Sejatinya, kelahiran Juru Selamat manusia seharusnya mendapat respons sukacita yang tiada tara. Namun, yang terjadi tidak selalu demikian. Jika orang-orang Majus bergembira melihat bintang-Nya di Timur, dan para gembala bersukacita melihat-Nya di palungan, hal itu tidak terjadi pada Herodes.
Matius 2:3 mencatat: “Ketika raja Herodes mendengar hal itu, terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.” Herodes dan seluruh Yerusalem menjadi terkejut, gelisah, dan terguncang ketika mendengar kabar dari para ahli dari Timur. Mengapa di satu sisi kelahiran Sang Juru Selamat disambut dengan sukacita, tetapi di sisi lain justru menimbulkan keterkejutan, kekacauan, bahkan keresahan di ibu kota Israel? Tentu karena rakyat Yerusalem sudah mengetahui watak atau temperamen Herodes, yang tentu tidak akan menyukai adanya “raja” tandingan. Pertumpahan darah menjadi hal yang mungkin terjadi demi mempertahankan kekuasaannya di atas takhta. Bagi Yerusalem, berita tentang kehadiran Mesias bukanlah tanda sukacita, melainkan ancaman yang dapat membawa malapetaka. Mereka berusaha menghindari dan menolak kemungkinan yang mematikan tersebut.
Peristiwa ini juga menggambarkan bahwa penolakan terhadap Tuhan Yesus justru datang dari umat-Nya sendiri, bukan dari bangsa-bangsa asing. Ini merupakan ironi yang sangat menyedihkan: Tuhan datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya menolak Dia. Kita pun sering terjebak dalam sikap yang sama. Kita bisa saja menolak Tuhan, bukan secara terang-terangan, tetapi melalui ketidaktaatan kita terhadap firman-Nya. Ketika kita tidak taat, sesungguhnya kita sedang menolak Tuhan. Kita yang telah diperlengkapi dengan hukum tertulis dan juga tuntunan Roh Kudus di dalam hati, terkadang justru melawan dan memadamkan suara hati nurani. Kiranya kita dijauhkan dari hati yang keras dan membatu seperti Herodes dan seluruh Yerusalem. Ketika kita mendengar firman, janganlah hati kita menjadi resah karena menolak, tetapi taatilah dengan setia, sebab kita adalah milik-Nya.
Kemunculan “imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi” (ay. 4) untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Matius. Dua kelompok ini muncul secara bersamaan. Dalam keseluruhan Injil Matius, kedua kelompok ini akan terus muncul, bahkan hampir selalu hadir dalam perjalanan hidup Tuhan Yesus. Namun, kehadiran mereka bukan untuk belajar atau menerima pengajaran-Nya, melainkan untuk menentang dan bahkan berusaha menyingkirkan-Nya.
Hal ini menjadi cermin bagi kita sebagai orang percaya: apa sebenarnya yang kita cari ketika mengikuti Tuhan Yesus? Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Dunia bukanlah rumah-Nya. Maka, jika kita mengikuti Tuhan dengan motivasi duniawi, kita sedang menjalani perjalanan hidup yang rendah nilainya.
Jika kita mengikut Tuhan, maka yang kita cari seharusnya adalah diri-Nya sendiri. Itu sudah lebih dari cukup. Tuhan adalah matahari kehidupan orang percaya. Firman Tuhan berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Seluruh perjalanan hidup orang percaya seharusnya diarahkan hanya kepada satu tujuan: Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, bukan kepada hal-hal lain. Niscaya, semua kebutuhan duniawi akan ditambahkan tanpa kekurangan. Bahkan Kerajaan Allah telah dipersiapkan untuk dimasuki oleh orang-orang yang mengasihi-Nya.
Yohanes 14:1 berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Tuhan Yesus menghendaki agar kita tidak hidup dalam kegelisahan atas apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita. Seperti Tuhan Yesus hadir di Betlehem, demikian pula Ia hadir di tempat kita berada hari ini. Bahkan, Ia hadir di dalam hati kita. Seharusnya, kehadiran-Nya membawa sukacita, damai, dan sejahtera—bukan keresahan, bukan kegelisahan, apalagi ketakutan.