan-Nya. Ia adalah Allah yang ingin memiliki ikatan batin dengan kita. Ia ingin kita datang kepada-Nya bukan karena apa yang dapat Ia berikan. Ia ingin kita datang kepada-Nya sesederhana karena kita ingin datang saja. Kita merindukan pribadi-Nya. Kita merindukan hadirat-Nya yang tidak pernah gagal menyentuh hati kita yang penuh dosa. Kita merindukan nasihat, teguran, dan pengharapan dari firman-Nya. Inilah sesuatu yang Ia harapkan kita miliki: hati seorang anak yang mencari orang tuanya karena telah menyadari betapa pentingnya mereka dalam hidup kita.