Bila pada bagian sebelumnya Yesus memanggil Simon dan Andreas, maka pada Matius 4:21-22 dikisahkan pemanggilan Yohanes dan Yakobus. Yohanes dan Yakobus adalah dua bersaudara dari seorang ayah yang bernama Zebedeus.
Kisah pemanggilan Yohanes dan Yakobus memiliki persamaan dengan kisah sebelumnya. Beberapa persamaan itu, yang pertama, adalah profesi Simon bersaudara dan Yohanes bersaudara. Kedua, mereka dipanggil secara mendadak ketika Yesus sedang menyusuri danau Galilea. Ketiga, mereka sama-sama dengan segera merespons panggilan Tuhan dengan meninggalkan jala mereka. Di samping ketiga persamaan tersebut, terdapat dua perbedaan. Pertama, Simon bersaudara dipanggil ketika sedang menebarkan jala, sedangkan Yohanes bersaudara telah selesai menebar jala dan sedang membereskannya. Kedua, Simon bersaudara hanya meninggalkan jalanya, namun Yohanes bersaudara tercatat meninggalkan jala dan ayahnya. Dalam Markus 1:20 bahkan ditambahkan bahwa mereka juga meninggalkan orang-orang upahannya. Perbedaan yang kedua ini menarik untuk kita simak dan gali kebenarannya.
Keputusan Yohanes dan Yakobus meninggalkan ayahnya dan orang-orang upahannya adalah keputusan yang radikal. Mengapa radikal? Pertama, karena mereka berani meninggalkan ayahnya. Dalam konteks dunia Timur Tengah kuno, ayah adalah simbol stabilitas, keamanan, perlindungan, dan otoritas. Meninggalkan ayah berarti bersedia kehilangan keempatnya dan hidup mandiri dengan arah yang baru. Dalam Alkitab dicatat bahwa mereka yang meninggalkan ayah adalah mereka yang menikah (Kej. 2:24) ataupun mengikuti seorang guru yang dipandang besar, seperti Elisa yang mengikuti Elia (1Raj. 19:20). Ketika seseorang menikah, maka ia membangun rumah tangga baru bersama pasangannya. Sedangkan ketika seseorang mengikuti seorang guru, ia harus bersedia menanggalkan kenyamanan hidup di rumah orang tua dan belajar pada guru tersebut.
Kedua, mereka berani meninggalkan status sosialnya yang baik. Kepemilikan orang upahan, sebagaimana yang dicatat dalam Markus 1:20, menunjukkan bahwa Yohanes bersaudara bukan keluarga nelayan kelas bawah. Di Injil Yohanes 18:19-24 juga terekam percakapan Yesus dengan Imam Besar. Dari keempat Injil, hanya Yohanes yang mampu mengisahkan percakapan ini. Ini berarti bahwa Yohanes memiliki akses masuk ke ruang Imam Besar dan menyaksikannya secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa Yohanes bersaudara bisa saja memiliki status sosial yang sangat berbeda dari Simon bersaudara. Meninggalkan jala beserta orang upahan berarti meninggalkan seluruh hak istimewa ini dan hidup sederhana bersama Yesus beserta murid lainnya.
Kisah pemanggilan Yohanes dan Yakobus juga merupakan suatu kisah lain tentang “mengganti jala”. Jika pada kehidupan Simon bersaudara kita belajar tentang mereka yang meninggalkan penghidupan demi hal yang lebih mendasar, yakni kehendak dan rencana Allah, maka dalam kisah Yohanes dan Yakobus kita belajar tentang meninggalkan stabilitas, kenyamanan, dan keistimewaan. Meninggalkan ayah dan status sosial mereka demi Yesus adalah sebuah tindakan yang sulit dimengerti oleh dunia. Dunia mengajarkan untuk mencari stabilitas, kenyamanan, dan keistimewaan. Namun Tuhan menawarkan hal sebaliknya. Mungkin stabilitas tidak selalu diperoleh. Kenyamanan silih berganti dengan kesulitan. Keistimewaan digantikan dengan kesederhanaan. Yohanes bersaudara mengganti “jala kenyamanan” dengan “jala kesederhanaan”.
Seseorang yang masih ingin diistimewakan, bangga memiliki kenyamanan, dan tidak bersedia menghadapi perubahan tidak dapat mengikut Tuhan. Mengikut Tuhan adalah usaha untuk menjadi “tidak terlihat” oleh dunia agar dapat terlihat oleh Allah. Kesederhanaan adalah indikator seseorang yang tidak mengingini dunia. Ini adalah hal yang mutlak. Bila seseorang tidak hidup sederhana, yakni sesuai dengan apa yang dibutuhkan, maka ia tidak mungkin mengasihi Tuhan. Kita yang telah dilatih oleh dunia untuk mempertahankan “jala kenyamanan” harus bersedia menukarnya dengan “jala kesederhanaan” dalam hidup dan keinginan kita sehari-hari. Sebab hanya dengan demikian kita dapat menjadi “penjala manusia”.