Skip to content

Taat Meski Tidak Nyaman

 

Mat. 3:11

“…dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya….”

Dalam kisah pembaptisan Yesus, sering kali kita hanya berfokus pada pribadi Yesus sebagai Anak Allah yang taat. Namun, ada satu tokoh lain yang juga menunjukkan teladan luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi yang tegas, berani, dan hidup dalam kebenaran. Tetapi ketika berhadapan dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kerendahan hati yang begitu dalam; dan sikap seperti ini merupakan teladan yang sangat berharga.

Yohanes Pembaptis benar-benar menyadari siapa Yesus itu. Bahkan Yohanes juga berkata bahwa dirinya tidak layak untuk membuka tali kasut-Nya, suatu ungkapan yang menunjukkan betapa rendahnya ia menempatkan diri di hadapan Yesus. Maka, ketika Yesus datang untuk dibaptis, Yohanes mengalami pergumulan yang nyata. Secara logika dan perasaan, hal itu terasa tidak pantas. Mungkin dalam pemikiran Yohanes, “Bagaimana mungkin yang kudus dibaptis oleh yang lebih rendah?”

Namun, di sinilah letak pelajaran penting bagi kita. Ketika Yesus berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15), Yohanes dihadapkan pada pilihan: mengikuti perasaannya sendiri atau tunduk pada kehendak Allah. Dan Yohanes memilih untuk taat. Ketaatan Yohanes bukanlah ketaatan yang mudah. Ia harus mengesampingkan rasa tidak layak, menyingkirkan pemahamannya sendiri, dan mempercayai bahwa kehendak Allah jauh lebih tinggi daripada logika manusia. Ia rela melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman demi menggenapkan rencana Allah.

Sering kali dalam hidup, kita pun dihadapkan pada situasi yang serupa. Tuhan meminta kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perasaan kita dan membuat kita merasa tidak nyaman. Contohnya, kita diminta untuk mengampuni orang yang menyakiti kita, tetap setia dalam keadaan yang sulit, atau melayani di tempat yang tidak kita inginkan, dan sebagainya. Dalam momen-momen seperti itu, kita dihadapkan pada pilihan yang sama, yaitu taat pada perintah Allah atau mengikuti kenyamanan diri.

Ketaatan sejati sering kali lahir justru di tengah ketidaknyamanan. Amsal 3:5 mengingatkan kita, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Yohanes Pembaptis memberikan contoh yang nyata dari ayat ini. Ia tidak bersandar pada pengertiannya sendiri, tetapi memilih percaya bahwa apa yang Allah kehendaki adalah yang terbaik, sekalipun ia tidak sepenuhnya memahaminya.

Ada kalanya kita merasa “tidak layak” atau “tidak pantas” untuk melakukan sesuatu yang Tuhan percayakan. Yohanes juga merasakan hal yang sama. Namun, ketaatan tidak selalu menunggu kita merasa siap atau layak. Ketaatan adalah tentang kesediaan untuk berkata “ya” kepada Tuhan, bahkan ketika hati kita masih bergumul. Justru dalam ketaatan seperti itulah Tuhan menyatakan karya-Nya. Melalui tindakan Yohanes membaptis Yesus, terjadi peristiwa ilahi yang luar biasa: langit terbuka, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan suara Bapa terdengar dari surga. Semua itu dimulai dari satu tindakan ketaatan.

Renungan ini mengajak kita untuk melihat kembali kehidupan kita. Apakah kita hanya taat ketika situasi terasa nyaman? Atau kita tetap taat ketika Tuhan memimpin kita ke dalam hal-hal yang tidak kita mengerti? Tuhan tidak selalu memanggil kita ke jalan yang mudah, tetapi Ia selalu memanggil kita untuk setia. Ketaatan mungkin terasa berat, tetapi di sanalah kehendak Allah dinyatakan.

Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis. Kesampingkan keraguan, lepaskan rasa tidak layak, dan percayalah kepada Tuhan. Karena sering kali, di balik ketidaknyamanan ketaatan, ada rencana Allah yang jauh lebih besar sedang digenapi.