Narasi Matius 2:1-12 merupakan perikop pertama yang membawa Tuhan Yesus Kristus keluar dari lingkaran keluarga ke dalam arena konfrontasi langsung dengan dunia—dunia dengan segala dinamikanya yang harus dihadapi dan tidak bisa dihindari.
Jika kita membaca Matius pasal 1 yang menceritakan siapa Yesus Kristus melalui pengenalan identitas-Nya, silsilah-Nya, nama, dan misi-Nya, maka pada pasal 2 lebih memaparkan bagaimana dunia merespons kehadiran-Nya—dunia yang telah diciptakan oleh Bapa-Nya, tetapi telah jatuh dan terkutuk (Kej. 3:17).
Respons dunia terhadap kehadiran-Nya terpolarisasi menjadi dua: ada yang datang untuk menyembah-Nya, dan ada yang berkeinginan untuk membunuh-Nya. Ketegangan ini bukan sekadar drama atau alur cerita, melainkan tema teologis yang terus bergema sepanjang Injil Matius hingga mencapai puncaknya di kayu salib. Dari Betlehem, tempat kelahiran-Nya, menuju Mesir sebagai tempat pengasingan, kembali ke Nazaret, hingga akhirnya berujung di bukit Golgota.
Perjalanan hidup Tuhan Yesus untuk memenuhi “takdir” ilahi dijalani dengan setia—Ia tidak pernah menghindar, bahkan sejengkal pun. Ia membuktikan ketaatan terhadap blueprint atau rencana Allah yang harus Ia emban. Kesetiaan yang telah diuji, sedang diuji, dan akan terus diuji. Demikian pula dengan orang-orang percaya. Kita pun harus membuktikan ketaatan kepada Allah melalui berbagai peristiwa kehidupan. Kehidupan menawarkan banyak hal: keindahan, kemakmuran, dan keberkahan. Pertanyaannya, apakah kita akan terikat kepada dunia dan terlepas dari Tuhan, atau justru semakin terikat kepada-Nya? Ini bukan soal takdir yang sudah ditentukan, melainkan sebuah pilihan yang harus diambil dan dijalani.
Matius menulis kota Betlehem secara sangat spesifik, dan ini bukan kebetulan. Betlehem adalah kota Daud, tempat ia diurapi oleh Samuel, serta tempat yang dalam tradisi Yahudi dikaitkan dengan kelahiran Mesias (Mi. 5:2). Dengan menyebut Betlehem, Matius sedang menyalakan kembali terang nubuat, mengingatkan pembaca bahwa kelahiran Yesus adalah penggenapan rencana ilahi yang telah dipersiapkan sejak lama. Dengan demikian, Allah telah merancang kehidupan orang-orang percaya sejak dahulu kala—rancangan yang baik, aman, dan sejahtera. Namun, sering kali manusia memilih jalannya sendiri, keluar dari rancangan Allah, dan jatuh ke dalam kehancuran. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem, Allah menyatakan kasih-Nya dan membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya.
Orang-orang Majus, dalam konteks Yahudi-Romawi, merujuk pada para ahli dari Timur—kemungkinan dari Persia atau Babilonia—yang menguasai astronomi, astrologi, penafsiran mimpi, dan hikmat kuno. Mereka bukan orang Yahudi, melainkan bangsa asing. Namun justru mereka datang untuk menyembah Yesus.
Di sini kita melihat sesuatu yang luar biasa: Allah dapat memakai pengetahuan manusia untuk membawa seseorang bertemu dengan-Nya, bahkan bagi mereka yang berada di luar umat pilihan. Tuhan tidak eksklusif bagi satu bangsa, tetapi terbuka bagi semua orang, dari segala latar belakang. Bahkan para gembala—yang dianggap marjinal—mendapatkan kesempatan istimewa untuk bertemu dengan-Nya.
Kita adalah orang-orang yang berharga di hadapan Tuhan. Seperti Ia menerima orang-orang Majus dari Timur, Ia pun menerima kita dari berbagai “arah”. Orang-orang Majus mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur—bukan sebagai syarat untuk bertemu dengan Tuhan, melainkan sebagai respons penyembahan. Dalam konteks masa kini, Tuhan meminta agar kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: dan itu adalah ibadah dan persembahan yang sejati (Rm. 12:1).