Matius 2:17-18
Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”
Konteks dari ayat ini adalah peristiwa tragis pembantaian bayi-bayi di Betlehem berusia dua tahun ke bawah oleh Herodes. Ini adalah salah satu momen paling menyedihkan dalam kisah kelahiran Yesus: bayi-bayi tak bersalah menjadi korban ambisi seorang raja. Namun, Matius tidak hanya mencatat tragedi ini sebagai peristiwa sejarah semata. Ia melihatnya sebagai penggenapan firman Tuhan yang telah disampaikan dalam Yeremia 31:15.
Dalam konteks aslinya, Yeremia 31:15 menggambarkan tangisan Rahel—salah seorang ibu leluhur Israel—yang seolah-olah bangkit untuk meratapi anak-anaknya yang dibawa ke pembuangan. Rama adalah tempat di mana orang-orang Israel dikumpulkan sebelum dibuang ke Babel. Tangisan Rahel melukiskan kehilangan besar, penderitaan nasional, dan perasaan hancur karena perpisahan yang tragis.
Penulis Injil Matius mengutip ayat ini dan menerapkannya pada peristiwa di Betlehem. Mengapa? Karena ia melihat pola yang sama: tangisan, kehilangan, dan penderitaan umat Tuhan. Namun, lebih dalam dari itu, Matius hendak menunjukkan bahwa Yesus tidak datang ke dunia yang nyaman, tetapi ke dunia yang penuh luka.
Sejak awal kehidupan-Nya, Yesus sudah dikelilingi penderitaan. Bahkan sebelum Ia berbicara, sudah terdengar tangisan yang memilukan. Ini menunjukkan satu hal yang amat penting: Yesus tidak jauh dari penderitaan manusia; Ia masuk langsung ke dalamnya. Yesus hadir ke dunia yang tidak ideal—penuh ketidakadilan, kekerasan, dan air mata—sehingga Ia benar-benar memahami apa yang manusia alami (Ibr. 2:17-18).
Tangisan di Betlehem itu nyata. Kehilangan itu benar-benar terjadi, dan Alkitab tidak menutupi kenyataan pahit ini. Namun, yang sering kita lewatkan adalah bahwa dalam Yeremia 31, ayat yang mencatat tentang tangisan bukanlah akhir cerita. Beberapa ayat setelahnya, Tuhan berkata bahwa masih ada harapan untuk masa depan mereka, bahwa anak-anak akan kembali dan pemulihan akan terjadi (Yer. 31:17). Artinya, tangisan dan penderitaan bukanlah tanpa makna. Matius mengajar kita tentang Allah yang sedang memulai sesuatu yang baru di tengah-tengah tangisan—yaitu keselamatan melalui Yesus Kristus.
Apa implikasinya bagi hidup kita hari ini? Pertama, Tuhan mengerti bahasa tetesan air mata kita. Dalam Mazmur 56:9 tertulis: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu.” Tidak satu pun air mata luput dari perhatian Tuhan; setiap tangisan berharga di hadapan-Nya. Ingatlah, setiap kali kita menangis, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Yesus datang ke dunia yang penuh tangisan. Ia memahami rasa kehilangan, rasa sakit, dan ketidakadilan yang kita alami. Oleh karena itu, kita dapat yakin bahwa Ia selalu hadir menyertai kita, bahkan pada saat-saat paling gelap dalam hidup kita.
Kedua, tidak semua penderitaan dapat langsung dijelaskan. Ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita pahami saat ini. Seperti ibu-ibu di Betlehem, mereka tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Namun, ketidaktahuan kita bukan berarti Tuhan berhenti bekerja.
Ketiga, tangisan bukan tanda kegagalan iman. Kadang kita merasa bahwa tangisan adalah tanda kelemahan. Namun, Alkitab justru memberi ruang bagi ratapan. Menangis tidak selalu berarti tidak percaya; terkadang justru bisa menjadi bagian dari perjalanan iman kita. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar. Dalam tragedi kelam Betlehem, rencana keselamatan dari Allah tetap berjalan. Walaupun situasi terlihat gelap, Allah tetap bekerja.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu penuh sukacita; akan ada masa-masa di mana kita hanya bisa menangis dan bertanya. Hari ini kita belajar bahwa tangisan di Betlehem bukanlah akhir cerita, karena dalam tangisan itu Allah sedang memulai pemulihan. Mungkin saat ini kita tengah menghadapi musim yang sulit. Ingatlah, Tuhan tidak jauh. Ia hadir menampung setiap tetes air mata kita, dan mungkin tanpa kita sadari, Ia sedang memulai sesuatu yang baru.