Matius 2:16
“Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.”
Ayat ini mencatat sebuah peristiwa yang sangat kelam dalam sejarah kelahiran Yesus. Ketika Herodes menyadari bahwa ia tidak berhasil mendapatkan informasi dari orang-orang majus, ia menjadi sangat marah. Dalam kemarahannya, ia memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah. Kita melihat kekejaman, ketidakadilan, dan penderitaan yang tampaknya tidak masuk akal. Anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban dari ambisi dan ketakutan seorang raja yang bengis.
Namun, jika kita melihat lebih dalam, peristiwa tragis ini tidak terjadi secara kebetulan. Ini adalah bagian dari pola besar yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Keluaran 1 mengisahkan peristiwa yang sangat mirip. Pada waktu itu, Firaun merasa terancam oleh bangsa Israel yang jumlahnya semakin banyak. Dalam ketakutannya, ia memerintahkan pembunuhan bayi-bayi laki-laki Ibrani (Kel. 1:16).
Dua peristiwa ini memiliki pola yang sama: penguasa merasa terancam oleh rencana Allah, ketakutan berubah menjadi kekejaman, dan anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sangat penting: Allah tidak pernah kehilangan kendali.
Pada zaman Firaun, seorang bayi bernama Musa diselamatkan, yang kemudian menjadi alat di tangan Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pada zaman Herodes, bayi Yesus juga diselamatkan, karena Allah memperingatkan Yusuf untuk membawa-Nya ke Mesir. Yesus kemudian menjadi “Alat” di tangan Allah untuk membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa. Sering kali kita berpikir bahwa ketika keadaan memburuk, itu berarti Allah tidak sedang bekerja. Namun Alkitab justru menunjukkan sebaliknya. Di tengah kekejaman Firaun, Allah sedang mempersiapkan pembebasan. Di tengah kekejaman Herodes, Allah sedang menghadirkan Juruselamat.
Mungkin dalam hidup kita hari ini, ada situasi yang terasa tidak adil. Mungkin kita melihat hal-hal yang tidak kita mengerti mengapa itu harus terjadi. Tetapi firman-Nya mengingatkan kita bahwa tidak semua yang gelap berarti Allah tidak hadir, dan tidak semua penderitaan berarti rencana Allah gagal. Justru sering kali, pada saat yang paling gelap, Allah sedang bekerja pada lapisan yang paling dalam.
Beberapa pelajaran penting yang bisa kita pegang dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Pertama, jangan cepat menilai keadaan. Kadang kita langsung berpikir, “Ini buruk, Tuhan tidak peduli, Tuhan meninggalkan saya.” Padahal sejatinya itu bisa jadi merupakan bagian dari proses yang belum selesai. Mari kita belajar untuk melihat hidup dengan iman, bukan hanya dengan perasaan.
Kedua, tetap taat walau tidak mengerti. Sering kali, ketika kita menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan—terlebih saat melihat penderitaan akibat ketidakadilan di sekitar kita—muncul pertanyaan: mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Namun justru dalam situasi seperti itulah Allah mengajar kita untuk memercayai-Nya sepenuhnya, tanpa menyisakan kecurigaan sedikit pun. Ia adalah Pribadi yang layak untuk diandalkan. Karena itu, tetaplah memiliki ketaatan, bahkan ketika untuk sementara kita belum memahami apa yang sedang terjadi. Ketiga, percaya bahwa Allah memegang kendali. Walaupun situasi terlihat kacau, ingatlah selalu bahwa Allah tetap bekerja dan memegang kendali atas seluruh hidup kita.
Matius 2:16 mengajarkan kita bahwa dunia ini memang tidak selalu adil. Akan ada masa-masa gelap, bahkan yang mendatangkan kengerian. Tetapi kisah ini juga mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah berhenti berkarya. Seperti pada zaman Musa, dan seperti pada zaman Yesus, hari ini pun Allah tetap bekerja.
Jadi ketika hidup terasa berat, ingatlah: Allah tidak pernah kalah oleh keadaan. Dia selalu memiliki rencana yang lebih besar. Tetaplah percaya, tetaplah berjalan. Karena di balik setiap kegelapan, Allah selalu menyiapkan terang-Nya.